<<< Cerita Sebelumnya“Ya. Aku tidak bisa terima opsi aborsi. Gadis itu tinggal di Surabaya. Demikian juga pacarnya. Keluarga gadis itu tidak sangat kaya, tapi cukuplah. Sedangkan orang tua pacarnya adalah pejabat tinggi di Surabaya. Mungkin kau kenal dia. Semua tidak mau namanya tercoreng karena kelahiran bayi ini. Jadi, pilihannya adalah melahirkan diam-diam, kemudian melupakannya, atau aborsi. Nenek gadis itu adalah kenalan ibuku. Jadi, aku ada kesempatan untuk mengambil bayi itu. Tiga atau empat hari lagi, bayi itu akan pindah ke rumahku dan ibunya kembali mengenakan seragam SMA-nya.
“Kenapa?”
“Karena, memang begitu kan alur yang diinginkan?”
“Bukan, maksudku, kenapa kau mau mengambil bayi itu?”
Melia menatapku sebentar. “Karena, toh, aku juga perlu untuk punya anak, Ros.” Dia mengucapkannya sambil berbalik, melangkah pergi, kembali ke ruang tempat gadis itu dirawat.
Gadis itu bernama Diana. Dia menolak ketika suster menawarkan untuk menyusui bayinya. Aku langsung tidak simpati. Menurutku, dengan penolakan itu, berarti dia benar-benar tidak mencintai bayinya. Dia cuma menikmati proses pembuatannya!
Tiba-tiba aku merasa marah terhadapnya. Padahal, Melia tampak biasa-biasa saja. Dia sempat sedikit membujuk Diana untuk mau menyusui bayinya dengan menjelaskan bahwa ASI adalah susu terbaik untuk bayi. Lalu, Melia meminta suster mengajarinya menggendong bayi itu. Dia mulai mengayunnya dengan sayang, menciumnya, lalu terkekeh gemas, karena ternyata si bayi mengompol. Melia mengamati cara suster mengganti popok dengan seksama. Sedangkan kulihat si ibu asli malah tenang-tenang, mengunyah anggur hijau. Aku jadi tambah tidak suka padanya.
“Sudah siap nama untuknya, Lia?” Sang nenek bicara, sambil mengelus pipi cucunya. Dalam hati aku bertanya, kenapa bukan nenek itu saja yang mengurus bayi itu? Kota ini memang hanya empat jam perjalanan dari Surabaya, tapi aku rasa jarak itu cukup untuk meredam berita tentang anak pejabat yang telah menghamili pacarnya dan tidak mau menikahinya.
“Belum. Tapi, pasti segera kutemukan. Apakah dia sudah mirip denganku?” guraunya riang, sambil mendekatkan muka mungil itu ke wajahnya sendiri.
Sang nenek tertawa karena gurauan itu. Sedangkan aku tidak berminat untuk ikut tertawa.
Sepulang dari rumah sakit, Melia berbelanja perlengkapan bayi. Popok, bedak, alas tidur, minyak telon, minyak kayu putih, kelambu, topi, sepatu, kaset Mozart, dan entah apa lagi. Dia juga menghabiskan waktu bermenit-menit untuk bertanya pada seorang SPG hitam manis soal lotion antinyamuk, hanya untuk meyakinkan bahwa barang itu aman buat bayi. Lalu dengan enteng mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan untuk membayar belanjaannya.
“Mereka tidak memberimu uang untuk keperluan ini?”
Dia menggeleng. “Tidak. Lebih baik begitu, aku rasa. Mereka, toh, sudah membayar sendiri biaya persalinannya.”
“Kenapa kau tidak membiarkan mereka ikut menanggung keperluannya?”
“Ini tidak untuk membuatku berhak menutupi asal-usulnya kelak, Ros, jika itu yang kau maksud. Aku tetap akan membuatnya tahu keluarganya suatu saat nanti, ketika dia sudah bisa berpikir dengan baik dan jernih. Adopsi kan cuma hukum duniawi saja. Aku tidak akan menutup akses dengan keluarga kandungnya. Bagaimanapun, aku tidak akan pernah jadi ibu kandungnya. Lagi pula, kelak dia butuh wali untuk menikah.”
