Fiction
Ketika Dayu Memilih Cinta [4]

25 Feb 2012

<<Cerita Sebelumnya

Sepulang dari kampus, Dayu mampir ke rumah Dharma.

”Dayu, Bli Tut sudah diterima kerja di kantor notaris. Lumayan, daripada menganggur. Malu,” Dharma menyampaikan kabar gembira pada Dayu, ketika Dayu sampai di rumahnya.

Dayu tersenyum. “Selamat, ya, Bli?”

Walaupun berusaha ceria, Dharma bisa melihat kalau Dayu sedang ada masalah.

“Kalau ada yang ingin Dayu sampaikan, Bli siap mendengar.”

Dayu salah tingkah.

“Tidak ada, Bli, Dayu hanya rindu.”

Dayu memang menghadapi sebuah masalah. Tapi, kali ini, tidak seperti biasa, Dharma bukan orang yang tepat bagi Dayu untuk teman berbagi. Karena masalah Dayu saat ini melibatkan Dharma sendiri dan Dagus Suamba. Bahkan, yang berperan penting dalam masalahnya ini adalah perasaannya sendiri.

Mendengar kata ‘rindu’, Dharma tertawa.

“Dayu, baru dua hari tidak ketemu, masa sudah rindu?”

“Apa tidak boleh?” Dayu tersinggung.

Dharma menggenggam tangan Dayu, ditatapnya lekat mata Dayu. Dayu makin salah tingkah dibuatnya.

“Dayu, jika ada orang yang paling merindukan Dayu, maka Bli-lah orangnya.”

Dayu makin bersalah mendengar pernyataan Dharma.

“Dayu ke sini untuk mengatakan bahwa Dayu belum siap jika Bli ingin ketemu dengan Aji,” kata Dayu, sambil beranjak dari bale bengong, tempat Dayu dan Dharma biasa menghabiskan waktu berdua di rumah Dharma.

“Dayu sudah mau pulang? Tumben cepat?” tanya Komang Sri, saat melihat Dayu sudah berada di depan pagar rumahnya. Karena, biasanya Dayu bisa sampai dua jam berada di rumahnya.

“Maaf, Bi, tesis Dayu harus direvisi lagi. Jadi, Dayu harus segera memperbaikinya,” kata Dayu, berbohong. Padahal, tesisnya dinyatakan dosen sudah siap untuk diujikan.

Tanpa Dayu sadari, Ni Luh Sari melihat anak semata wayangnya itu keluar dari rumah Dharma.

Sampai di griya, Ni Luh Sari ternyata sudah menunggu. Dayu kaget ketika masuk ke dalam kamarnya dan melihat Ni Luh Sari duduk di tempat tidurnya. “Biang, ada apa?”

Ni Luh Sari menyuruh Dayu duduk di sampingnya. “Gek, Biang hanya ingin tanya, Dayu tidak punya hubungan apa-apa kan dengan Ketut?”

Dayu salah tingkah. “Ketut? Ketut siapa, Biang?”

“Dayu tidak usah bohong. Tentu saja Tut Dharma.”

Ni Luh melepas kepangan rambut anaknya dan menyisirnya.

Dayu tersentak kaget, namun berusaha menetralkan perasaannya lagi. “Apa maksud Biang?”

“Ketut Dharma itu pria yang baik. Biang tahu, Dayu sudah berteman dengannya sejak kalian masih anak-anak. Bagaimana perasaan Dayu padanya?” tanya Ni Luh Sari, membuat Dayu tak berkutik.

“Apa gunanya Biang menanyakan itu? Bukankah perasaan Dayu hanya Aji yang bisa tentukan?” Dayu mengalihkan pembicaraan.

Ni Luh Sari menghela napas berat. “Dayu, Biang sayang pada Dayu. Biang hanya ingin Dayu bahagia.”

“Biang, Dayu hanya bisa bahagia jika Dayu menikah dengan pria yang Dayu cintai.”

“Apakah dia Ketut Dharma?” Ni Luh Sari mendesaknya.

“Tidak tahu, Biang, Dayu bingung.”

“Kalau Dayu mencintai Ketut Dharma, sampaikan pada Aji, sebelum Aji dan Dagus Mantra mengadakan acara pertunangan Dayu dengan Dagus Suamba. Dayu perjuangkan saja perasaan Dayu. Apa pun yang bisa membuat Dayu bahagia, Biang selalu bersama Dayu.”

Dayu terharu mendengar kata-kata Ni Luh Sari. “Biang, Dayu ingin berkata jujur. Awalnya, Dayu memang hanya mencintai Ketut Dharma, tapi kini Dayu bingung memilih, Biang.”

“Apa maksud Dayu?”

Ni Luh Sari menatap wajah anak tunggalnya itu, tak mengerti.

“Apa salah kalau kini hati Dayu bercabang dua?” Dayu terdiam sejenak. “Dayu mencintai Ketut Dharma dan Dagus Suamba.”

Ni Luh Sari tersentak mendengar pengakuan jujur Dayu.

“Dayu harus memilih. Bagaimanapun Dayu harus memilih antara Ketut Dharma dan Dagus Suamba.”

“Entahlah, Biang, Dayu bingung.”

Ni Luh Sari membelai kepala Dayu.

