True Story
Hidup Vicky Antony Sugiarta dengan Autisme dan Pergulatannya Menyongsong Masa Depan

10 May 2017


Foto: Dok. Pribadi


Air mata keharuan dan bangga meleleh di pipi Angela Musalim (52) saat menyaksikan putranya, Vicky Antony Sugiarta (21), berjalan di atas runway, diiringi langkah delapan model yang mengenakan kemeja batik rancangan Vicky. Ketakutannya selama ini mulai terjawab. Autisme tidak menjadi lorong gelap tak berujung bagi masa depan Vicky. Kondisi ini hanya menjelaskan bahwa ada 1001 cara untuk meraih impian dan cita-cita bagi anak-anak berkebutuhan khusus seperti putranya. Kepada femina, ia mengisahkan pergulatannya mengantar Vicky menyongsong masa depan yang tak kalah gemilang!
 
UPAYAKAN SEGALA CARA
Ketika mengandung Vicky, saya dan suami, Antony Sugiarta (53), mengharapkan anak perempuan. Sebab, dua anak  kami sebelumnya adalah laki-laki, yaitu Nicky (26) dan Ricky (25). Namun, begitu Vicky lahir, kami menyambutnya dengan penuh syukur, terutama saat menyaksikan ia tumbuh menjadi bocah yang lucu dan doyan mengoceh. Hanya, ini semua tak berlangsung lama.

Di usia 1 tahun 7 bulan, saya menangkap ada keganjilan dalam perilakunya. Vicky yang biasanya senang mengoceh, tiba-tiba berhenti bicara sama sekali. Saya kebingungan. Apa yang membuatnya diam seribu bahasa? Kami lalu berkonsultasi kepada dokter. Menurut neurolog yang kami temui, ada dua kemungkinan yang melatari perubahan perilaku Vicky, yaitu gejala autisme atau hiperaktif.

Sewaktu kecil, Vicky memang tidak bisa diam. Tangannya selalu menggeratak, kakinya melangkah ke sana kemari, mondar-mandir seperti setrikaan. Sesuai saran neurolog, kami lalu membawa Vicky terapi. Psikolog di tempat terapilah yang pertama kali menyatakan bahwa Vicky autisme. Mendengar kata autis, sekujur tubuh saya langsung lemas, hati saya hancur. Malam hari, sambil menangis, saya pandangi tubuh mungilnya ketika dia terlelap. Ya, Tuhan, apa yang harus saya lakukan?

Karena ingin Vicky bisa tumbuh seperti anak-anak lainnya, saya rutin mengajak dia terapi. Pertama kalinya, Vicky menjalani terapi ABA (applied behavior analysis). Dalam terapi ini, Vicky harus duduk di depan meja yang bagian tepinya didesain khusus membingkai tempat duduk Vicky. Kemudian, meja tersebut didorong hingga merapat dengan dinding, sehingga Vikcy tetap diam di tempat. Dalam kondisi inilah Vicky belajar. Ia menjalani latihan seperti mencocokkan gambar atau mengenal buah dan binatang.

Pada awal terapi, dia sering menolak dan memberontak. Saya yang melihatnya dari kejauhan cuma bisa menangis. Namun, menurut terapisnya, cara ini penting untuk membentuk sikap dan perilaku Vicky. Benar saja, sekitar empat atau enam bulan terapi, suara Vicky sudah bisa keluar. Walaupun yang terdengar hanya ujung kata, bagi saya ini kemajuan pesat. Vicky lalu saya pindahkan ke tempat terapi wicara.

Di rumah pun, saya dan keluarga ikut mendorong Vicky berani berbicara. Tak masalah, walau yang terucap hanya akhir kalimatnya. Bila tidak, kami tidak akan memberi apa yang dia minta. Perjuangan kami melawan rasa kasihan saat ia kesulitan dan meronta dengan aturan ini pada akhirnya berbuah manis. Di usianya yang kedua tahun setengah, Vicky bisa mengucapkan satu kalimat penuh! Waaah, betapa lega dan bahagianya saya.

Segala daya dan upaya kami curahkan agar Vicky menjadi sama seperti anak-anak lainnya. Saya membawanya ke berbagai terapis. Di tempat terapi wicara saja, saya bekerja sama dengan tiga terapis. Tiap tiga bulan sekali, kami bertemu untuk mengevaluasi perkembangan Vicky dan apa lagi yang harus dilakukan untuk meningkatkan kemampuannya.  Jadwal harian Vicky sangat padat. Pagi hari, terapi wicara. Jelang sore, berlatih dengan guru privat di rumah. Malamnya, suster datang untuk melatih Vicky lagi.

Vicky harus menguasai hal-hal sekecil apa pun. Misalnya, sehabis mandi, ia harus tahu bagaimana cara mengeringkan tubuh dengan handuk. Ia harus bisa memakai baju, kaus kaki, dan sepatunya sendiri. Saya mau dia bisa melakukan apa saja, tanpa harus selalu dibantu. Selain terapi wicara, Vicky juga menjalani terapi sensori untuk meningkatkan fungsi motoriknya. Bahkan, tak hanya terapi, demi melihat Vicky tumbuh ‘normal’, pengobatan alternatif pun saya coba.

Pernah suatu kali, saya dan suami membawa Vicky ke suatu daerah sepi, entah di ujung Depok atau Bogor. Istilahnya, ‘tempat jin buang anak’. Kanan kiri sawah, dan untuk menuju ‘orang pintar’ ini kami harus berjalan melalui jalan setapak. Di sana Vicky diusapi dengan sebutir telur ayam mentah. Ketika telur itu dipecah, tampak kotoran di dalamnya. Suami yang sejak awal tak percaya pada pengobatan alternatif, menegaskan tak mau ke sana lagi.

Pernah juga, Vicky menjalani pengobatan ketok kaki. Kakinya dipijiat lalu diketok dengan palu kayu. Perubahannya memang terlihat, perilaku Vicky jadi lebih tenang. Tapi, karena tidak tahan dengan antrean pasien yang terlalu panjang, kami terpaksa stop di tengah jalan. Kasihan Vicky.

(Klik page di bawah untuk kelanjutan cerita)
 


Topic

#kisahsejati, #autisme, #anakberkebutuhankhusus

 

polling
Pertimbangan Dalam Memilih Kartu Kredit

Belakangan ini bank makin kreatif dan gencar dalam meluncurkan kartu kredit. Mereka pun bersaing memberikan berbagai fasilitas untuk menggaet pengguna baru.