<<<< Cerita Sebelumnya
Dia dikejutkan oleh munculnya laki-laki yang hanya berbalut handuk, baru keluar dari kamar mandi. “Hei, Tiwi, kapan datang?“ tegur Janges riang, sambil mengibaskan rambutnya yang basah.
Tiwi masih mematung sejenak. “Mas Janges sedang libur?“ tanya Tiwi.
“Bu, ada Tiwi, Bu!“ teriak Janges, sambil bergegas ke kamarnya. Tiwi meletakkan oleh-olehnya di meja, lalu ke dapur untuk mengambil air minum. Dia sudah duduk di meja makan ketika Janges keluar dari kamar dengan jeans pudar dan kaus oblong. Rambutnya yang gondrong disisir rapi.
“Bude ke pasar barangkali, Mas,“ kata Tiwi, sambil celingukan.
“Kamu ada perlu sama Ibu atau cuma main?” Janges duduk di seberangnya. Keduanya mengobrol akrab, tentang Janges yang sudah lulus kuliah, tentang keinginan ibunya agar Janges langsung bekerja, tapi bapaknya mendorongnya untuk sekolah lagi.
“Kamu mau kuliah di mana?” tanya Janges.
Tiwi menggeleng lemah.
“Kenapa tidak kuliah? Kamu ingin kerja?“ desak Janges.
“Nggak tahu,” sahut Tiwi, sambil memalingkan muka.
“Lho, kok, nggak tahu? Kamu ada masalah, Wik? Kamu dimarahi bapakmu? Bertengkar dengan ibu tirimu? Atau, apa?“ tanya Janges, pelan. Dia menggeser kursinya ke dekat Tiwi. Janges merasa, adik sepupunya sedang memiliki masalah dan dia harus membantunya.
Tiwi merasa, Janges benar-benar menyayanginya, siap melindungi, dan penuh pengertian. Jadi, Tiwi sering berbagi rahasia pada Janges.
“Kamu pasti punya masalah. Ngomong saja,” kata Janges, sambil merengkuh bahu Tiwi.
Tiwi masih diam, tapi kedua matanya basah.
“Ada apa, Wik? Bicaralah, aku pasti akan membantumu,” bisik Janges,pelan. Dia tahu, Tiwi pasti akan bicara setelah tangisnya reda. Jadi, dia harus sabar. Janges ingat, sejak kecil Tiwi jarang menangis. Bahkan, ketika berkelahi dengan anak laki-laki pun dan pulang dengan kepala benjol, dia tidak menangis. Jika sekarang Tiwi menangis, tentu masalahnya sudah tak tertanggungkan lagi.
“Mas Janges tidak marah kalau aku ngomong yang sebenarnya? Tidak merendahkan aku?“ tanya Tiwi, sambil menyusut air mata.
Janges tidak menjawab, tapi memandang lurus ke mata Tiwi. Itu sudah cukup mengatakan bahwa dirinya sanggup mendengar apa saja.
“Mas, aku hamil,” kata Tiwi, pelan. Bahunya berguncang, menahan isak. Sedetik Janges seakan disambar petir mendengar pengakuan Tiwi.
“Siapa yang melakukan ini, Wik?“ Suara janges mengandung kemarahan.
“Apakah Ray? Pacarmu yang anak ekonomi itu?“ tanya Janges lagi.
Tiwi mengangguk.
“Bapakmu tahu masalah ini?” desak Janges.
“Tidak, kalau tahu, aku pasti sudah dibunuhnya. Aku minggat dari rumah,” kata Tiwi.
“Apakah Ray sudah tahu tentang hal ini?“ tanya Janges.
Tiwi menggeleng.
“Lalu? Ray lari dan tidak mau bertanggung jawab? Begitu maksudmu?” desak Janges lagi.
“Ray tidak lari dan dia pasti bertanggung jawab. Dia bukan laki-laki pengecut,” sembur Tiwi.
Janges masih ingin mencecar Tiwi untuk mendapatkan semua data, tapi suara ibunya di halaman depan sudah terdengar dari ruang makan.
“Jangan ngomong pada Ibu dulu. Nanti coba kita selesaikan sendiri,“ kata Janges. Tiwi setuju. Siang itu Bude Murti membuat selamatan sederhana, syukuran karena Janges sudah selesai kuliah. Sore hingga menjelang magrib, Tiwi dan Janges sibuk membantu Bude Murti mengantarkan besek kepada tetangga dan sanak famili. Pakde Dibyo, suaminya, baru pulang dari Semarang menjelang sore.
Pukul delapan pagi Janges berpamitan pada kedua orang tuanya. “Bu, aku mau ke rumah Endro. Biar Tiwi ikut, daripada sendirian di rumah.”
Tiwi sudah mengikuti di belakang vespanya.
“Pulangnya jangan sore-sore, lho,” pesan Pakde Dibyo.
“Wik, pakai baju hangat, nanti masuk angin,” Bude Murti mengingatkan.
Tiwi mengangguk. Tiwi tahu, Janges tidak mengajaknya ke rumah temannya, tapi ke suatu tempat untuk menyelesaikan pembicaraan mereka kemarin. Ketika vespa sudah melalui daerah Jagoan, Tiwi baru bertanya, “Mas Janges, sebenarnya aku mau diajak ke mana?”
Janges tidak menjawab. “Wik, pegangan, ya….”
Dengan takut-takut Tiwi memegangi ikat pinggang Janges. Tapi, tangannya ditarik Janges, lalu dilingkarkan ke depan perutnya.
