Trending Topic
Benarkah Wanita Merasa Lebih Terancam oleh Sesama Wanita?

10 Jan 2019


Dok: Pexels
 
Mungkin Anda pernah mendengar atau termasuk yang setuju bahwa wanita cenderung lebih ganas terhadap sesama wanita. Cerita-cerita bagaimana saling sikut antara wanita di gerbong khusus wanita di commuter line adalah cerita yang berulang-ulang kita dengar.
 
Yang terbaru adalah kasus dugaan prostitusi online yang dilakukan oleh selebritas, setelah tertangkapnya VA dalam penggerebekan yang dilakukan kepolisian di sebuah hotel di Surabaya, Jawa Timur. Mencuatnya kasus VA menimbulkan polemik di masyarakat, bahkan serangan yang cukup menyudutkan kepada VA - yang kini berstatus sebagai saksi dan wajib lapor – datang dari sesama wanita. Padahal dalam kasus ini, sang pria sebagai pengguna ‘jasa’ terkesan terbebas dari ‘serangan’ publik.
 
Apa yang terjadi di atas hanya contoh kecil, masih banyak di antara kita yang menganggap sesama wanita sebagai ancaman yang perlu dilawan. Ada teori yang mengatakan, hal itu terjadi karena battle field wanita sempit. Benarkah wanita dianggap sebagai ancaman bagi wanita lain?
 
Seperti pengalaman Mieke*, marketer di perusahaan elektronik, yang selalu menghadapi tatapan sinis dari rekan kerja wanita lainnya. Sekitar dua tahun lalu, ia dipercaya untuk mengerjakan proyek besar dan sukses mengerjakannya hingga selesai. Bukannya mendapat ucapan selamat, ia justru mendapatkan sentimen negatif dari rekan kerja wanitanya yang lain.
 
Tentu saja Mieke sangat kecewa, ketika orang lain hanya melihat dirinya dari sisi luar saja. Padahal, ia banting tulang untuk bisa memiliki skill kerja yang mumpuni seperti sekarang. “Bukan hanya tampilan cantik seperti yang banyak orang pikir, kesuksesan yang saya dapatkan sekarang adalah hasil dari jerih payah,” tuturnya.
 
Apa yang dialami Mieke terdengar familiar. Bagaimana di antara wanita, tanpa kita sadari, justru merasa harus saling bersaing dan menganggap satu sama lain sebagai ancaman yang perlu dilawan. Bukannya saling mendukung dan berjuang bersama, kita justru merasa harus saling sikut, atau mencari kejelekan kolega wanita yang lain, demi mendapatkan kesuksesan.
 
Shera Rindra Mayangputri, seorang aktivis yang aktif menginisiasi program edukasi kesetaraan gender, menyayangkan bahwa pertemanan yang positif antara wanita (sisterhood) di Indonesia belum terbangun dengan baik. Jika dilihat secara mayoritas, pertemanan antarwanita masih dipahami dalam bentuk ‘geng-gengan’, berkumpul untuk seru-seruan, lengkap dengan tuntutan untuk saling sama. Misal, jika ada salah satu anggota yang tidak suka pada seseorang, maka yang lain merasa harus ikut memusuhi orang tersebut. Jika tidak, maka akan dikucilkan.
 
Ironisnya, jenis pertemanan seperti ini sudah terbentuk sejak di bangku sekolah. Pasti kita pernah mendengar atau mengalami sendiri bullying atau penindasan yang dilakukan oleh sekelompok siswa perempuan kepada siswa lainnya. “Entah karena persaingan, kecemburuan, senioritas, atau hanya sekadar ingin merundung saja,” kata Shera, prihatin.
 
Kecenderungan persaingan negatif memang memiliki jejak yang panjang sehingga sulit sekali untuk mengubah kebiasaan tersebut. Hal ini erat kaitannya dengan tuntutan dari standar kecantikan hingga posisi yang tersubordinasi.
 
