Foto: shutterstockSetelah demam es kopi susu kini giliran kedai boba atau bubble tea menyebabkan antrean panjang. Bahkan saat Jakarta mati listrik kemarin, kedai boba tetap diserbu. Bukan hanya di Indonesia, demam boba juga terjadi di Singapura, Malaysia, dan Jepang. Antrean pembeli juga mewarnai pusat-pusat belanja di sana.
Ini bukan kali pertama tea booming. beberapa tahun lalu ia pernah membuat kehebohan yang sama di Indonesia. Berbagai merek muncul, namun meredup seiring waktu, hingga hanya satu merek bubble tea yang bertahan, hingga belakangan popularitasnya kembali meningkat.
Bubble tea atau kini disebut boba atau tapioca, tapioca tea, tapioca drink di Jepang, adalah minuman terbuat dari campuran teh, susu, gula, perisa, serta bola-bola dari tepung tapioka (tepung singkong). Minuman ini berasal dari Taiwan. Sebuah kedai teh Chun Shui Tang di Taichung, Taiwan disebut-sebut yang pertama membuat bubble tea pada tahun 1980-an karena terinspirasi teh yang disajikan dingin di Jepang.
Pada tahun 1988 bersama timnya mencoba memodifikasi fen yuan, pudding manis dari tapioka khas Taiwan menjadi bentuk bola-bola kecil, lalu memasukkannnya dalam teh susu. Tak disangka inilah produk ini disukai banyak orang. Di Taiwan dengan mudah kita bisa menemukan kedai bubble tea di berbagai sudut kota. Ia kemudian menyebar hingga ke berbagai negara Asia.
Jepang bisa dibilang negara Asia terakhir yang terkena demam bubble tea. Seperti biasa, Jepang selalu all out mengolah tren. Toko bir mengikuti tren dengan menambahkan bola-bola tapioka ke dalam segelas bir. Bola tapioka yang manis dan kenyal jadi perpaduan unik saat dikonsumsi bersama bir yang pahit.
Tak hanya minuman, bubble tea diadaptasi dan muncul dalam bentuk ramen yang disebut tapioca tsukumen. Ramen disajikan kering dengan semangkuk bubble tea dingin terbuat dari kaldu dan teh susu serta tambahan bola-bola tapioka. Bahkan ada juga yang mencoba memasak nasi menggunakan segelas bubble tea.

Tokyo Tapioca Land
Popularitas boba pun menginspirasi hadirnya Tokyo Tapioca Land di depan stasiun Harajuku, Tokyo, pada tanggal 13 Agustus hingga 16 September 2019. Anda bisa masuk ke theme park yang dibuka terbatas ini dengan membayar 1200 Yen atau sekitar Rp160.000. Dengan tiket itu Anda mendapat segelas boba dan kesempatan untuk mencoba berbagai permainan. 1000 ticket presale yang dijual lebih murah telah habis terjual!
Di sisi lain, kopuleran milk tea boba ini juga mengundang keperihatinan sebagian masyarakat. Di Singapura, kekhawatiran tentang kandungan gula dan kalori yang disumbangkan boba jadi perhatian besar.
Sebagian orang mungkin menyangka kandungan teh dalam boba membuatnya lebih baik daripada soft drink. Padahal kenyataannya tidak.
Meski teh baik teh hitam, teh merah, maupun teh hijau sejatinya mengandung antioksidan yang memberi keuntungan bagi kesehatan, kandungan gula dan lain-lain dalam boba bisa melenyapkan semua manfaat itu. Segelas (500ml) brown sugar boba milk yang paling populer di Singapura, bisa mengandung 92g gula, atau tiga kali lipat dari kandungan gula dalam sekaleng (320ml) minuman cola.
Foto: shutterstockMount Alvernia Hospital Singapura juga menyampaikan kekhawatiran efek boba terhadap kesehatan bahkan bisa meningkatkan risiko penyakit kronis seperti obesitas, penyakit jantung, dan diabetes. Apalagi sebagian besar penyuka boba adalah anak-anak dan remaja.
Dalam lamannya, mereka membandingkan kandungan gula dalam beberapa boba yang terkenal di Singapura belakangan ini, dan menemukan boba varian brown sugar milk tea with pearls adalah yang paling tinggi mengandung gula, yaitu sekitar 18,5 sendok teh.
Disusul boba winter melon tea yang mengandung 16 sendok teh gula, teaspoons of sugar. Bahkan jenis yang berlabel buah pun perlu Anda perhatikan. Kandungan gula dalam boba varian passion fruit green tea adalah 8.5 sendok teh, jasmine green tea with fruit toppings, 8.5 sendok teh, sementara milk tea with pearls, 8 sendok teh.
Pakar kesehatan selalu menyarankan untuk membatas asupan gula. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia lewat Permenkes Nomor 30 Tahun 2013 memberi anjuran konsumsi gula per orang per hari adalah 10% dari total energi, sekitar 200 kkal atau setara dengan empat sendok makan gula atau 50 gram. Gula dalam segelas boba sudah pasti melebihi batas yang dianjurkan. Jika dikonsumsi tiap hari, bukan tak mungkin berat badan akan meningkat bahkan memengaruhi metabolisme tubuh.
Belum lagi sumbangan sampah gelas-gelas plastik dan sedotan besar yang digunakan untuk menikmati boba. Di media sosial beredar foto-foto yang menggambarkan antrean dan sampah gelas dan sedotan boba di Jepang. Kekhawatiran itu bahkan muncul di Jepang yang terkenal sangat tertib soal sampah dan memiliki pengolahan limbah sampah plastik, bagaimana dengan di Indonesia? Coba Anda lihat sekitar. (f)
Baca Juga:
Tak Hanya Memecahkan 3 Rekor Dunia, WASI Ajak Masyarakat Menyelam Sambil Mengolah Sampah Plastik
Ini 3 Rekor Dunia Bawah Laut yang Baru Saja Dipecahkan Indonesia
Mati Lampu, Minggu 4 Agustus, PLN Janjikan Kompensasi Bagi Pelanggan yang Terkena Pemadaman
Topic
#trendingtopic, #boba, #bubbletea, #gula, #obesitas


