Trending Topic
Benarkah Pria Ingin Terlihat Lebih Superior Lewat Humor Seksis?

20 Oct 2016


Foto: Fotosearch

Sorry, Jumat besok aku enggak ikut kalian main bowling. Nanti bini bisa ngomel kalau pulang kemalaman.”
Bini bawel itu biasa, bro, namanya juga perempuan… mulutnya ada dua!”
Apakah Anda tertawa mendengarnya? Candaan semacam itu biasa kita dengar dalam obrolan sehari-hari pria. Hidup tanpa candaan pastinya terasa kaku dan menjemukan. Sayangnya, lontaran humor yang vulgar justru yang paling sering disambut hangat dan terkadang dibiarkan saja, termasuk oleh wanita yang sering kali menjadi objek candaan. Di satu sisi, humor baik untuk menurunkan tingkat stres. Tapi, jika ‘terpeleset’ melontarkan hal-hal bernada pelecehan, tentunya bisa membuat tak nyaman.

Menghibur atau Menyinggung?
Humor sudah menjadi budaya dari kehidupan bermasyarakat sejak berabad-abad lalu. Sifatnya yang menghibur membuat humor efektif sebagai pengikat persahabatan, pencair kekakuan, dan pelepas ketegangan.  
 
Humor bisa dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja. Bentuknya bisa berupa cerita, gambar, ataupun gerak tubuh. Humor yang disengaja misalnya cerita humor, meme, komik, stand up comedy (lawak tunggal), film komedi, kartun, kesenian ketoprak, dan sebagainya. Sedangkan humor-humor yang tak disengaja biasanya berupa guyonan atau candaan di antara teman-teman, baik di kehidupan nyata maupun di media sosial dan grup chatting.

Sosiolog dari FISIP UI, Irwan M. Hidayana, Ph.D., menjelaskan bahwa sering kali humor dijadikan sarana pelepas tekanan akan perasaan atau buah pikir yang tak dapat dipaparkan secara terbuka. “Misalnya saja, candaan yang menyinggung etnis, ras, seksis, hingga seksualitas,” katanya. Humor dianggap sebagai cara paling aman untuk mengekspresikan sesuatu tanpa khawatir membuat orang lain tersinggung.
“Humor-humor ini dikenal dengan sebutan satir, atau lelucon yang mengangkat kelemahan atau kejelekan seseorang,” jelas Irwan.  

Lebih jauh, humor satir yang menyasar pada  kelompok tertentu masuk ke dalam  kategori humor seksis. Menurut penjelasan Pemerhati Gender dari Jurnal Perempuan, Dewi Candraningrum, humor seksis yang satir adalah humor-humor yang memandang inferior, menghina bentuk atau ukuran tubuh, menjadikan sebagai objek seks, terhadap pria, wanita, maupun waria.   

Sayangnya, banyak orang yang kian permisif akan candaan yang seksis. “Dulu masih terkotak secara homogen, artinya hanya berani dilontarkan pada peer atau kelompoknya. Namun, dengan  terbukanya informasi dan kebebasan berekspresi saat ini, humor-humor vulgar dan seksis ini bisa disebar di ranah publik yang heterogen tanpa canggung lagi,” kata Irwan.  

Guyonan Andri Hidayat (seorang ilustrator) di grup WA komunitas aksi sosial yang diikutinya, misalnya. “Pria yang pasangannya memiliki payudara besar sangatlah beruntung, karena berarti ia punya ‘pegangan’ hidup.” Begitu mengeluarkan lontaran tersebut, Andri merasa ada yang janggal dengan materi humor yang ia bagikan itu. Karena, beberapa anggota wanita yang tadinya aktif menimpali, seketika tak ada suaranya. “Beberapa memang tertawa, tetapi sebagian besar wanita jadi tidak melanjutkan obrolan,” ucap Andri, yang saat itu merasa sedikit menyesal.

Baca juga:
Humor kini tak hanya hadir di ruang eksklusif pertemanan. Kehadiran meme, blog, atau vlog menjadi medium baru orang untuk mengekspresikan guyonan mereka. Perkembangan humor Indonesia juga diwarnai dengan tren booming eksistensi comic (komedian lawak tungggal) yang naik daun di tanah air sejak awal tahun 2000. Dalam perkembangannya, memang lebih banyak comic pria yang menonjol. Humor-humor yang banyak diperdengarkan tentu saja humor khas pria: vulgar tanpa tedeng aling-aling.      

