Fiction
Titi Wangsa [6]

29 Mar 2012

<<< Cerita Selanjutnya

Mereka bertatapan. Baru sekali ini mereka berdiri begitu dekat dan ia bisa leluasa mengagumi keelokan wajah Nicholas. Tangan Nicholas terulur, mengusap keringat, sekaligus merapikan poni di dahi Alex. Sementara sepasang mata cokelat itu menyapu matanya. Sesaat, ia mengira pria itu akan mendekat dan mencium bibirnya….

“Alex, aku ingin bertanya padamu. Jika engkau dihadapkan pada dua pilihan yang saling bertolak belakang, manakah yang akan kau pilih? Rasiomu atau suara hati kecilmu?” kata Nicholas tiba-tiba, tanpa memberi kesempatan Alexandra bersuara.

“Tergantung sekompleks apa masalahnya. Tapi, biasanya, pikiran hanya bisa menilai benar atau salah. Karena itu, aku lebih banyak mendengarkan suara hati kecilku.”

“Jika menyangkut cinta, manakah yang lebih kau kedepankan? Rasio atau hati kecilmu?” Kembali mata cokelat itu menyapu penuh rasa ingin tahu.

Alexandra tak mengerti hendak ke mana arah pembicaraan Nicho­las itu. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, ia dapat meraba bahwa Nicholas tengah berada dalam kebimbangan.

“Cinta? Setahuku, cinta itu memiliki dua unsur, yaitu rasio dan kata hati, yang harus dipenuhi. Sebab, bila hanya mengandalkan salah satu dari kedua unsur tersebut, bisa fatal akibatnya. Maka, ketika mencintai seseorang, kita tetap harus mempergunakan kedua unsur itu.”

“Jawabanmu normatif sekali, Nona!” ledek Nicholas.

“Aku belum selesai. Idealnya, seperti itu. Tetapi, nyatanya, aku tidak pernah bisa begitu. Aku selalu mengikuti kata hatiku dan jarang memakai rasioku. Akibatnya, yah… berkali-kali patah hati dan tertipu pria!” ujar Alex. Ingatannya melayang pada kisah cintanya yang telah berlalu.

“Alex, tahukah kamu bila hatiku telah terpaut padamu? Namun, rasioku melarangku, sebab…,” Nicholas memenggal kalimatnya sesaat. Ia terlihat berat untuk mengucapkannya. “Sebab, aku sudah punya tunangan di Jakarta. Ini pasti terdengar konyol dan gombal sekali di telingamu. Tapi, harus kuakui, nyatanya aku tidak mencintainya. Aku menerimanya menjadi tunanganku hanya karena pertimbangan-pertimbangan rasional semata. Karena dia anak atasanku dan ketika itu, aku pikir, tak ada salahnya belajar mencintai seseorang. Nyatanya, aku tak bisa.”

Alexandra terdiam mendengar pengakuan Nicholas barusan.

“Makin kulawan perasaan ini, justru tumbuh makin kuat. Beri aku waktu untuk menyelesaikannya. Oke?” suara Nicholas terde­ngar bak gemirisik dedaunan yang tertiup angin di telinganya.

“Nicholas, kau tak harus melakukannya. Biarkan aku yang pergi dari kehidupanmu,” kata Alex, menggeleng.
Entah mengapa mendadak ada rasa nyeri di dalam dadanya.Seperti ada sebuah paku raksasa yang dihujamkan ke hatinya.

Mereka saling tatap dalam hening.

“Bagaimana bila aku tak mengizinkanmu pergi dari hidupku?” bisik Nicholas. Kalimatnya mengapung di udara, di antara mereka berdua. Alex membiarkan bisikan itu menelusup ke dalam hatinya, memberinya rasa nyaman yang aneh.