“Masa pegangan begitu saja malu, Wik,” kata Janges, di tengah deru motor yang lalu-lalang. Muka Tiwi merah dadu, tapi Janges tidak melihatnya.
“Ke Borobudur saja, ya, Wik? Mumpung bukan hari Minggu, jadi tidak ramai,” kata Janges.
Setelah membeli dua tiket masuk, mereka berjalan melalui pintu selatan. Janges dan Tiwi berjalan melalui jalan kecil, jalan setapak, lalu melewati pohon-pohon kepel yang sedang berbuah lebat, menuju bangunan besar yang dikelilingi tanaman langka. Tiwi hampir menyenggol buah maja sebesar kelapa kalau Janges tidak memegangi kepalanya. Tiwi sudah ingin protes ketika Janges menghentikan langkahnya, sambil menunjuk bangku panjang di bawah pohon sawo kecik yang rindang. Janges melesat ke arah bangunan berbentuk bulat yang menyerupai pendopo itu. Tidak lama ia kembali membawa dua botol soft drink dingin dan sebungkus kacang bawang. Tiwi menerima sebotol dan segera meneguknya.
“Wik, jika keadaannya sudah begini, apa rencanamu?“ Janges membuka kembali percakapan.
“Yang penting, Bapak tidak tahu bahwa aku hamil. Aku bilang, aku pergi ke Jakarta untuk mencari pekerjaan.“
“Kamu berniat aborsi, Wik?“ tanya Janges.
“Tentu saja, tidak. Apa pun yang terjadi, aku tidak akan menggugurkan kandunganku,“ balas Tiwi, sambil menatap mata Janges lekat-lekat. Janges khawatir dengan kekukuhan tekad sepupunya ini. Tekad yang disertai rasa putus asa bisa berakhir dengan tindakan nekat, yang terkadang tidak rasional.
“Bagaimana kalau Ray tidak datang, Wik?“ tanya Janges lagi. Dia tahu, pertanyaan itu sangat menyakitkan. Tapi, dia sangat ingin tahu, apa yang akan dilakukan gadis itu tanpa Ray.
“Mas Janges, Ray pasti mencariku karena Ray mencintaiku dan dia bukan pengecut.“
Jawaban Tiwi membuat Janges kasihan. Janges dapat merasakan Tiwi sudah ada di ambang batas keputusasaan.
“Tapi, kalau dia tidak menemukanku, ya, sudah,” kata Tiwi.
Janges sudah tahu, inilah klimaksnya. Seorang gadis kelas tiga SMA tentu belum punya rencana apa-apa, bila tiba-tiba hamil dan kekasihnya pergi meninggalkannya begitu saja. Semua kejadian yang dialami itu tentu di luar kerangka pikirannya sebagai remaja, yang belum membayangkan untuk jadi ibu. Darah Janges mendidih membayangkan sosok Ray.
“Kamu tahu alamat orang tua Ray?“ tanya Janges, sambil meraih Tiwi, lalu merengkuhnya.
Tangis Tiwi langsung pecah.
“Atau, alamat kerabatnya? Nanti biar aku yang mencarinya,“ bisik Janges lagi.
Tiwi menggeleng lemah. Janges menghela napas panjang. Menurut Janges, Tiwi adalah gadis yang serius, tidak genit, atau suka menggoda lelaki. Dan, yang jelas, Tiwi juga tidak bodoh. Jadi, kalau sampai kecolongan begitu, Ray pasti seorang bajingan dan perayu ulung. Janges geram pada pikirannya sendiri. Rasanya, ingin sekali ia membunuh laki-laki itu bila ada di hadapannya.
“Wik, siapa saja yang sudah tahu kehamilanmu?“ tanya Janges.
“Hanya Mas Janges,“ sahut Tiwi.
Keduanya diam, bergelut dengan pikiran masing-masing. “Wik, bagaimana kalau kamu ikut aku ke Kalimantan? Aku bisa menikahimu, untuk menyelamatkan bayi dalam perutmu. Setelah dia lahir, kamu boleh membuat keputusan apa saja.“ Kalimat itu diucapkan Janges dengan tenang.
“Mas Janges gila!“ pekik Tiwi, “aku tidak mau membohongi Bude dan Pakde, Mas.“
Rintihan Tiwi makin pilu di telinga Janges. “Atau, aku bilang pada Bapak dan Ibu bahwa aku yang menghamili kamu. Bagaimana? Ibu tidak akan marah. Paling-paling, kita akan segera dinikahkan,” desak Janges.
Tiwi menggeleng kuat-kuat. “Tidak, Mas. Aku hanya perlu bersembunyi dari bapakku sampai bayi ini lahir. Aku tidak ingin membohongi siapa-siapa, terlebih mengorbankan siapa-siapa. Aku tahu, Mas Janges berkata begitu karena Mas Janges menyayangi aku, ingin melindungi aku. Terima kasih, Mas. Tapi, aku tidak bisa menerima kebaikan hati sebesar itu.“
Janges tertegun dengan jawaban Tiwi. Ia tahu kenapa ia menyukai sepupunya itu. Tiwi jujur dan apa adanya. Dan, Janges respek padanya. Orang bisa berbuat salah. Itu manusiawi. Tapi, tidak semua orang berani jujur mengakui kesalahannya, lalu bertanggung jawab.
Cerita Selanjutnya >>>>
Penulis: Yetty Diaz PR