Salah satu komedian, blogger, vlogger, yang juga penulis buku dan comic Raditya Dika dikenal rajin mem-posting observasinya terhadap keseharian hidup. Salah satu topik yang sering diangkatnya adalah soal perilaku wanita, termasuk perilaku kekasih dan mantan-mantan kekasihnya, yang dianggapnya aneh. 
Misalnya, dalam salah satu rekaman lawak tunggalnya ‘Tentang Cowok dan Cewek’ yang diunggah ke YouTube, Raditya menceritakan tentang bagaimana kelakuan cewek cantik yang sering semena-mena menyiksa para cowok, seperti membiarkannya membawakan tas si cewek atau perilaku-perilaku negatif wanita lainnya di mata Raditya, seperti posesif, cemburuan, tak memberi kebebasan pacarnya menekuni hobinya, dan banyak lagi.  

Orang menerimanya sebagai kelucuan, bukan sinisme terhadap wanita, dan tak sedikit wanita yang malah menjadi penggemarnya.  Bisa jadi yang dipaparkan Raditya adalah kenyataan bagi sebagian besar wanita. Membuat banyak wanita bukannya terhina, tapi justru jadi ikut tertawa, karena merasa pernah melakukan apa yang dimaksud Raditya. 

Baca juga: Ada juga Kemal Pahlevi. Vlogger ini pernah membuat heboh karena secara random ia menanyakan ukuran bra wanita di jalan, dan video ‘humornya’ ini diunggah ke YouTube. Responsnya? Video ini sudah disimak sebanyak 60.000 lebih. Sebagian besar netizen menanggapi video ini sebagai pelecehan dan merendahkan wanita. Kemal akhirnya menghapus video itu dari YouTube dan minta maaf di akun Twitter-nya. 

Mengapa kebanyakan pria suka sekali melontarkan humor seksis atau mesum? Irwan menjelaskan bahwa seks merupakan identitas paling dasar dari tiap manusia. Hal yang paling mudah diterima oleh semua orang adalah seks. 

“Bandingkan jika humor itu adalah humor politik, humor tentang etnis tertentu, atau humor yang menyentil agama. Tidak semua orang bersinggungan dengan topik humor yang diangkat. Tak heran jika lontaran berbau seks akan disambut lebih hangat, ringan, mudah ‘dijual’, karena orang cenderung tertarik pada hal yang berkaitan dengan dirinya,” jelas Irwan. 

Fico Fachriza, seorang comic dari sebuah program acara stand up comedy di televisi, membenarkan hal ini. “Memang benar wanita sering menjadi materi komika karena wanita itu banyak kelakuan uniknya dan namanya lelaki, ya, pastinya tertarik jika berbicara soal wanita atau seks. Materi yang cukup seksis yang pernah saya lontarkan adalah tentang karakter wanita yang munafik. Diajak makan malu-malu, tetapi ketika dipesankan makanan justru makannya banyak,” akunya.  

Pada saat itu respons penonton tertawa saja. Fico mengaku berani menyampaikannya karena hal tersebut memang benar-benar ia alami. “Selama tidak menyinggung masalah fisik dan diambil dari riset keseharian, hal tersebut wajar untuk dijadikan materi,” tuturnya. Seorang komika, menurut Fico, harus berani mempertanggungjawabkan materi yang disampaikan, apalagi jika bermasalah di kemudian hari.

Tak hanya ditujukan untuk materi panggung oleh komedian, materi guyonan yang seksis juga sering dilakukan oleh teman-teman Fico selain komika. “Lewat media sosial atau ketika obrolan secara langsung. Bisa jadi, orang yang mengeluarkan joke seperti itu memang tidak punya materi yang lain dan kemampuan melucu mereka hanya sampai di situ saja,” tukas Fico.
 
Lebih jauh, sebuah penelitian menyebutkan bahwa alasan para pria senang melontarkan humor seksis di dalam kelompoknya adalah untuk menciptakan perasaan superior terhadap kelompok lain yang direndahkan tersebut. Tak heran jika humor-humor semacam ini bisa disambut hangat oleh peers-nya dan akhirnya menciptakan bonding pertemanan yang lebih kuat.

“Sebetulnya melontarkan humor seksis itu lebih banyak tujuannya bukan untuk merendahkan wanita, tapi pria itu hanya ingin mendapat pengakuan di lingkungannya, diterima, dan menciptakan keakraban lebih dengan teman-temannya,” kata Irwan. (f)

Reynette Fausto


Topic

#Gender