Trending Topic
Perjalanan Munira Ahmed, Dari Women’s March Hingga Perlawanan Terhadap Politik Identitas

4 Mar 2017


Foto: AFP, The Amplifier Foundation ( Ridwan Adhami, Shepard Fairey )
 
Masih ingatkah Anda pada poster bergambar wajah seorang wanita berdarah Bangladesh- Amerika mengenakan hijab bendera Amerika Serikat? Poster itu sangat populer setelah muncul di Women’s March di Washington DC dan berbagai kota besar di Amerika Serikat, Januari lalu.
 
Aksi protes atas terpilihnya Donald Trump sebagai presiden AS yang diikuti jutaan orang—dan tidak hanya wanita—itu berlangsung tepat sehari setelah pelantikan presiden (21/1). Aksi serupa sebagai solidaritas terhadap Women’s March di AS juga berlangsung di London, Paris, Sydney, Cape Town, Dublin, Toronto dan kota-kota dunia lainnya. Diperkirakan total ada sekitar 4juta orang mengikuti aksi menentang Trump yang dikenal intoleran dan mengancam hak-hak asasi manusia.
 
Di Indonesia, Women’s March atau Parade Perempuan Bersatu akan berlangsung pada Sabtu, (4/3) di depan Istana Negara, Jakarta. Aksi ini dilakukan oleh 33 institusi seperti lembaga perempuan, hak asasi manusia dan lingkungan sebagai bentuk solidaritas dan keberpihakan pada gerakan perlawanan atas pelanggaran yang terjadi baik terkait isu fasisme, intoleransi, diskriminasi berbasis SARA dan sentimen atau opini publik yang anti-imigran.
 
Berawal dari Sentimen Anti-Muslim
 
Wajah di poster Women’s March itu adalah Munira Ahmed (32), seorang pekerja lepas asal Queens. Orang tuanya menetap di area Jamaica, Queens setelah pindah dari Bangladesh pada akhir 1970an. Sebagai sulung dari dua bersaudara, Munira mengaku sangat dekat dengan adik perempuannya. Ayahnya seorang apoteker. Sempat berkarier sebagai agen perjalanan, kini ibunya menjadi seorang aktivis dan pemimpin komunitas.
 
Munira mengaku kerap menghadapi perlakuan diskriminatif bahkan sebelum pemilu era Trump. “Kini, diskriminasi yang rutin terjadi pada saya adalah setiap kembali dari luar negeri. Meski saya pemegang paspor Amerika yang jelas menyatakan saya lahir di sini, saya tetap ditanyai lebih banyak di meja imigrasi. Saya yakin, itu pasti karena nama saya Munira Ahmed,” kisah Munira pada AlArabiya English.
 
Suatu kali, ia sedang di bus dan seorang wanita sengaja mengobrol dengan suara keras dan menyinggung tentang Munira sebagai imigran kepada rekannya. “Saat sadar yang dia maksud adalah saya, saya berkata, ‘Tolong jaga ucapanmu,’ hanya untuk memberi tahu bahwa saya mendengarkan mereka. Dan wanita itu berkata, 'Pulanglah kembali ke negaramu.' Saya menjawab dengan penuh amarah, ‘Saya lahir di sini.'”
 
“Banyak perkembangan yang terjadi pada bangsa ini juga karena imigran, jadi ide Trump untuk melarang Muslim di negeri ini sangat absurd. Amerika hebat karena pluralisme. Banyak warga negara lain yang iri dengan keberagaman di sini,” tambah Munira.
 
Akhir Januari lalu, Presiden Trump menandatangani perintah eksekutif yang menghentikan program pengungsi dan melarang masuk warga dari tujuh negara berpenduduk mayoritas Islam, yaitu Iran, Irak, Libya, Somalia, Sudan, Suriah dan Yaman. Kebijakan imigran itu menuai aksi protes dari masyarakat dan kritik dari pemerintah dunia. Pekan lalu (28/2), kabarnya Trump akan segera mencabut Irak dari daftar tersebut untuk memuluskan misi AS memerangi ISIS.
 
Kebangkitan populisme kanan yang sedang terjadi seperti di Eropa dan Amerika Serikat saat ini sempat diulas dalam seminar Indonesia dan Bangkitnya Populisme dalam Politik Global di Dies Natalis STF Driyarkara, pada Sabtu, (25/2) lalu.
 
F. Budi Hardiman mengatakan, tipe solidaritas yang digaungkan oleh populisme kanan adalah solidaritas bangsa atau umat dan memunculkan konflik politik identitas. Salah satunya, penolakan terhadap imigran Muslim, kaum minoritas Kristen, warga dari ras lain atau negara asing yang dituding mengurangi lapangan kerja warga. Di Eropa dan Amerika Serikat, globalisasi dituduh memperlemah kedaulatan negara dan dianggap sebagai biang keladi masalah terorisme dan pengungsian.
 
