Trending Topic
Hari Perdamaian Internasional 2017: Presiden Jokowi Ajak Perempuan Jadi Agen Perdamaian

11 Oct 2017

Foto: Rusman & Kris, Biro Pers Setpres

“Perdamaian tidak bisa dipaksakan, tapi harus ditumbuhkan. Karakter cinta damai inilah yang bisa ditumbuhkan oleh para ibu kepada anak-anaknya,” tegas Presiden RI Joko Widodo pada peringatan Hari Perdamaian Internasional, Minggu (8/10) lalu di Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Madura. Acara ini dihadiri oleh ratusan perempuan dari Jawa Barat (Bogor dan Depok), Jawa Tengah (Klaten, Sukoharjo dan Surakarta), dan Jawa Timur (Malang dan Sumenep).

Presiden juga didampingi oleh Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Gubernur Jawa Timur Soekarwo, Bupati Sumenep Busyro Karim, Direktur Regional UN Women Asia Pasifik Miwa Kato, dan Yenny Zannuba Wahid, Direktur Eksekutif Wahid Foundation, dan Pimpinan Pondok Pesantren Annuqayah,KH.  Abdul A’la.

Keragaman Indonesia yang terdiri dari 714 suku di 17.000 pulau dengan berbagai bahasa, budaya, adat istiadat dan agama menyimpan potensi gesekan jika tidak dikelola dengan baik. Presiden RI Joko Widodo mengajak para ulama sebagai teladan dan masyarakat, terutama para perempuan untuk menjadi agen perdamaian di tanah air. Presiden Jokowi juga menyaksikan ikrar damai dari perwakilan perempuan dari berbagai latar belakang komunitas yang menyatakan janji untuk berdaya dan menjadi agen perdamaian.

Riset Wahid Foundation mendapati adanya kaitan antara tingkat kemiskinan dengan ketegangan yang akhir-akhir ini terjadi di masyarakat, seperti maraknya aksi intoleran dan radikal. Sekitar 600 ribu jiwa pernah melakukan aksi radikalisme atas nama agama, dan jika dibiarkan sekitar 11 juta jiwa berpotensi melakukan aksi serupa bila ada kesempatan.

Dalam lingkup keluarga, hingga tingkat global, perempuan berperan penting sebagai juru damai konflik. “Kemungkinan terjadinya penyelesaian konflik dengan terlibatnya wanita akan meningkat dalam negosiasi perdamaian. Kampung Damai berusaha menciptakan lingkungan yang sehat untuk berdiskusi dan jika ada masalah, perempuan bisa menginisiasi dialog untuk mencari solusi bersama komunitasnya,” ujar Miwa Kato, Direktur Regional UN Women Asia Pasifik.

Kampung Damai merupakan program penguatan ekonomi keluarga yang menjangkau perempuan dari masyarakat marginal, sebuah kolaborasi antara Wahid Foundation dan UN Women Indonesia.  Para ibu yang tergabung dalam Koperasi Cinta Damai bisa mendapatkan akses dana untuk modal usaha kecil yang mereka rintis bersama kelompoknya. Misalnya, produksi keripik singkok dan camilan khas Sumenep serta jamu temulawak yang dilakukan oleh para ibu dari kelompok tani Sumbermakmur di Desa Payudan Gundang, Sumenep.

Selain pelatihan kewirausahaan dan pengelolaan keuangan sederhana, para ibu juga diberi ruang untuk berdiskusi rutin tentang peacebuilding bersama kelompok usahanya yang datang dari beragam latar belakang.

“Perempuan bisa tetap tinggal di rumah untuk mengasuh anaknya, namun bisa produktif lewat usaha kecil untuk membantu keuangan keluarga. Di sisi lain, para perempuan juga akan dibekali dengan kemampuan untuk menyebarkan nilai-nilai perdamaian dan toleransi agar tidak mudah terpancing provokasi dari orang-orang yang ingin menciptakan konflik di tengah masyarakat,” tutur Yenny Zannuba Wahid, Direktur Eksekutif Wahid Foundation.

Puncak kegiatan Hari Perdamaian Internasional sengaja dipusatkan di Sumenep yang selama ini telah  menunjukkan kerukunan antarwarga dan terkenal dengan sosok perempuan yang kuat. “Karakter perempuan Madura juga dikenal sebagai sosok yang ulet, pekerja keras, religius, mandiri dan senang bergotong-royong,” tambah Yenny Wahid.

Kampung Damai yang hadir di Sumenep terbilang unik. Sumenep mewakili wilayah Jawa Timur yang memiliki budaya santri yang kental. Pondok Pesantren Annuqayah di Guluk-Guluk merupakan salah satu pesantren tertua di Jawa Timur. Pesantren ini didirikan oleh K.H. Moh. Syarqawi pada tahun 1887 dan kini memiliki lebih dari 8000 santri dan santriwati didik dari taman kanak-kanak hingga tingkat universitas yang mengedepankan pendidikan untuk perempuan.

“Pada dasarnya, setiap wanita memiliki hak dan bisa berpartisipasi sebagai warga Indonesia sepenuhnya di manapun mereka berada, termasuk di wilayah pesantren. Kampung Damai juga melakukan penguatan akses informasi agar perempuan bisa mengambil keputusan dan mengakses pilihan yang lebih baik, untuk dirinya dan untuk anak-anaknya,” papar Lily Puspasari, Programme Specialist UN Women Indonesia. (f)
 
Baca juga:
Pengaruh Konflik Politik Pilkada yang Tidak Toleran Pada Perilaku Anak
Mencari Akar Pemicu Sikap Intoleran di Indonesia
Kelas Menengah Tidak Toleran?

Rahma Wulandari


Topic

#toleransi, #jokowi, #jokowidodo