Trending Topic
Pelecehan Di Tempat Kerja, Bisa Dilakukan Siapapun Dan Menimpa Siapapun

31 Dec 2018


Foto: Pexels
 
Di penghujung tahun 2018 lagi-lagi berita tentang pelecehan seksual terjadi. Di tengah kesedihan bencana tsunami akibat erupsi anak Gunung Krakatau yang melanda Pantai Tanjung Lesung, muncul berita mengenai dugaan perkosaan yang terjadi di Badan Peyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJS-TK). Terduga pelaku, SAB, adalah anggota Dewan Pengawas BPJS-TK yang melecehkan mantan sekretaris pribadinya.
 
Kepada media, terduga korban mengatakan bahwa ia empat kali dipaksa melakukan hubungan seksual, antara lain saat keduanya sedang dinas di Pontianak, Jakarta, Makassar dan Bandung.
 
Hidup di tengah masyarakat yang patriakhis, wanita selalu rawan menjadi korban pelecehan seksual. Tak peduli zaman sudah berganti, maupun di kalangan tingkat pendidikan tinggi yang bisa diasumsikan bebas perlakuan seksis. Nyatanya, kelas sosial maupun tingkat pendidikan tidak berkorelasi dengan tindakan pelecehan seksual.
 
Ya, bila merunut ke belakang, pelecehan seksual di tempat kerja memang kerap terjadi. Anda tentu masih ingat pelecehan yang dialami pramugari maskapai Garuda Indonesia rute Jakarta-Yogyakarta yang menjadi viral saat diunggah oleh salah satu penumpang di akun facebook-nya dua tahun lalu.
 
Sore ini di Flight GA 216, ketika pramugari menawarkan minuman, penumpang di depanku memesan susu. Kemudian penumpang di sebelahnya menimpali susu kanan atau kiri. Percakapan selanjutnya gak jelas dan mereka berdua ketawa2. Si pramugari ga terima dan perkara berbuntut panjang. Penumpang diinterogasi kru pesawat selama penerbangan. Dan ketika pesawat mendarat, pintu pesawat sudah dijaga sejumlah pengamanan bandara. Entah apa yang terjadi setelah itu. Guys, pramugari khususnya Garuda memang ramah, tapi jangan coba-coba bikin masalah terutama soal sexual harassment, or you’ll end up in trouble.
           
Media massa kemudian juga memberitakan kasus ‘gurauan tak lucu’ yang berbuntut panjang ini. Lengkap dengan foto-foto pelaku yang sedang menjalani pemeriksaan. Diberitakan, setelah pemeriksaan masalah, si penumpang mengakui kesalahannya dan menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya.
 
Menanggapi persoalan ini manajemen Garuda Indonesia mengirimkan rilis ke media yang menyesalkan kejadian tersebut, karena bagaimana pun pramugari itu sedang menjalankan tugas profesinalnya. “Tolong jangan artikan keramahan kami dengan sembarangan,” demikian kata VP Corporate Communication Garuda Indonesia Benny S. Sidabutar dalam rilisnya.
 
Yang lebih penting dari peristiwa ini adalah semacam kesadaran publik, bahwa pelecehan masih kerap terjadi di dunia kerja. Bahwa wanita yang menjalani tugas profesionalnya pun harus menghadapi hal-hal yang tidak menyenangkan. Dan bila melihat data, pelecehan yang dialami pramugari Garuda atau karyawan BPJS-TK  itu sebenarnya hanyalah pucuk gunung es.
 
Data dari Komnas Perempuan (2012) menyebutkan, di antara 216.156 kasus kekerasan seksual yang terjadi di Indonesia, 12 persennya dialami oleh tenaga kerja wanita. Pelecehan bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk orang-orang berpendidikan tinggi yang diasumsikan lebih paham kesetaraan dan tidak berperilaku seksis.
 
Seperti yang dialami Istiqomatul Hayati, wartawan media ternama nasional. Isti, demikian panggilan akrabnya, pernah dilecehkan secara verbal oleh seorang direktur perusahaan transportasi BUMN dengan kata-kata cabul saat sedang wawancara. Waktu itu Isti bertanya mengenai kebijakan sang pejabat untuk menekan angka kecelakaan.
 
Isti merasa pertanyaannya wajar, namun si pejabat mungkin tidak suka dengan pertanyaan itu, atau mungkin bosan. Tiba-tiba, si pejabat bilang, “Sudah ah. Aku capek. Aku mau begini (ibu jari diselipkan di antara telunjuk dan jari tengah). Enak lho begini. Kamu pasti belum tahu rasanya begini,” katanya seraya beringsut. Pejabat lain yang menyertai sang direktur pada tertawa.
 
Dewi Candraningrum, dari Jurnal Perempuan membenarkan, bahwa tidak ada kaitan perspektif adil gender dengan tingkat pendidikan maupun kelas sosial seseorang. “Walaupun dia seorang profesor misalnya, tetapi bila tidak mendapatkan perspektif adil gender maka dia bisa tetap melakukan pelecehan seksual. Cukup banyak kan, profesor yang melakukan kejahatan seksual,” ujar Dewi.
 
Contoh lain adalah Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang terkenal sangat seksis (tindakan yang meremehkan atau menghina berkenaan dengan kelompok, gender atau individual) dan diskriminatif. Padahal, dia berasal dari kelas sosial atas.
 
Hal ini yang disebut Dewi, bahwa perilaku dan pemahaman seseorang akan kesetaraan tidak datang begitu saja.
 
“Seseorang setidaknya harus tumbuh dalam satu keluarga, komunitas dan masyarakat yang memperkenalkan sikap-sikap yang tidak seksis, tidak misoginis (kebencian atau tidak suka terhadap wanita dan anak perempuan-red) dan adil gender. Walaupun dia orang kaya dan berpendidikan tinggi, tapi bila tidak diajari adil gender, ya dia bisa saja melakukan pelecehan seksual,” ujar Dewi. (f)

Mengapa tindak pelecehan dikaitkan dengan kekuasaan? Baca artikel: Pelecehan Di Tempat Kerja: Korban Rawan Jadi Terdakwa


Yoseptin Pratiwi


Topic

#pelecehan, #pelecehanseksual