“Mayoritas wanita dibesarkan dengan pola pikir bahwa ia harus cantik, cakap pada urusan domestik, atau lebih hebat dari wanita lain. Ketika masih kecil, kita pun sering kali dibanding-bandingkan dengan anak perempuan yang lain. Secara tidak sadar, terbentuklah rasa bersaing pada wanita lain, perasaan insecure, kurang percaya diri, tidak percaya pada wanita lain, dan lain sebagainya,” tutur Shera.
 
Budaya patriarkat secara naluriah memang membentuk wanita yang sudah tersubordinasi dari pria jadi enggan untuk tersubordinasi dari wanita lainnya. Intinya, wanita tidak mau tersubordinasi dua kali: dari pria, juga dari wanita lain. Hal ini makin diperparah oleh kebiasaan untuk melihat dan menilai segala sesuatu dari sisi luar saja.
 
Apa yang terjadi di Indonesia, sebenarnya terjadi pula di belahan dunia lain. Mantan jurnalis asal Colorado, Amerika Serikan, Susan Skog, menyimpulkan hasil tidak menyenangkan dari penelitiannya terhadap 35 wanita lintas profesi yang telah ia wawancarai selama kariernya.
 
“Penindasan, saling menghalangi dan diskriminasi antar wanita telah membuat banyak wanita justru menjauh dari kesuksesan. Bayangkan, jika kita saling mendukung, pasti lebih banyak lagi wanita yang sukses saat ini,” tutur Skog, yang memublikasikan penelitiannya tersebut dalam buku Mending the Sisterhood & Ending Women’s Bullying (2015).
 
Fakta tentang masih banyaknya wanita yang menganggap bahwa budaya saling bersaing, menindas, dan mendiskriminasi sesamanya, menampar kita bahwa hal ini justru akan menghambat kesuksesan para wanita itu sendiri. Setidaknya, ada tiga hal, menurut Susan Skog, yang bisa kita lakukan untuk saling mendukung:
 
Pertama, terapkan zero tolerance terhadap bullying, bergosip, menindas dan mendiskriminasi orang lain. Karena, sekali kita mengabaikan,  selamanya kita akan membiarkan terjadinya saling menjatuhkan antarwanita.
 
Kedua, sampaikan kata-kata yang positif dan belajar untuk mendengarkan ide dari wanita lain, tanpa harus menghakimi dan tak mengacuhkannya. Jangan merasa terancam dengan gagasan brilian dari wanita lain, kita justru harus mendukungnya. “Ingatlah bahwa kata adalah alat paling kuat yang bisa kita gunakan untuk sebuah kebaikan. Gunakanlah kata-kata yang positif untuk mendukung sesama wanita,” saran Susan.
 
Ketiga, hindari meredupkan pesona diri hanya dengan melihat, membandingkan dan mengukur diri Anda dengan wanita lain. Cintailah diri Anda  sendiri dan lakukan yang terbaik, maka Anda akan kehilangan minat untuk membandingkan diri dengan orang lain. “Daripada buang-buang waktu saling bersaing, lebih baik perkuat bonding dengan sesama wanita dengan saling membantu. Percayalah, dunia akan jauh lebih baik,” cetus Susan.
 
Wanita tidak akan bisa maju, jika di antara wanita itu sendiri masih saling berkecamuk melawan satu sama lain. Inilah saatnya tiap wanita saling berpegangan tangan erat, melangkah maju serentak dan meraih kejayaan bersama-sama. Karena, ketika kita memberdayakan satu wanita, kita akan memberdayakan semua. (f)

Baca Juga: 

Wanita Karier Dan Stereotipe Gender Di Mata Psikolog Kristi Poerwandari
Sukses Bukan Hanya Milik Wanita Karier
Selamat Datang di Dunia Kerja yang Baru


 
 

Faunda Liswijayanti


Topic

#wanitakarier

 

polling
Resolusi 2019

Prioritas yang ingin dicapai tahun iniSudah masuk tahun 2019, nih. Tentu sudah ada rencana dan resolusi yang ingin Anda capai.