Trending Topic
Fakta Baru Tentang Terorisme Ini Membuat Orang Tua Harus Makin Waspada

17 May 2018

Foto: Pixabay

Terorisme selalu mencari-cari cara baru untuk meminang ‘pengantin’ atau sebutan untuk eksekutor bom bunuh diri. Jika sebelumnya wanita yang dipinang sebagai ‘pengantin’ lewat jalan pernikahan, menurut pengamatan Retno Listyarti, Komisioner Bidang Pendidikan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sekarang modus yang disasar oleh dalang terorisme adalah anak-anak.

Melihat kenyataan ini, maka sudah seharusnya kita waspada. Sebelum kejadian bom di Surabaya dan Sidoarjo, awal 2011 lalu terkuak adanya perekrutan 7 pelajar dari SMK Negeri 2 Klaten untuk dilibatkan dalam aksi terorisme. Empat orang masih berstatus pelajar dan sisanya sudah menjadi alumni.

Kelompok mereka diduga sebagai kelompok Azahari yang melakukan teror pada malam Natal tahun 2010 di delapan titik di tiga kota, yakni Yogyakarta, Solo, dan Klaten. Sasarannya adalah tempat umum seperti gereja, masjid, dan pos polisi.

“Karena sekarang pelajar rentan dijadikan target, maka sekolah pun harus waspada. Penyusupan radikalisme ini biasanya dibawa oleh alumni lewat kegiatan tutor-tutor kecil dalam ekstrakurikuler keagamaan di sekolah,” kata Retno.

Pendekatan mereka sangat individual. Strategi mereka membangun kepercayaan anak dulu. Jadi, setiap kebutuhan mereka akan dipenuhi. "Kalau ada yang butuh bimbingan belajar, maka si kakak alumni ini akan benar-benar membantunya dalam pelajaran. Jika butuh uang, akan diberikan. Jika butuhnya kasih sayang, maka si calon korban akan diberikan perhatian dan kasih sayang. Setelah mereka merasa dekat dan percaya, baru paham radikalisme itu disuntikkan,” ungkap Retno.

Untuk itu, Retno menghimbau agar sekolah pun bisa mengidentifikasi bibit-bibit radikalisme ini terhadap pelajarnya. Utamanya di sekolah-sekolah negeri yang diketahui lebih banyak terpapar paham radikalisme. “Salah satu tanda misalnya anak menolak untuk ikut upacara bendera,” ujarnya.

Menurutnya lagi, edukasi penanaman cinta negara dan paham anti radikalisme juga seharusnya tidak terbatas pada pelajaran Agama dan PKN saja. Tapi, juga pada ilmu Sosial. Karena ujaran kebencian dan radikalisme juga bisa disebar lewat media sosial.

Sayangnya, tidak hanya anak, sudah banyak juga guru-guru yang terpapar paham radikalisme ini. Misalnya saja di Banten, ada seorang guru yang ternyata banyak menyebar ajaran radikalisme lewat media sosial kepada murid-muridnya.

“Jika pengawasan dan pembinaan terhadap siswa harus dilakukan oleh sekolah, maka untuk tenaga pendidik, tanggung jawab pembinaan pada Kemendikbud. Radikalisme sudah menjadi ancaman serius di lingkungan pendidikan. Perlu kesiagaan semua pihak, termasuk orang tua,” tegas Retno. (f)
 
Baca Juga:
Wanita & Anak Masih Menjadi Alat Aksi Radikal, Apa Yang Harus Kita Waspadai?

Alissa Wahid: Membesarkan Generasi Toleran, Orang Tua Harus Pegang Tongkat Komando!
 
Sikapi Insiden Bom Surabaya dengan Bijak, Ini 5 Cara Ajarkan Toleransi Pada Anak

 


Topic

#sekolahaman, #terorisme, #pendidikan, #anak

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?