Fiction
Tambatan Hati [5]

26 Mar 2012

<< Cerita Sebelumnya

“Lea, sepertinya tantemu ada maksud mengenalkan temannya,” Wa Tia setengah berbisik, setelah kami duduk di teras memandang lautan.

Tante Liyan melempar senyum. “Tante mau istirahat,” katanya, sebelum masuk ke kamar.

Wa Tia mencuri pandang. Aku hanya diam.

“Lea, apa kamu belum mau punya suami?”

Aku menoleh. “Jelas mau!”

“Walaupun pilihan orang lain?”

“Ya, jelas enggak!”

Wa Tia terdiam sesaat, seperti berpikir. Kemudian menatapku lekat, menyambung “Kalau orang tuamu memaksamu menikah dengan pria pilihannya, apa kamu berani menolak?”

“Kalau nggak cinta, ya, tolak!”

“Tapi, apa kamu tidak kasihan? Mereka pasti kecewa sekali.”

Aku mendesah. “Sebetulnya, lebih baik jika kita punya pilihan sendiri. Jadi, orang tua tak kecewa. Yang penting, anaknya menikah.”

Wa Tia mendekat. Berbicara di sebelah telingaku. “Apa kamu ingat, ketika kita sedang makan nyuk nyang, segerombolan pria masuk ke restoran.”

“Ya! Pasti salah satunya kamu taksir, ya? Ngaku saja!” aku menggoda.

Wajah Wa Tia merona malu. “Namanya La Dori. Dia hanya pegawai bank rendahan. Tak sekaya La Darumba, pengusaha kapal kayu.”

“Apa orang tuamu tahu?”

Wa Tia menggeleng. “Lea, kami adalah keluarga miskin. Tentu orang tua saya lebih memilih La Darumba yang kaya. Supaya kami tidak perlu lagi saban hari makan ikan.”

Dadaku sesak. Ternyata, kemiskinanlah yang membunuh naruni, hingga tega menjual anak sendiri. Dan, menjadi istri muda tentu saja bukanlah sebuah cita–cita.

“Kamu harus bisa menolak orang tuamu. Karena kamulah yang menikah, yang akan menderita nanti.”

Wa Tia sejenak termanggu. Matanya memandang sendu pada laut biru. Agak menyesal aku membuatnya sedih.

Tante Liyan duduk diam memandang laut. Entah apa yang menjadi lamunannya. Aku pun hanya diam. Usai makan malam, kami memang terbiasa duduk di teras depan, kekenyangan.

“Bagaimana, kamu senang berkenalan dengan La Radi?”

Sudah kuduga, Tante Liyan menyimpan rasa penasaran. “Ya, sepertinya Pak Radi baik.”

“Kamu tidak perlu memanggil Pak, dia masih bujangan.” Tante Liyan tersenyum. Aku hanya diam. Ada sedikit rasa sebal menye­ruak dada.

“Sebagai pegawai negeri, sebenarnya La Radi sudah mapan. Punya rumah dan jabatan. Kemungkinan tahun depan dicalonkan menjadi bupati.”

“Mengapa sampai sekarang dia belum juga menikah? Pasti banyak wanita di pulau ini yang mau menjadi istrinya.”

Sejenak Tante Liyan menghela napas. “Tante sudah lama kenal dia. Dulu kabarnya dia pernah patah hati, karena calonnya tidak disetujui oleh ibunya. Sekarang dia sedang mencari istri, supaya layak mencalonkan diri jadi bupati.”

“Memangnya sulit mencari istri? Dia kan banyak uang.”

“Dia mencari sosok yang terpelajar.”

“Banyak juga wanita terpelajar di sini. Wa Tia, misalnya.”

“Tapi, harus berstatus sosial yang baik. Setidaknya, dari keturun­an baik-baik.”

“Maksud Tante, wanita itu harus dari kalangan atas?”


“Ya, supaya bisa membawa diri. Pantas menjadi istri pejabat.”

Mendadak aku merasa muak.