Beberapa hari terakhir ini, ada bagian dari dirinya yang terasa kosong dan meninggalkan lubang sangat dalam, seperti bekas lubang galian pipa PDAM. Alex mengetuk-ngetukkan pensilnya di meja, sementara layar komputer di depannya masih kosong. Ia tak tahu hendak menuliskan apa di layar seputih kertas itu. Padahal, sore nanti, tajuk rencana itu sudah harus jadi. Semua terasa bagaikan mimpi. Semua kebahagiaan yang dihadirkan Nicholas terasa seperti hujan yang begitu singkat, tapi terasa sangat membekas, di tengah musim kemarau yang menyengat.
“Kau tidak sedang terlibat masalah hukum, bukan?” sebuah suara menariknya kembali ke dunia nyata.

Alex mengangkat kepalanya dari layar komputernya dan menemukan seraut wajah cantik milik Nadya tengah menatapnya dari balik sekat meja kerja.

“Astaga, tidak tentu saja. Kenapa?” Alex balik bertanya.

“Kalau tidak, kenapa ada polisi rajin mencarimu?”

“Polisi?” Alex mengernyitkan kening.

“Itu… di lobi. Dia menunggumu dari tadi. Berhari-hari ini dia mencarimu, Alex, dan kau berlagak seperti buronan yang mati-matian menghindari pertemuan dengannya. Seandainya aku tahu ada penyidik setampan dia, mungkin dari dulu aku sudah jadi perampok bank atau residivis kambuhan, agar setiap hari bisa bertemu dengannya di kantor polisi!” kata Nadya.

“Astaga, Nadya!” Alex memelototkan matanya ke sahabatnya. Nadya tertawa terkikik.

“Kalau begitu, cepat temui dia, Nona Sok Sibuk! Belum pernah aku melihat seorang pria begitu kebingungan seperti dia. Sebetulnya, ada apa, Alex? Kenapa tiba-tiba kau menghindarinya setengah mati?”

Alex menghela napas. Ceritanya terlalu panjang, Nad, hatinya berbisik lirih. Seluruh peristiwa itu berputar kembali di benaknya. Dari kencan-kencan manis yang tak terlupakan, percakapan-percakapan panjang dan lama di antara mereka, lalu… mendadak, bum! Semuanya itu mendadak terenggut begitu saja oleh pengakuan Nicholas tentang tunangannya di Jakarta sana.

Betapa ironisnya hidup ini. Setiap hari, setiap waktu, pria itu sela­lu bersamanya, berbagi suka-duka, berbagi cerita dan harapan. Namun, suatu saat nanti -entah kapan- pria itu akan kembali ke Jakarta untuk menjemput putri impiannya dan melupakan seluruh momen manisnya bersama Alex. Sungguh menyakitkan, karena selama ini ia menganggap dirinyalah yang menjadi putri impian Nicholas!

Bagaimana mungkin seorang pria bisa mendua dengan semudah itu? Saat menghabiskan waktu bersama Alex, dia menunjukkan cinta yang begitu besar. Namun, Alex juga percaya, saat bersama wanita itu, Nicholas juga akan menunjukkan cinta yang sama besarnya pula. Lantas, apa arti semua kata-kata cinta itu selama ini?

Kata-kata hanyalah sekadar kata-kata tanpa makna, bila tak ada tindakan nyata, Alex…. Hati kecilnya mengingatkan.

“Alex,” Nadya mengguncang lengan Alex.

Mata sahabatnya itu terlihat berkaca-kaca. Seumur hidupnya, belum pernah ia melihat Alex sesedih itu. Mereka memiliki kepribadian yang saling bertolak belakang. Dia lebih pendiam dan serius, sementara Alex tak pernah terlihat murung. Bila sekarang Alex terlihat sangat sedih, pasti ada sesuatu yang benar-benar tak beres. Ia sering mengkhawatirkan sahabatnya itu.

Kadang-kadang Nadya khawatir Alex tak cukup menarik perhatian kaum adam. Buktinya, sampai usianya memasuki kepala tiga, Alex masih saja melajang. Padahal, sebenarnya Alex sangat cantik dan baik hati. Ia tak hanya menjadi reporter, tetapi juga sibuk mengajar dan sesekali menjadi relawan di panti jompo. Dan sekarang, makhluk menakjubkan itu tengah berduka.

