<<<< Cerita Sebelumnya
Kapan dari Australia, Mas?“ sapa Tiwi, sambil mengulurkan tangan.
“Ibunya Lintang baru pulang kuliah, ya,” sambut Janges.
“Pulang kuliah tadi aku langsung ke pabrik. Soalnya, order yang baru sudah datang jadi bisa aku ambil,“ kata Tiwi, menerangkan.
Eyang Putri dan Eyang Kakung yang kebetulan masuk ke ruang tamu mengangguk paham. “Ya, itu risikonya bila sekolah sambil bekerja. Tiwi kan baru belajar hidup. Biarkan saja…,” kata Eyang Putri.
Janges menangkap bahwa mereka mendukung apa yang dilakukan Tiwi. Dan, hal itu membuatnya tenteram. Tiwi berada di tangan yang aman, yang melindungi dan merengkuhnya.
Janges dan Tiwi menikmati makan malam berdua saja karena Eyang Kakung dan Putri menghadiri resepsi.
“Mas Janges menginap, ‘kan?” tanya Tiwi, sambil menggigit kerupuknya.
Janges mengangguk. “Besok kamu ada kuliah?“ tanyanya.
Tiwi menggeleng.
“Aku ingin mengajakmu jalan-jalan,” kata Janges, tanpa mengalihkan mata dari piring di depannya.
“Aku punya waktu kosong setelah pukul sembilan,” sahut Tiwi.
Mereka mengobrol di teras depan sampai kedua eyangnya pulang. Tiwi minta diri untuk menemani Lintang tidur.
Pukul setengah lima pagi Tiwi sudah bangun, tanpa dibangunkan dering weker. Sejak bayi Lintang sudah biasa membangunkan Tiwi pagi-pagi. Sangat menguntungkan. Karena, setelah popok basahnya diganti dan kemudian disusui, Lintang akan bermain, berceloteh, atau tertawa-tawa sendiri, sambil menggapai segala mainan yang tergantung di atas boksnya.
Sambil menjaga Lintang, Tiwi biasanya membersihkan ruang tidur, belajar, bahkan bekerja. Pagi itu, ketika Lintang bermain-main dengan boneka anjing dan mainan kayu yang tersebar di seluruh kamar, Tiwi mulai membuat pola baju di atas koran bekas. Mbok Jum muncul di depan pintu sambil membawa sebotol susu hangat. Melihat botol susu itu, Lintang menjatuhkan mainan yang dipegangnya, lalu menghambur ke arah Mbok Jum.
“Hei, Nona Cantik, sikat gigi dulu, ya,“ kata Tiwi, sambil menyambar handuk kecil basah di atas gantungan. Gadis kecil itu sedikit meronta di pangkuan ibunya ketika lap basah itu digosokan ke giginya yang kecil-kecil.
“Guguknya juga nanti sikat gigi, ‘kan,“ bujuk Tiwi, sambil pura-pura menggosok mulut boneka anjingnya.
Gadis kecil itu tiba-tiba membuka mulutnya lebar-lebar sehingga Tiwi bisa segera menyelesaikan tugasnya. Semua orang berkonsentrasi pada si kecil sehingga tak ada yang menyadari kehadiran Janges di depan pintu.
“Ibu yang hebat,“ katanya, sambil mengulurkan tangan ke arah Lintang.
Lintang mulai berceloteh, “Babab… babab… maem… maem….”
Mbok Jum berkomentar, “Wah, Lintang pantas, ya, jadi anaknya Mas Janges. Baru ketemu sekali sudah lengket begitu.“
Janges menyeringai, sambil mengedipkan sebelah mata. Tiwi pura-pura tidak melihat.
“Mbok Jum tidak usah membuat sarapan. aku mau beli gudeg,” kata Tiwi. Mbok Jum mengangguk, lalu keluar mengikuti momongannya.
Dari ruang tengah terdengar lagu anak-anak, diseling gelak tawa Lintang, yang berdansa dalam gendongan Janges.
“Mau ke mana, Wik?“ Janges mencegat motor Tiwi yang sudah masuk halaman samping.
“Mau beli gudeg,“ sahutnya.
“Aku antar saja biar Lintang bisa ikut,“ kata Janges, sambil mengambil kunci mobil. Tiwi membalikkan motor masuk garasi.
“Lintang dipangku Ibu, ya,“ kata Janges.
Lintang mengangguk kuat-kuat. Janges tertawa. Polah gadis kecil itu selalu menggelitik hatinya. Lintang tidak mau duduk di pangkuan ibunya. Dia ingin berdiri sambil melihat ke luar lewat kaca depan. Kentara sekali bahwa dia sangat senang diajak naik mobil.
Sampai di tempat yang dituju, mereka ternyata harus mengantre. Ada delapan orang yang berdiri di seputar meja bambu yang digunakan untuk meletakkan panci gudeg dan lauk-pauknya. Janges ikut melongok ke arah gudeg dari balik punggung ibu-ibu yang sedang antre. Lintang menunjuk-nunjuk wadah gudeg. Sepertinya ia lapar.
Tiwi berusaha menenangkan anaknya. Namun, kali ini Lintang tidak mau dibujuk ibunya. Teriakannya makin keras. Matanya berkaca-kaca.
“Barangkali dia sudah lapar, Wik,“ kata Janges.
Melihat Lintang, si penjual gudeg melambai ke arah Tiwi. “Sini, Jeng, saya ambilkan dulu. Nasi atau bubur?“ tanyanya.