“Kalau Dayu bingung, Dayu putuskan saja hubungan Dayu dengan Ketut Dharma dan menerima pinangan Dagus Suamba.”

Dayu berdiri dari tempat tidur, wajahnya pucat pasi. “Tidak, Dayu cinta pada Ketut Dharma.”

“Tapi, Dayu juga mencintai Dagus Suamba, ’kan? Jadi, menurut Biang, Dayu menikah saja dengan Dagus Suamba, dengan begitu Aji tidak akan marah pada Dayu dan Dayu juga akan hidup bahagia dengan orang yang Dayu cintai.”

Air mata Dayu mulai menetes.

Ni Luh Sari memeluk Dayu. Anaknya itu benar-benar sedang dilema sekarang.

“Ini salah Aji. Kalau saja Aji tidak memperkenalkan Dagus Suamba pada Dayu, tentu Dayu tidak akan bingung memilih,” gumam Dayu, di pelukan Ni Luh Sari.

Ni Luh Sari menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tak tahu sia-pa yang harus disalahkan kini.

Hari itu adalah hari Minggu. Tanpa sepengetahuan Dagus Brama dan Dayu, Ni Luh Sari pergi ke rumah Dharma. Komang Sri sangat terkejut melihat Ni Luh Sari berdiri di depan pagarnya.

“Biang Dagus Brama?”

“Bisa tiang bertemu dengan Dharma?” tanya Ni Luh Sari.

“Bisa, Biang, tapi ada apa, ya?” tanya Komang Sri, ragu-ragu.

“Tiang hanya ingin berbicara berdua dengannya.”

“Sebentar, biar Tiang panggilkan dulu, ya.”

Komang Sri tergopoh-gopoh mencari Dharma.

“Ada apa?” tanya Dharma, ketika melihat bibinya ngos-ngosan.

Setelah mengatur aliran napasnya kembali, Komang Sri mengatakan maksudnya mencari Dharma. “Feeling Bibi, kita akan dapat masalah.”

“Masalah apa lagi, Bi Mang?” tanya Dharma, sambil tetap tidur-tiduran di bale bengong.

“Biang Dagus Brama datang!” kata Komang Sri.

“Apa?!” Dharma yang terkejut langsung bangun dari tidurnya. “Sendirian, Bi?”

“Tidak! Dengan satpam!” kata Komang Sri, dongkol. “Jangan bodoh! Tentu saja sendiri. Katanya ingin bertemu denganmu!”

Dharma segera keluar rumah dan menghampiri Ni Luh Sari. “Maaf lama. Ada apa Biang Dagus Brama mencari Titiang?”

Ni Luh Sari menoleh dan tersenyum. “Tiang sudah tahu semua. Tiang tahu ada hubungan yang istimewa antara Ketut dan Dayu.”

Dharma kaget mendengar pernyataan Ni Luh Sari. “Maafkan Titiang, Biang Dagus.”

“Sebenarnya Tiang tidak ingin menghalangi hubungan kalian. Tiang sudah mengenal Ketut dari kecil, Ketut selalu baik pada Dayu. Tapi, demi kebahagiaan Dayu, Tiang mohon dengan sangat agar Ketut mau melupakan Dayu.”

Dharma tertegun sejenak. Ia tidak menyangka Ni Luh Sari datang hanya untuk menyuruhnya menjauhi Dayu.

“Apa pun akan Tiang lakukan demi kebahagiaan Dayu.”

Sejak saat itu Dharma menjadi murung. Ia tidak mau bertemu dengan Dayu, walau Dayu datang tiap hari ke rumahnya sepulang dari kampus. Ia jadi tidak konsentrasi dalam bekerja, sehingga sering mendapat komplain dari atasannya. Komang Sri menjadi simpati karenanya.

“Tut, apa Biang Dagus menyuruhmu menjauhi Dayu?”

“Tidak Bi, ini mutlak keputusan Ketut.”

Dayu mulai resah. Dharma sama sekali tidak mau bertemu dengannya. Dayu tidak tahu apa kesalahannya. Dayu merasa hubungannya dengan Dharma makin jauh. Akhir-akhir ini Dayu lebih dekat dengan Dagus Suamba. Sementara Dagus Suamba makin menggebu-gebu untuk mendapatkan cintanya, Dharma seakan mundur secara perlahan-lahan.

Hati Dayu sakit, sesungguhnya ia sangat rindu pada Dharma. Hanya Dharma yang mampu mengobati kesendirian dalam hatinya ini. Dharma yang selalu mau mendengarkan keluh-kesahnya.

“Kenapa akhir-akhir ini Dayu murung?” tanya Ida Bagus Suamba, sepulang mereka makan ikan bakar di Kafe Kedonganan.

“Dayu tidak merasa murung,” Dayu mengelak.

“Dayu tidak ceria seperti biasanya. Apakah Dayu jenuh mendengar cerita-cerita Dagus?”

“Tidak,” Dayu menjawab singkat, berbohong.

Padahal, Dayu memang merasa bahwa Dagus Suamba hanya bercerita sendiri, tanpa mengharapkan tanggapan darinya. Tidak seperti Dharma yang memakai sistem timbal-balik, yaitu memberi tanggapan dan mengharap tanggapan.


Cerita Selanjutnya>>

Penulis: Tang Annisa Inocentia Husna


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?