Fiction
Tambatan Hati [4]

26 Mar 2012

<< Cerita Sebelumnya

Bentangan laut luas dan biru berkilau membuatku lupa diri. Tanpa menunggu lama aku langsung membuka pakaian yang melapisi baju renang. Lantas, menyebur dalam kehangatan air berpasir putih.

Di sela berenang aku dan Wa Tia sesekali mengobrol.

“Bohong! Masa kamu belum punya pacar?” tanya Wa Tia, sambil melotot. Matanya yang merah kemasukan air, membuat wajahnya terlihat sedikit menyeramkan.

“Belum lama putus,” aku menjawab singkat. “Kamu sendiri? Kenapa kamu belum menikah? Setahuku wanita di daerah lebih cepat menikah. Berbeda dari wanita di kota besar, terutama Jakarta.”

Wa Tia tergelak. Lama menunggu tawanya reda hingga napasnya agak tersengal. “Mungkin kamu pikir saya wanita tidak laku, ya? Apakah aneh bila wanita ingin menikah dengan pria yang benar-benar dicintainya.”

“Maksudmu, kamu belum menemukan pria yang kamu cintai?” aku mengerenyit. Sepintas kutangkap nanar di mata bulatnya.

Wa Tia menggeleng dan berkata pelan. “Saya masih menunggu.”

“Aku yakin kamu pasti bisa cepat mendapat pacar. Karena, kamu wanita berpendidikan dan lumayan seksi….”

Wa Tia kembali tergelak. Kemudian menyiprati wajahku sebelum berenang menjauh. Aku segera mengejarnya. Kami sempat saling kejar dan tertawa girang di antara gulungan ombak. Sementara Tante Liyan sudah berenang di tengah lautan bagai lumba–lumba.

Senja menjemput mentari yang perlahan lenyap di balik awan. Menyisakan awan jingga berarak. Kami sudah bersiap meninggalkan pantai. Aku sudah duduk di dalam mobil, menghindar dari dinginnya angin laut. Wa Tia sibuk menyisir rambut ikalnya yang kusut. Kulihat Tante Liyan sigap mengemasi barang, dibantu La Gani.

Tak lama, mobil kembali melintasi jalanan panjang bersemak, perkampungan nelayan, bukit dan laut yang bernuansa jingga. Semilir angin yang masuk melalui sela jendela membuatku menggigil.

“Supaya badan hangat, Tante traktir kalian makan nyuk nyang.”

Kami lalu masuk sebuah restoran nyaman di jejeran ruko. Dindingnya masih bersih dengan meja dan bangku–bangku yang masih tampak baru.

Dalam sekejap, semangkuk nyuk nyang tandas tak bersisa. Bagiku, makanan ini mirip dengan bakwan atau bakso berkuah bening. Hanya, bedanya dimakan bersama semacam lontong berbentuk gepeng. Memang pas untuk mengusir dingin.

Segerombolan pria berpakaian rapi masuk melintasi meja kami. Kulihat Wa Tia mencuri pandang pada seseorang di antara mereka.

Tante berdehem. “Sudah? Ayo, kita pergi sekarang.” Entah mengapa, Tante Liyan seakan tidak senang melihat kehadiran para pria tadi.

“Tadi ada La Joni dan teman–temannya,” kata La Gani pada Tante Liyan, ketika kami sudah kembali meluncur di jalan.

“Ya, biar saja. Dia tidak akan tenang hidupnya dengan politik busuknya itu,” Tante Liyan mencibir.

“Tapi, saya dengar, dia orang kedua dalam pencalonan anggota DPR di tingkat satu.”

“Semoga saja tidak jadi. Baru calon saja sudah tambah istri.”

Rupanya, Tante Liyan sangat menentang poligami. Tentunya ia tidak akan setuju mengenai hubunganku dengan Farhan. Aku cepat–cepat menepis bayang pria yang mulai hadir menguasai benak. Kulirik Wa Tia, dia sepertinya sedang melamun. Apakah melamunkan salah satu pria di restoran tadi?