“Ibumu setuju dengan hal ini?”
Dia tertawa. “Kau tahu, Ros, hal yang paling bisa menyenangkan seorang nenek macam ibuku adalah adanya anak kecil untuk dirawat dan dimanjakan. Apalagi, Ibu tahu riwayatnya. Seperti kau, Ibu tidak suka pada gadis itu, tapi dengan mudah jatuh sayang terhadap jabang bayi itu, bahkan sebelum dia lahir. Dia justru akan bisa membuat ibuku ’hidup’ kembali.”
Berarti, semuanya semudah itu. Alangkah beruntungnya bayi mungil itu. Begitu ibu kandungnya menolak, langsung dia dapat ibu pengganti, juga nenek, yang langsung pula menyayanginya.
“Jangan terlalu sinis terhadap Diana, Ros. Mungkin kita akan melakukan hal yang sama, jika dihadapkan pada masalah sepelik itu. Bagiku, dia sudah hebat dengan mau mempertahankan anaknya hingga lahir. Banyak gadis lain yang lebih buruk dari itu, yang tanpa pikir panjang mengambil opsi aborsi sebagai penyelesaiannya. Paling tidak, Diana sudah rela membuang satu tahun masa sekolahnya dan mengorbankan bentuk badannya. Selebihnya, sebaiknya kita maklumi saja.”
Memaklumi? Enteng sekali. Walau aku tahu tak berhak apa pun atas Diana, tapi rasanya tidak sesederhana itu. Berapa banyak wanita di dunia ini yang ’mengemis’ kepada Tuhan untuk diberikan anak dalam rahimnya. Berapa banyak yang berusaha ini-itu dan menghabiskan hartanya hanya untuk tujuan itu. Aku mengumpat atas namaku sendiri.
“Yaaa... seks harus dilakukan dengan bertanggung jawab, tak cukup hanya bermodal cinta dan nafsu saja. Begitu maksudmu? Mari kita ajarkan semua itu pada anak-anak kita nanti, Ros.”
Di rumah Melia, benar-benar kulihat bukti nyata bahwa ibunya sama sekali tidak keberatan dengan keputusannya mengadopsi bayi itu. Wanita itu tampak jauh lebih hidup daripada tempo hari. Beliau mondar-mandir, memberi komando Mak Irah untuk membereskan kamar Melia, mengatur isi almari kecil yang agaknya diperuntukkan bagi bayi mungil itu. Kudengar, beliau meminta Mak Irah mengeluarkan buku-buku Melia dari kamar, karena dianggapnya barang-barang itu menumpuk debu.
“Benar kan kataku?” kata Melia padaku. Dagunya menunjuk ke arah ibunya.
Malam itu aku masih diselimuti perasaan aneh. Entah mengapa, aku masih merasa jengkel pada Diana. Juga merasa asing dengan cara penerimaan Melia yang begitu mudah. Aku jadi teringat anak-anak di panti-panti asuhan, yang sering kali menjadi anak-anak nakal karena kurang perhatian. Juga anak-anak yang biasa mencegatku minta recehan di perempatan jalan. Aku merasa ini tak adil untuk mereka.
Bayi Diana sungguh beruntung. Mungkin malah lebih baik dia ada di tangan Melia daripada diasuh oleh ibu kandungnya yang masih ingusan itu. Untuk menyusuinya saja gadis itu menolak, apalagi untuk merawatnya. Sedangkan Melia malah seperti orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Tadi sempat kutangkap matanya berkaca ketika menciumnya. Aku menyesal melupakan kameraku. Jika tidak, pasti aku bisa membuat foto yang indah tentang hubungan ibu dan anak. Mungkin bisa kujadikan kartu pos untuk dihadiahkan pada Melia.
Penulis: Ina B. Alasta


