True Story
Kisah Haru Pelari Eni Rosita Selepas Tragedi Disiram Air Keras oleh Orang Tak Dikenal

5 Oct 2017


Foto: Dok. Pribadi

Komunitas pelari Indonesia mengenal Eni Rosita (38) sebagai wanita pelari ultra marathon dengan sederet pencapaian yang tidak bisa dianggap sebelah mata. Tak ada yang menyangka, kecintaannya yang besar di cabang olahraga ini harus melalui perjalanan tragis.
 
Lima belas persen wajah dan kedua kakinya terbakar akibat siraman air keras yang dilakukan oleh orang tak dikenal, tepat saat ia sedang berlaga. Namun, Eni berhasil membalik tragedi ini menjadi lecutan untuk terus mencetak prestasi dan menginspirasi.
 
Awal April 2017 lalu, ia menjadi pemenang pertama lomba lari 320 kilometer Lintas Sumbawa. Kepada femina, ia membagikan kisah perjuangannya untuk bangkit.
 
Korban Iseng?
Peristiwa yang terjadi pada 8 Oktober 2016 itu akan terus melekat dalam sejarah hidup Eni. Hari itu, ia mengikuti lomba lari ultra trail marathon Mesastila Peak Challenge 2016 di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Setelah berlari melintasi trek Gunung Merapi dan menanjak melalui Gunung Merbabu, ia tiba di Desa Samiran, Kecamatan Selo, Boyolali, Jawa Tengah.
 
Malam itu desa disiram gerimis usai hujan deras. Waktu menunjukkan pukul 19.00 WIB. Ia berlari seorang diri, usai melewati pos panitia yang berjarak sekitar 3 km. Ia telah menempuh rute lari sekitar 60 km dalam guyuran hujan disertai badai, tubuhnya sangat kelelahan.
 
Tiba-tiba seorang pengendara sepeda motor tak dikenal menyiramkan sesuatu ke tubuhnya. Eni tak berpikiran macam-macam. Ia anggap hanya guyuran air biasa. Namun, segalanya berubah menjadi kengerian saat semenit kemudian Eni merasakan perih dan sakit di sekujur tubuhnya.
 
Rupanya, cairan yang ternyata air keras itu mulai bereaksi dan meluluhkan tas ransel serta pakaian yang dikenakannya. Dalam kepanikan, ia berteriak minta tolong. Tapi, tak ada yang mendengar. “Saya memaksakan diri berlari untuk mencari pertolongan,” ujarnya.
 
Beruntung, sekitar 500 meter kemudian ia menemukan rumah penduduk dan minta pertolongan. Secepat itu pula ia membuka atribut dan perlengkapan lari, seperti tas dan sepatu. Namun, di saat yang sama kulitnya mulai melepuh. Dengan bantuan pemilik rumah, ia diantar dengan mobil menuju pos panitia terdekat. Ia sempat dibawa ke puskesmas terdekat. Tapi, karena perlengkapan medis tidak memadai, ia akhirnya dibawa ke RSU Pandanaran, Boyolali, Jawa Tengah.
 
Jarak dari pos panitia menuju rumah sakit yang mencapai 25 km baru bisa ditempuh selama dua jam. Waktu penanganan yang lumayan lama membuat luka di tubuh Eni cukup parah. Cairan air keras itu telah menembus jaringan otot, membuat tubuhnya melepuh dan menghitam di beberapa tempat. “Saya memang masih bisa jalan, tapi sakitnya luar biasa,” katanya, ngeri.
 
Sebagian cairan tersebut telah masuk ke dalam jaringan lemah. Luka terparah berada di kaki kiri bagian belakang atau tengkuk. “Seingat saya, cairan mengenai punggung dan kaki. Namun, punggung tidak mengalami luka karena saya memakai backpack dan jaket. Hanya, tas saya hancur,” ungkap wanita yang kemudian memutuskan kembali ke Jakarta dan menjalani perawatan di Rumah Sakit Siloam Karawaci, Tangerang, Banten.
 
Banyak spekulasi dan kecurigaan yang melatari peristiwa nahas itu. Bahkan, hingga tulisan ini dibuat, pihak berwajib belum berhasil mengungkap identitas dan latar belakang pasti dari peristiwa penyiraman air keras tersebut.
 
“Mungkin pelaku adalah orang iseng yang tidak senang pada penyelenggaraan lomba lari yang saya ikuti,” pikir Eni, mencoba menyimpulkan.
 

Desiyusman Mendrofa


Topic

#TrueStory, #EniRosita, #Lari, #KisahSejati