Segerombolan pria eksekutif tadi mengingatkan aku pada Jakarta. Pada teman–teman pria yang biasa kujumpai di kafe. Mereka memang terlihat menarik dengan dasi–dasi yang terjulur. Sosok yang ternyata diminati pula oleh wanita seperti Wa Tia. Semoga saja dia tidak tertipu oleh penampilan yang membungkus kebusukan hati mereka. Ah, mengapa aku menjadi benci kepada mereka?

Hari menjelang sore kala tubuhku oleng ke kanan–kiri dalam mobil yang melaju di jalan berkelok. Di sisiku La Gani tampak bersemangat menyetir di antara bebukitan. Kali ini Tante Liyan duduk di belakang, membiarkan aku di depan, bebas memandang alam hutan. Kami sedang menuju rumah seorang dukun di pelosok pulau.

Beberapa kali mobil melintasi aneka perkampungan petani dan nelayan, melalui beragam rumah panggung dari kayu, beberapa masjid kecil dan kantor–kantor lurah. Namun, yang mengesankan adalah ketika mobil melaju di tepi tebing dengan hamparan laut biru di bawah. Kemudian mobil melintasi padang bertanah hitam luas bertepi laut. Menurut Tante Liyan, tempat itu merupakan tambang aspal yang memopulerkan pulau ini. Sesekali kepalaku keluar jendela, sekadar memotret panorama laut.

Setelah dua jam berlalu, mobil memasuki perkampungan nela­yan sunyi di tepi laut. Mobil berhenti di sebuah rumah panggung kayu agak kumuh. Aku menyusul Tante Liyan, merangkak susah payah naik di tangga kayu. Di dalam rumah kami bertemu seorang pria berambut keriting dengan kulit kehitaman. Giginya yang putih terlihat kontras di balik senyuman.

“Tunggu sebentar, bapak saya baru turun dari kebun.”

Setelah beberapa saat menunggu, muncul seorang bapak tua bertubuh kurus yang juga berkulit kehitaman. Terbalut singlet dan celana hitam yang sudah tampak kumal. Kemdian bapak tua itu duduk meringkuk di salah satu sudut ruang. Tante Liyan mendekat, berbincang tanpa canggung. Sementara pria keriting itu bertugas sebagai penerjemah. Tak lama, Tante Liyan melambai ke arahku agar mendekat.

“Tolong keponakan saya dilihat, ya, Pak, apakah jodohnya sudah dekat.”

Aku menatap pria tua yang tidak sekali pun melihat ke mataku. Mulutnya komat–kamit, seperti berdoa. Tiba–tiba bapak tua itu berkata dalam bahasa yang aneh.

“Ada. Tapi, bukan orang Buton,” anaknya menjelaskan. Terlihat sedikit kekecewaan di raut Tante Liyan. Aku maklum.

“Siapa jodohnya? Orang mana? Kapan menikah?” bertubi pertanyaan Tante membuat mulut bapak tua itu kian sibuk berkomat–kamit.

“Ada seorang pria dikelilingi oleh banyak air.”

“Air?” Tante Liyan mengernyit.

“Ya, air yang sangat luas. Tapi, dia akan membawa gadis ini ke sebuah tempat yang jauh di daerah timur.”
Aku mencoba menyimak ramalan bapak yang terkesan aneh dan membingungkan. Bagaikan cerita misteri tak terpecahkan. Tante Liyan terlihat berpikir, “Jadi, keponakan saya ini akan menikah dengan pria itu?”

“Tidak lama lagi,” jawab pria itu sambil menyeringai.

Setelah menyelipkan lembaran uang lima puluh ribuan, Tante Liyan beringsut menuruni tangga kayu. Aku sekilas mengucapkan terima kasih kala menyalami bapak dan anaknya sebelum menyu­sul ke mobil.

Dalam perjalanan pulang, Tante Liyan lebih banyak diam. Sementara aku mencoba melupakan perkataan dukun tadi. Untuk apa percaya sesuatu yang belum tentu benar terjadi. Jodoh tetap di tangan Tuhan!


Penulis: Athma



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?