Fiction
Titi Wangsa [5]

29 Mar 2012

<<< Cerita Sebelumnya

Alex didera rasa putus asa, karena sikap tak kooperatif dari pihak museum. Tak ada hal baru yang bisa disuguhkannya kepada pembaca. Sejak kali pertama mengendus peristiwa ini, Alex bertekad untuk terus mengikuti kasus pencurian di Museum Kota. Ia merasa sudah menjadi kewajibannya menjalankan fungsi kontrol sosial. Namun, pihak yayasan memintanya untuk melupakan masalah itu.

Melupakan? Bagaimana ia bisa melupakan begitu saja? Sebab, ini tak hanya menyangkut aset museum. Melainkan, sudah menyangkut aset negara yang harus dijaga dan dipelihara sebaik mungkin.

“Tidak ada yang menarik di sini,” begitu ungkapan singkat Mas Antok, beberapa waktu lalu, kala ia berbincang dengan pria itu.

Ya, pada umumnya orang-orang beranggapan bahwa pekerjaan menjadi penjaga museum sepertinya pekerjaan yang sangat membosankan dan tak ada yang menarik. Tapi, benarkah begitu? Tidak. Tak banyak yang tahu bahwa penjaga museum sebenarnya pekerjaan yang menarik dan justru memiliki godaan yang lebih berat dibandingkan profesi apa pun di dunia ini! Sebab, mereka harus menjaga benda-benda yang kelihatannya kuno dan tak bernilai itu. Tapi, di satu sisi mereka juga harus melawan tawaran dari berbagai pihak untuk mencuri benda-benda tersebut.

Seperti pengakuan Malika, salah seorang karyawan magang di Museum Kota. Beberapa waktu lalu ia sempat berbincang dengan mantan pemagang di Museum Kota tersebut dan mendengar sebuah kisah yang sangat mengejutkan. Pengakuan Malika merupakan cerminan bahwa godaan yang harus dihadapi pegawai museum, tidaklah mudah. Gadis belia itu mengaku, selama menjadi karyawan magang di Museum Kota, ia acap mendapat tawaran untuk mencuri benda-benda kuno koleksi museum.

“Awalnya mereka datang sebagai pengunjung museum. Berkeliling dan melihat-lihat koleksi museum. Setelah itu, minta berkenalan dan minta nomor telepon seluler saya. Tak sedikit yang kemudian menelepon dan menawari saya uang puluhan juta untuk sebuah koleksi yang disimpan di Museum Kota. Saya sering kali mendapat tawaran seperti itu. Tapi, saya tak tertarik. Sebab, saya sangat mencintai benda-benda kuno itu,” ujar Malika.

Alex yakin bukan hanya Malika yang mendapat tawaran semacam itu. Ia yakin, hampir semua pegawai museum itu pernah mendapat tawaran serupa. Dan, ia telah menemui mereka satu per satu. Kenyataannya, hanya Malika yang mengakui. Sisanya, tak ada yang secara terang-terangan mengakui.

“Ah, tak ada yang menarik dari koleksi kami ini. Jangankan membeli benda-benda koleksi museum dengan harga puluhan juta, membeli karcis masuk museum seharga Rp5.000 saja, banyak yang keberatan, kok,” kilah Mas Antok, saat Alex menanyakan pertanyaan yang sama.

Kalimat-kalimat itu terus terngiang hingga ia tiba di kantor Nicholas. Ia mendengar pihak kepolisian telah menetapkan tersangka atas kasus pencurian di Musem Kota. Ia melangkah cepat melewati deretan ruang kerja. Ruang kerja Nicholas ada di ujung lorong. Tak seperti bayangannya selama ini tentang sebuah ruang kerja seorang abdi negara, ruang kerja Nicholas terlihat modern, nyaman, dan penuh bertumpuk buku-buku tentang hukum. Rasanya seluruh buku itu bisa menenggelamkan ruang kerjanya. Nicholas tak ada di balik meja kerjanya. Ke mana dia?

“Pak, Kapten Nicholas di mana, ya?” tanya Alex pada salah satu petugas yang melintas di dekatnya.

“Sedang latihan di lapangan belakang, Bu,” jawab petugas itu, sambil berlalu.

Alex pun melangkah cepat menyusuri lorong-lorong. Ia sudah terbiasa keluar-masuk kantor ini untuk mencari berita, sehingga ia tahu persis seluk-beluk kantor ini. Suasana kantor sudah sepi pada pukul 14.00 seperti sekarang ini. Di belakang kantor ada sebuah lapangan yang sangat luas. Para abdi negara sering mempergunakan lapangan itu untuk berbagai kegiatan, mulai dari latihan bela diri sampai melatih anjing pelacak, semua dilakukan di lapangan tersebut.

