True Story
Kisah Sejati: Mengatasi Perbedaan Pendapat Demi Kesembuhan Anak dari Penyakit Langka

26 Dec 2017


Foto: 123RF

Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya terkena penyakit karena faktor genetis. Tapi, penyakit jenis ini memang tak bisa terhindarkan, apalagi jika masing-masing dari pasangan menjadi carrier, seperti dalam kasus penyakit talasemia. Naik turun kehidupan berumah tangga dirasakan oleh dua pasangan berikut ini, yang harus menghadapi kenyataan anak mereka menderita penyakit genetis. Kepada femina, Ninik Herowaty Petak berbagi cerita yang dapat menginspirasi.           

“Sebenarnya, sejak Una berumur 1 tahun 8 bulan, ia sudah menjalani operasi pemasangan balon di paru-parunya. Paru-paru Una terdeteksi kecil sebelah, sehingga harus diberikan balon yang akan memompakan gelembung-gelembung untuk memperbesar rongga paru-parunya,” ujar Niniek, yang berpisah dari mantan suaminya, saat anak bungsunya tersebut berusia 3 bulan.      
     
Meski telah menjalani operasi, tumbuh kembang Una tak kunjung maksimal, terutama berat tubuhnya yang tidak seperti anak seusianya. Niniek pun kembali membawa Una untuk pemeriksaan lanjutan dan melakukan berbagai observasi. “Selain pertumbuhannya yang lambat, dia juga tidak bisa menahan buang air kecil, dan jika mengalami luka, lama sembuhnya,” cerita Niniek.

Tahun 2015, Una didiagnosis menderita penyakit diabetes tipe 1, yaitu diabetes karena faktor keturunan. “Turunan dari ayahnya. Saat itu usianya masih 4 tahun 2 bulan, dia harus menjalankan serangkaian tes, termasuk cek gula darah,” katanya. Bahkan, karena gula darah Una yang tinggi saat itu, ia sampai harus tinggal di rumah sakit di Singapura selama 4 bulan dan menjalani operasi pemasangan alat insulin untuk menetralisasi gula darah.

Menjadi orang tua tunggal untuk tiga anak dengan salah satunya menderita diabetes tipe 1, Niniek harus benar-benar kuat dan mandiri. Ia juga harus mampu mengambil keputusan dengan cepat untuk segala hal yang terjadi. Hingga kesendirian Niniek berakhir dua tahun lalu, ketika ia memutuskan untuk menikah dengan Deni Andrian (43), suaminya kini.

“Begitu saya memutuskan untuk menikah dengan segala ‘bawaan’ saya, apa pun yang terjadi, saya harus mengutamakan anak-anak. Jadi, sejak awal sudah saya ceritakan kondisi Una. Saya perlihatkan pula foto-fotonya saat dia dirawat. Waktu itu Deni memuji perjuangan saya dan sangat men-support kondisi saya ini, hingga akhirnya kami menikah,” ceritanya.

Setelah menikah lagi, Niniek mengaku beban besar di pundaknya kini bisa ia bagi dengan orang lain. Apalagi ketiga anaknya cepat dekat dengan sosok ayah baru mereka, termasuk Una. “Walaupun suami harus kerja jauh di Papua sebagai pilot,  komunikasi dengan anak-anak sangat lancar. Bahkan bisa dibilang mereka jauh lebih mudah diberi tahu oleh ayahnya, ketimbang saya,” ceritanya, bangga.

Sempat lama sendiri, Niniek mengaku menjadi sosok yang sangat mandiri. Hal tersebut sempat dikomplain suaminya.  “Menurut suami, saya jadi kurang menghargai pendapat dia, terutama jika menyangkut Una,” katanya, tersenyum.

Niniek pun mengenang, bagaimana  ia dan suaminya di awal pernikahan mereka sempat beradu argumentasi soal kesehatan Una. “Tiba-tiba ada orang lain yang memberikan pendapatnya tentang Una, saya sempat tidak bisa menerima,” ungkap Niniek.  

Salah satu topik yang sering memicu perdebatan adalah tentang bagaimana cara memberi tahu Una mengenai kondisi kesehatannya. Selama ini Niniek tidak pernah menceritakan kondisi Una yang sesungguhnya. Ia hanya membuat aturan agar anaknya itu bisa menerapkan makan sehat dan mengurangi konsumsi gula seperti permen dan makanan manis lainnya. Sementara sang suami memiliki pendapat berbeda, ia justru menyarankan agar Una mengetahui kondisi tubuhnya yang sebenarnya dan bagaimana dampaknya jika ia tidak menjaga pola makan.

“Setelah saya pikirkan dan pertimbangkan, ada benarnya juga apa yang  ia sampaikan. Caranya menyampaikan dan semua argumen yang ia berikan berhasil meyakinkan saya. Tadinya saya tidak tega. Sekarang, perlahan-lahan kami mulai memberi pemahaman kepada Una tentang kondisinya, sesuai usianya. Terbukti, ia menjadi  makin sadar  untuk menghindari makanan yang manis-manis,” katanya.

Memiliki anggota keluarga yang perlu diperhatikan kesehatannya membuat Niniek dan suami  juga menerapkan pola hidup sehat untuk keluarganya. “Sekarang ini kami sekeluarga sudah menjauhi minuman manis. Untuk teh, kami menyiapkan teh tawar di rumah. Penggunaan gula sangat kami batasi,” katanya.

Menyadari hubungan pernikahannya yang baru berusia dua tahun, Niniek pun selalu menyiapkan waktu untuk berduaan. “Kalau sudah di rumah,
kami pasti disibukkan oleh urusan anak-anak. Sudah menjadi kebiasaan, kalau suami pulang dari Papua, saya akan menjemputnya di Jakarta sebelum pulang ke Pemalang. Di Jakarta kami bisa menghabiskan waktu berduaan saja. Dua hari pun cukup, sebelum ayahnya kembali menjadi milik anak-anak,” kata Niniek, tersenyum.(f)

Baca juga:  
Kisah Haru Pelari Eni Rosita Selepas Tragedi Disiram Air Keras oleh Orang Tak Dikenal
Perjuangan Muhammad Fahri Assidiq Kecil Bertahan Hidup dengan Penyakit Kelainan Tulang
Hidup Vicky Antony Sugiarta dengan Autisme dan Pergulatannya Menyongsong Masa Depan


Faunda Liswijayanti


Topic

#kesembuhananak, #kisahsejati

 

polling
Resolusi 2019

Prioritas yang ingin dicapai tahun iniSudah masuk tahun 2019, nih. Tentu sudah ada rencana dan resolusi yang ingin Anda capai.