Rasanya seluruh alam juga ikut bersedih bersamanya. Mendung tebal menggayuti langit di luar sana. Konon, kata orang, ketika hujan turun berarti para bidadari di surga tengah meneteskan air mata. Dan sekarang, salah satu bidadari itu tengah bersiap menitikkan air mata!

“Pernahkah kau merasakan cinta dan kebencian kepada seseorang yang begitu besar di saat bersamaan?” tanya Alex, pelan.

“Cinta dan benci itu batasnya memang sangat tipis, Alex. Lihat saja para selebriti kita. Ketika cinta masih terasa sepanas bara api, mereka tak segan-segan menunjukkan kemesraan di depan publik. Tetapi, saat masalah melanda, begitu cinta di antara mereka mulai memudar, mereka berubah menjadi dua seteru yang saling menghujat,” kata Nadya, sok filosofis.

Alex menghela napas. “Kau benar, Nadya. Cinta hanyalah sekadar kata-kata, jika tak ada tindakan nyata,” gumam Alex, lirih.

“Siapa yang kau maksud? Nicholas? Bila menyangkut dia, aku yakin dia mencintaimu dengan segenap jiwa raganya, Alex. Lihat matanya, betapa dia sangat memujamu, Alex!” kata Nadya.

Ia pernah satu kali menemani Alex makan siang bersama Nicholas. Dan, ia dapat merasakan daya tarik di antara keduanya yang sangat besar.

“Kalau dia mencintaiku, maka dia tidak akan mendustaiku, Nadya! Semestinya dia mengatakan dari awal tentang fakta yang sebenarnya, bahwa dia sudah punya tunangan di Jakarta!”

“Mungkin dia sendiri juga sedang bingung menghadapi situasi ini, Alex. Cobalah berada di posisinya. Bersabarlah. Berilah waktu bagi Nicholas untuk menyelesaikan satu per satu.”

“Tetapi, entah kenapa, aku merasa telah dipermainkan olehnya. Aku tidak bisa menerima itu. Namun, di sisi lain, aku juga menginginkan Nicholas!”

“Itu wajar, Alex. Mungkin sebenarnya dia tidak bermaksud mempermainkanmu. Dia sedang bingung dengan situasi yang dihadapinya. Buktinya, dia berhari-hari mencarimu, meneleponmu, dan melimpahimu dengan bunga. Apakah itu bukan sebuah bukti bahwa dia tak berniat setitik pun untuk mempermainkan perasaanmu?”

Alex terdiam. Nadya benar. Setelah peristiwa itu, dia mati-matian menghindari Nicholas. Selama beberapa saat Nicholas juga menghilang, namun tak berapa lama dia muncul lagi dan melimpahinya dengan berjuta bentuk perhatian.

“Ayolah, Alex, jadilah wanita dewasa. Jangan terus-terusan ngambek seperti ini. Temui dia, bicaralah dengannya. Biarkan dia tahu perasaanmu. Begitu pula sebaliknya. Biarkan dia bicara dan menjelaskan semuanya. Sebab, kalau kau terus-menerus bertahan dalam kemarahan seperti ini, tanpa mendengar penjelasan apa pun darinya, kau hanya akan bermain-main dengan pikiran-pikiranmu sendiri. Padahal, pikiran-pikiranmu itu belum tentu benar. Oke?”

“Baiklah,” sahut Alex. Ia merapikan pakaiannya.

“Dia bilang ingin melihat foto-fotomu di Candi Prambanan kemarin. Katanya, dia masih belum puas melihat arca Agastya dan Nandiswara. Jadi, sebaiknya kau siapkan foto-foto yang dia maksud&kan itu,” kata Nadya, mengingatkan.


Penulis: Astrid Prihatini WD


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?