Janges geli mendengar sebutan ‘jeng’ itu. Ia yakin, usia Tiwi sepantar dengan cucu si penjual gudeg itu.
Tiwi mengulurkan mangkuk plastik. “Bubur areh saja, Mbah. Telurnya separuh saja,“ sahut Tiwi.
Dia merasa tidak enak dengan pandangan mata di sekitarnya. Herannya, Lintang langsung diam. Matanya sudah jernih kembali.
Janges tersenyum geli, sambil mengusap-usap kepalanya. “Kamu pintar, ya. Jadi kita tidak usah antre.“
“Wah, Lintang sekarang nakal, ya. Belum mandi, kok, sudah makan,“ kata Tiwi, sambil mengulurkan sendok penuh bubur ke mulut Lintang, yang menyambutnya dengan lahap.
Janges mengambil dompet untuk membayar. Tiwi menolak, tapi Janges memaksa. Ketika Janges membuka dompet, dadanya berdesir. Ada foto dirinya di situ. Selama perjalanan pulang, Tiwi lebih banyak diam sambil memangku Lintang.
Keesokan harinya, Janges dan Tiwi menikmati nasi goreng di sebuah rumah makan, setelah Janges membelikan mesin obras untuk Tiwi.
“Mas, tadi malam Eyang bercerita apa saja, sih?” tanya Tiwi.
“Banyak sekali. Mulai dari kebun vanili yang dekat lereng Merapi sampai masalah kamu,” sahut Janges, tanpa menoleh.
Tiwi agak kaget. Selama ini Eyang tidak pernah menegur atau marah. Dia pikir, semua baik-baik saja. “Cerita, dong, Mas, biar aku lega,” pinta Tiwi.
Janges menoleh. Dia tidak mengiyakan, sepertinya dia sedang menimbang-nimbang. Janges menatap Tiwi. Dia yakin, dia tidak sedang berhadapan dengan gadis kemarin sore.
“Begini, sebenarnya Eyang tidak bicara banyak tentang kamu. Secara garis besar, Eyang mendukung semua yang kamu lakukan. Eyang cuma prihatin kenapa sampai saat ini seolah kamu tidak berniat untuk menikah,“ kata Janges, sambil mengembuskan napas panjang.
Tiwi bernapas lega.
“Wik, kamu tidak ingin menikah? Atau, kamu masih menunggu Ray?” tanya Janges, pelan.
Tiwi termangu. Pertanyaan itu menyodok harga dirinya.
“Mas Janges pernah membayangkan jadi orang tua tunggal? Tekanan sosial dari masyarakat pada perempuan seperti aku ini sangat tinggi. Untung saja aku ikut Eyang Putri. Semua orang di lingkungan sekitar berpikir suamiku gugur dalam tugas. Mbok Jum juga begitu. Stigma yang kusandang ini sulit sekali dihapus,” Tiwi berhenti sebentar untuk menarik napas.
Dia berharap ucapannya itu dipikirkan oleh Janges.
“Kalau kamu menikah, stigma itu akan hilang,” kata Janges, pelan.
“Jika aku menikah, banyak orang akan menjadi nyaman dan tenteram. Orang-orang tua di keluarga kita tentu merasa lega, tidak perlu mencemaskan aku lagi. Para tetangga, terutama ibu-ibu yang takut suaminya aku gaet, akan jadi tenteram karena di lingkungannya tidak ada lagi janda muda. Statusku dan Lintang akan jadi terhormat,“ tutur Tiwi.
Janges tidak percaya Tiwi mampu berpikir kritis seperti itu. Lingkungan dan keadaan yang membentuknya.
”Mas Janges, semua yang tampak tadi memang terlihat manis. Semuanya beres dan masyarakat hidup harmonis karena tidak ada warganya yang hidup melenceng. Tapi, sebenarnya, itu hanya tampak di permukaan saja. Stigma itu tidak hilang, Mas, cuma bergeser. Aku mungkin tampak terhormat karena statusnya jelas, istri seseorang. Tapi, sebenarnya, masyarakat tidak pernah lupa siapa aku. Mereka tetap akan bersikap berdasar stigma itu. Sisanya, jelas basa-basi. Di belakang aku, mereka akan ngomongin aku,” kata Tiwi, lagi.
Janges tertegun. “Wik, kamu berprasangka terlalu jauh. Kamu salah paham,” kata Janges.
Tiwi menggeleng yakin. “Tidak, Mas. Itulah yang saya lihat di masyarakat. Dan, itu akan terjadi pada saya bila saya berbuat sama. Jadi, saya tidak akan menikah. Saya akan berusaha membangun hidup, sambil tetap membawa stigma itu,” lanjut Tiwi.
Janges melihat, pandangan Tiwi tidak seluruhnya benar. Tapi, dia tidak berniat mengkritiknya. Tatapan mata Tiwi yang berapi-api dan kalimat-kalimat yang diucapkan dengan suara bergetar adalah bukti bahwa itu merupakan gambaran dari kebulatan tekad Tiwi. Janges berharap, waktu akan membuat Tiwi matang dan mengubah sendiri pendiriannya yang keliru.
Pertemuan itu adalah pertemuan terakhir sebelum perpisahan panjang mereka. Janges pergi untuk mengambil gelar doktor. Tiwi tetap di Yogya menekuni kuliah dan usahanya, sambil membesarkan Lintang.
Penulis: Yetty Diaz PR