“Tante rasa, kamu wanita yang pantas.”

Benarkah? Aku tersenyum kecut. Sebagai wanita kota, aku tidak tertarik pada segala hal yang berbau feodal. Bagiku, La Radi adalah sosok pria arogan yang lebih memikirkan bungkus wanita dibanding hati wanita itu sendiri. Pantas saja dia tidak laku-laku!

“Besok lusa Tante akan undang dia kemari lagi. Tante akan memasak sup makaroni.”

Aku hanya diam. Namun, merasa terenyuh dengan upaya Tante Liyan. Mungkin, dia berpikir, aku akan bahagia dengan kehadiran pria. Ya, asal jangan pria seperti La Radi.
Dering telepon membuat Tante Liyan tergopoh masuk. Ter­dengar sejenak bincang yang terdengar sayup di luar. Tak lama Tante Liyan kembali. Rautnya sedikit tegang.

“Ada apa, Tante?”

“Tidak ada apa-apa. Hanya teman sesama anggota dewan.”

“Pasti ada kabar buruk. Wajah Tante kusut.”

Tante Liyan tertawa. Bahunya terguncang bagai perahu nelayan terombang–ambing diterjang ombak.

“Ya, memang ada kabar yang tak sedap.” Tante Liyan menarik napas. “Dalam pemilihan tahun ini, rencananya Tante dicalonkan partai untuk menjadi anggota dewan tingkat satu daerah. Tapi, Tante harus melobi sejumlah orang.”

“Itu wajar. Politik memang penuh permainan.”

“Ya, tapi yang tidak wajar, Tante harus menyiapkan uang sebesar lima puluh juta untuk melobi mereka!”

Aku terbelalak. “Untuk apa uang sebanyak itu?”

Tante Liyan mencibir. “Untuk dibagi–bagi!”

“Tante mau?”

“Tante harus pikir–pikir. Kalau memang itu dapat menjamin Tante berhasil, Tante mau saja.”

“Jadi, Tante mau menyogok?”

“Lea, kamu bilang politik itu permainan. Tante pun harus ikut dalam permainan ini.”

Sudah kuduga. Perjuangan keras telah mengubah hidupnya menjadi wanita sukses seperti sekarang. Bukan mustahil bila nanti Tante Liyan akan terpilih karena semangatnya itu.

“Besok siang Tante akan coba tanya ke orang pintar. Kamu ikut, ya. Temani Tante.”

Terbayang suatu perjalanan panjang melewati hutan dan bebukitan. Seorang bapak tua meringkuk di rumah kayu dengan mulut komat–kamit. Ada rasa penasaran, kira–kira apa jawaban untuk Tante Liyan besok.

Aku mencoba tidur. Namun, tidak bisa. Suara ombak memecah tebing terasa mengganggu kali ini. Bagai suara sekelompok orang meraung–raung diterpa derita. Aku sedikit bergidik. Mengapa malam ini terasa sulit untuk lelap. Tiba–tiba dari atas atap terdengar suara gemuruh seperti benda jatuh.

Gedubrak!

Aku melompat dan memasang telinga. Apakah ada pencuri di rumah ini? Terdengar pintu kamar Tante Liyan terkuak. Aku segera berlari keluar kamar.

“Tenang saja, Lea. Mungkin ada ranting pohon tumbang menimpa atap. Di luar angin sangat kencang,” kata Tante Liyan, seraya melangkah kembali masuk kamar.

Di dalam kamar, untuk beberapa saat aku gelisah. Tubuhku bolak-balik tak menentu, hingga akhirnya terkulai lelap menjelang pagi.

“Lea, bangun! Ada Wa Tia mencarimu.” Suara Tante Liyan membangunkan tidur. Aku tersentak. Ada apa Wa Tia datang pagi–pagi? Bukankah dia harus pergi kuliah?

Dengan mata masih mengantuk aku terhuyung menuju ruang tamu. Rambutku menjuntai kusut tak beraturan.

Cerita Selanjutnya >>

Penulis: Athma



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?