“Bagi kaum populis, universalisme nilai-nilai dan globalisasi justru mengaburkan identitas mereka,” ujar Luthfi Assyaukanie, pendiri Qureta. Kaum populis tidak serta merta lahir dari tokoh yang merakyat, salah satunya Presiden Amerika Serikat, Donald Trump yang berasal dari kalangan elite. Pidato pelantikan Trump mewakili sikap populis kanan yang sedang bangkit dewasa ini.
 
Simbol Protes Sekaligus Harapan
 
Poster wajah Munira itu dibuat oleh Shepard Fairey untuk proyek We The People dari Amplifier Foundation. Seniman ini sebelumnya terkenal dengan karya ikonik ‘Hope’ dalam kampanye Barack Obama. Selain poster dengan wajah Munira, Shepard juga menampilkan poster seorang anak berkulit hitam dan seorang wanita Latin yang dilengkapi dengan slogan: “Women are Perfect” dan “Defend Dignity.”
 
“Rasanya surreal. Saya tak tahu kalau foto saya akan ada di mana-mana dan sebanyak itu,” ujar Munira tentang poster dirinya yang dibawa dibawa oleh ribuan pelaku aksi protes. Materi poster bisa diunduh secara gratis untuk dicetak sepekan sebelum pelantikan Presiden Trump. Poster itu juga terbit sebagai iklan satu halaman penuh di beberapa harian nasional AS, termasuk di The New York Times dan Washington Post pada hari pelantikan Trump.
 
“Saya orang Amerika dan saya Muslim, dan saya sangat bangga dengan kedua identitas itu,” tegas Munira yang ikut turun ke jalan saat aksi di Washington. Beberapa peserta aksi yang mengenali wajahnya sempat menyapa dan bertanya, sejak kapan ia membuka hijabnya. “Saya katakan, saya memang tidak mengenakan hijab.”
 
Aslinya, Munira memang tidak mengenakan hijab seperti di poster. Saat ditawari untuk difoto dengan hijab yang identik dengan identitas Muslim, ia tidak keberatan. “Saya ingin orang memandang bahwa kita bisa saja sosok yang tidak sempurna, punya banyak kelemahan, mungkin kadang juga tak tahan untuk tidak memaki, atau menjadi bintang film, dan kita masih tetap seorang Muslim. Kami bukan sekadar sosok di karikatur, kami adalah sosok yang nyata.”
 
Foto itu diambil pada tahun 2007 oleh fotografer Ridwan Adhami untuk cover majalah Illume, sebuah majalah yang membahas berbagai isu komunitas Muslim di Amerika. Cover saat itu ingin menampilkan isu meningkatnya sentimen anti-Muslim pasca serangan teroris 9/11. Lokasi foto tepat di depan bangunan Bursa Efek New York dan saat itu ada sebuah bendera Amerika di depannya.
 
Pesan awal yang ingin disampaikan foto itu serupa dengan poster Shepard, apa rasanya menjadi Muslim sekaligus warga Amerika saat Amerika Serikat sedang terkait konfllik dengan banyak negara Muslim? Setiap kali pertanyaan tentang patriotisme Muslim muncul, Ridwan kembali memposting foto Munira di media sosial dan kerap digunakan untuk kebutuhan editorial. Foto itu kian dikenal dan pesannya identik dengan pesan tentang identitas hingga Amplifier Foundation tertarik untuk menggunakannya sebagai materi kampanye proyek We The People.
 
Menurut Fairey, sang pembuat poster, gambar Munira berbalut hijab bermotif bendera Amerika menyampaikan pesan yang sangat kuat. “Itu mengingatkan orang bahwa kebebasan beragama merupakan prinsip dasar AS dan ada sejarah tentang penerimaan orang-orang yang datang ke Amerika dan mengalami masalah agama di negara asal mereka.”
 
Munira merasa foto itu kini bermakna jauh lebih besar. “Foto itu telah menjadi simbol baru untuk sebuah kemajuan, dukungan untuk sebuah harapan, dan inklusi.”
 
Ridwan memang sengaja memilih Munira sebagai model karena ingin menampilkan wanita berkulit cokelat dan tidak menampilkan kecantikan versi Eropa. Pesan foto ini sangat tegas, ‘Saya seorang Muslim dan seorang Amerika. Ini dua identitas yang tidak terpisahkan, dan tidak eksklusif satu sama lain. Anda bisa memiliki keduanya dan merasa sama bangganya.’
 
“Saya hanya ingin membuat karya yang bercerita tentang diri kami, Muslim Amerika. Dan ternyata satu dekade kemudian, pesan ini kembali relevan,” tegas Ridwan. (f)
 
(Sumber: BBC/The Guardian/AlArabiya/Slate)
 
Baca juga:
Donald Trump, Sosok Kontroversial yang Akan Memimpin Amerika Serikat
Protes Wanita Dunia Terhadap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump
Video Pilihan Editor Femina Pekan Ini: Pidato Terakhir Michelle Obama Sebagai Ibu Negara Amerika Serikat

Rahma Wulandari


Topic

#WomensMarch, #PerempuanBersatu, #GerakanPerempuan

 

polling
Resolusi 2019

Prioritas yang ingin dicapai tahun iniSudah masuk tahun 2019, nih. Tentu sudah ada rencana dan resolusi yang ingin Anda capai.