Agenda
Pementasan I La Galigo, Kembali ke Jakarta Setelah Berlayar di Panggung Dunia

26 Apr 2019


Dok: I La Galigo

Berlayar merupakan sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari tradisi dan kebudayaan masyarakat Sulawesi Selatan. Jauh sebelum lagu anak-anak berjudul Nenek Moyangku Seorang Pelaut, kegiatan maritim ini telah dituliskan sejak abad 14 dalam Sureq Galigo. Sureq Galigo atau La Galigo merupakan karya sastra Bugis kuno berbentuk puisi yang berisi tentang genesis orang Bugis dan filosofi kehidupan manusia dengan panjang naskah 300 ribu baris teks. Mengalahkan kisah Mahabharata yang terdiri dari 150 ribu - 200 ribu baris. Tokoh utama kisah ini, Sawerigading, berlayar bahkan hingga ke negeri Tiongkok untuk mempersunting seorang puteri, bernama We Cudaiq.
 
Sebagai karya sastra terpanjang di dunia, La Galigo telah diakui dan disahkan oleh UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) sebagai Memory of The World karena mengandung literatur dan ingatan kolektif dunia.
 
Adalah Rhoda Grauer yang mengetahui tentang Sureq Galigo kala ia melakukan penelitian kaum bissu di Sulawesi Selatan. Bissu merupakan kaum yang dipercaya sebagai titisan Dewata. Mereka bukan pria, bukan pula wanita. Kaum yang menjadi pemimpin spiritual dari era Bugis kuno.
 
Rhoda yang berprofesi sebagai penulis naskah dan sutradara serial televisi ini kemudian mengadaptasi fragmen-fragmen cerita Sureg Galigo, memilih, menyusun dan menuliskannya kembali menjadi satu kisah yang amat menarik di atas panggung. Diawali dengan cerita penciptaan dunia dan diakhiri dengan ditutupnya batas dunia atas dan dunia bawah sehingga manusia yang hidup di dunia tengah dapat hidup normal selayaknya manusia. Di tengah-tengahnya ada cerita-cerita, mulai dari kisah cinta yang tabu, peperangan dengan Kerajaan dari Tiongkok, sampai tipu daya yang diberkati dewata untuk menaklukan seorang perempuan. Kisah inilah yang dipentaskan dalam bentuk teater kontemporer dengan nama I La Galigo.


Dok: I La Galigo
 
Seperti akar budaya nenek moyangnya yang pelaut, I La Galigo yang pada tanggal 3, 5, 6, dan 7 Juli 2019 akan dipentaskan di Ciputra Artpreneur juga merupakan sebuah karya yang sudah berlayar jauh, sejak world premiere-nya di Esplanade, Theatres on The Bay, Singapura pada tahun 2004 lalu. Lakon yang disutradarai Robert Wilson ini sudah berlayar mengarungi setidaknya 9 negara dan 12 kota besar di dunia dengan pementasan terakhir di Nusa Dua Bali selama konferensi IMF 2018. Pementasan I La Galigo di Jakarta kali ini merupakan pementasan kali kedua setelah sebelumnya tampil selama tiga hari di panggung Teater Tanah Air, TMII pada tahun 2005.
 
Terpaut 14 tahun, I La Galigo kembali ‘berlayar’ ke Jakarta untuk diperkenalkan kembali pada generasi baru Indonesia terutama yang berdomisili di Jakarta. Bahwa ada pementasan Indonesia berkelas dunia dengan konsep cerita berdasarkan sebuah kitab kuno dari Bugis abad 14 yang selalu mendapat sambutan amat baik di setiap penampilan internasionalnya. Bahkan, termasuk salah satu iconic works Robert Wilson, dari berbagai karyanya selama puluhan tahun malang-melintang di panggung dunia.
 
Penataan cahaya menjadi bagian yang tidak terlepaskan dari pementasan I La Galigo, sehingga menjadi tontonan yang amat memukau mata. Rahayu Supanggah, salah satu komposer terbaik Indonesia juga akan mewarnai soundscape pementasan ini, menghidupkan penampilan rombongan musisi di atas panggung. Tidak berlebihan jika pementasan I La Galigo ini disebut sebagai sebuah maha karya.
           
Pertunjukan berdurasi dua jam ini menjadi bentuk pelestarian budaya Indonesia, membuka wawasan masyarakat modern agar tahu-sadar-ingat keragaman budaya, yang menjadi rujukan untuk menghargai toleransi terhadap perbedaan.
 
Tiket pertunjukkan I La Galigo dapat dibeli melalui www.ciputraartpreneur.com, Loket atau Go-Tix, dengan harga mulai dari Rp475.000. Ciputra Artpreneur memberikan diskon sebesar 20% untuk pembelian tiket selama periode 25 - 30 April 2019, dengan kode promo: PAYDAY20. (f)

Baca Juga: 
Melacak Jejak Bissu di Tiga Kota Bugis
Gejala Urban
Rindu Pertunjukan Seni Berkualitas



 

Faunda Liswijayanti


Topic

#pentasseni, #teater

 

polling
Resolusi 2019

Prioritas yang ingin dicapai tahun iniSudah masuk tahun 2019, nih. Tentu sudah ada rencana dan resolusi yang ingin Anda capai.