Siang itu, lapangan terlihat sepi. Hanya ada sosok Nicholas yang tengah latihan menembak di area latihan menembak jarak jauh. Alex hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, melihat pria itu latihan menembak di bawah terik matahari siang. Ia membiarkan pria itu menyelesaikan satu tembakan, sebelum menyapanya.

“Tembakan yang bagus, Kapten!” puji Alex tulus.

Nicholas menoleh. Matanya berbinar. “Kamu terlambat satu jam dari waktu yang kau janjikan. Kurasa sekarang sudah agak lewat dari waktu makan siang,” ujarnya memprotes, tapi tak ada kemarahan.

“Maaf, ada beberapa hal yang harus kuselesaikan. Sepertinya ada hal baru. Sudah mewawancarai karyawan di Museum Kota?”

Sepasang mata cokelat Nicholas menyipit. Entah karena silau terkena matahari siang, entah karena terpengaruh pertanyaan, Alex tak dapat memastikan.

“Sudah. Tentu saja, sudah semua, Tuan Putri. Kenapa?”

“Tahukah kamu, bahwa sebagian besar dari mereka mengaku sering mendapat tawaran untuk mencuri benda-benda koleksi museum dan mereka akan mendapat imbalan yang lumayan besar untuk itu? Tapi, kurasa, temuan ini agak terlambat, karena pihak kepolisian telah menetapkan tersangka. Bukan begitu?”

“Ya,” ada keraguan dalam nada suara Nicholas.

“Dengar, Nicholas, pencurian benda-benda kuno seperti itu biasanya melibatkan orang dalam. Sebab, hanya mereka yang tahu persis ada benda seperti yang diminati pembeli, berikut lokasi penyimpanannya. Orang awam seperti aku dan kamu tak mungkin tahu. Bahkan, kita tak pernah tahu bahwa museum yang dari luar terlihat kumuh itu, mungkin menyimpan segudang harta karun yang nilainya bisa untuk melunasi utang negara kita,” ujar Alex, panjang lebar.

Alex menatap pria jangkung di hadapannya, sibuk mengira-ngira apakah yang tengah bermain-main di dalam pikirannya. Nicholas terlihat lebih pendiam dari biasanya. Adakah gerangan yang dipikirkannya? Kenapa dia latihan menembak di siang bolong seperti ini? Apakah dia tengah berusaha melampiaskan kegusaran hatinya melalui olahraga satu ini?

Ah, kenapa aku memikirkannya? Alex menggelengkan kepala.

“Sudahlah, sepertinya, pikiranmu tidak sedang ke kasus itu. Kita bisa bicarakan hal ini kali lain. Oke?” ujar Alex.
Mata Nicholas kembali berbinar. “Baiklah. Sebenarnya polisi belum menetapkan tersangka. Mau mencoba menembakkan pistol ini?” ujarnya sembari mengang­surkan pistol di tangannya.

Alex meringis, menatap ragu ke pistol di tangan Nicholas.

“Tidak apa-apa. Ini peluru kosong, kok.”

“Selama ini aku hanya memegang jenis pistol ini untuk perma-inan air softgun,” ujar Alex, seolah meminta pengertian Nicholas.

“Hei, aku malah tidak tahu! Ternyata kau sudah familiar dengan benda ini!” seru Nicholas, tak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Sepasang matanya membola.

“Tapi, aku belum pernah menembak jarak jauh. Lagi pula, sebetulnya, jenis pistol ini agak terlalu maskulin untukku. Apakah aku harus berdiri begini?” sahut Alex dengan wajah tersipu.

Entah kenapa ia tak ingin Nicholas mengetahui sisi lain Alex yang sangat maskulin untuk ukuran seorang wanita. Alex mengambil posisi berdiri dengan tangan teracung memegang pistol.

“Ya, seperti itu. Sebentar,” suara Nicholas terdengar dari balik bahunya. Sesaat ia merasakan kehadiran pria itu di belakangnya. Suara dan desah napasnya terasa membelai telinga. “Rentangkan kakimu sedikit. Pegang pistol. Kunci pengaman sudah dilepas?” tanya Nicholas. Tangannya membetulkan posisi tangan Alex.

“Ya.”

“Oke, sekarang bidik sasaran dan tarik pelatuknya,” ujarnya, seraya menarik tangannya dari tangan Alex yang teracung.

Alex membidik sasaran dan melepaskan tembakan. Terdengar letusan keras, tubuhnya terentak ke belakang. Tapi, ia tak terjatuh, karena ada tubuh Nicholas di belakangnya.

Alex berbalik. “Bagaimana?” Ia meminta pendapat Nicholas.

“Bagus. Tembakanmu lumayan bagus. Sedikit meleset dari titik sasaran. Tapi, untuk seorang pemula, not bad,” puji Nicholas.

Alex tersenyum, tak dapat menyembunyikan rasa bangga yang membuncah di dadanya.


Penulis: Astrid Prihatini WD


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?