Profile
Namira Zania : Penari & Model Down Syndrome yang Buktikan Pengidap Disabilitas Intelektual Juga Bisa Berkarya

22 Jul 2019


Dok. Femina Media / Adelli Arifin



Stigma yang terpatri bagi mereka yang mengidap down syndrome adalah anak-anak yang tak bisa melakukan apapun. Para pengidap disabilitas intelektual ini kerap dianggap akan selalu bergantung pada orang lain. Tak memiliki harapan.

Tapi, segala tuduhan dan penilaian yang masih terasa kental di masyarakat kita saat ini, berhasil dihempas jauh oleh
Namira Zania (21), seorang penari dan model down syndrome.

Jangan menganggap bahwa titel tersebut sekadar main-main. Wanita yang mengaku senang dipanggil Adek ini sudah menjalani dua profesi tersebut secara profesional dan mendapatkan bayaran sejak tahun 2015 lalu.

Bahkan, Namira sudah pernah tampil di sejumlah ajang bergengsi dan bekerja sama dengan beberapa nama besar di industri hiburan, yang menambah panjang resume karier profesionalnya.

Wanita yang mulai menari sejak tahun 2013 ini sudah pernah tampil di videoklip musisi ternama seperti Tompi untuk lagu Semua Murid Semua Guru. Termasuk menari di ajang internasional seperti Asian Para Games 2018 yang diadakan di Jakarta dan Asian Youth Theater Festival 2018 di Singapura. Menariknya lagi, bahkan Namira sempat menjadi pelatih workshop untuk para partisipan saat acara Asian Youth Theater Festival berlangsung.

Ketika ditanya apakah sulit menjadi penari. Ia menjawab, “Kalau susah tinggal diulang lagi gerakannya. Kadang aku diajarin menari sama kakak sepupu, ada juga lagu yang aku nari sendiri (koreografi yang dibuat sendiri),” ceritanya yang kini juga menjadi asisten pelatih tari di Gigi Art Dance Studio di Jakarta, bersanding setara dengan pelatih-pelatih tari lainnya. Kini Namira juga tergabung dalam kelompok tari G-Star, dan menjadi satu-satunya tim tari dengan penyandang disabilitas di dalamnya.

 


Dok. Femina Media / Adelli Arifin



Sementara itu, karier modelingnya juga mulai merangkan naik. Setelah sebelumnya menjadi model untuk foto-foto komersial, kini ia merambah di industri mode tanah air dengan berlenggak-lenggok di catwalk Jakarta Fashion Week 2018 untuk koleksi karya Tatum O’Neil dan Sean Sheila dari British Council.

“Senang bisa jadi model. Muka jadi kelihatan cantik,” tuturnya singkat.

Menurut sang ibunda, Nini Andrini, yang menjadi kelebihan putri bungsunya ini adalah rasa percaya diri dan kemandiriannya yang tinggi.

“Menumbuhkan rasa percaya diri itu adalah dengan menerima mereka apa adanya,” ceritanya wanita yang akrab dipanggil Bunda Nini ini. 

Hal ini ia terapkan sejak kecil, kendatipun anaknya memiliki kondisi yang istimewa, Bunda Nini tak pernah membedakan Namira dengan kakak-kakaknya yang lain. Ia pun menanamkan pada putrinya tersebut bahwa ia bisa menjadi apapun yang ia inginkan.  

Bunda Nini berharap bahwa putrinya dapat menjadi salah satu agen perubahan yang mendobrak standar kecantikan saat ini.

“Yang dibutuhkan adalah kesempatan dan kepercayaan untuk mengubah pandangan kita terhadap para penyandang disabilitas, bahwa mereka juga cantik, mereka juga bisa melakukan banyak hal seperti kita orang normal pada umumnya,” harap sang ibunda. 

Namira akan menari di acara Menari dalam Stigma yang akan diadakan pada bulan November 2019, sebagai salah satu caranya mendobrak stigma terhadap pengidap down syndrome. (f)

BACA JUGA :

Madeline Stuart, Model Profesional Penyandang Down Syndrome di Fashion Week Dunia
Kartini dari Maumere: Menginisiasi PAUD untuk Anak Berkebutuhan Khusus
Kisah Isabella Springmuhl Menjadi Desainer Down Syndrome Pertama di London Fashion Week

 


Topic

#namirazania, #downsyndrome

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?