
Foto: Shutterstock
Belajar dari pengalaman saat libur panjang yang lalu, pemerintah telah menetapkan larangan mudik lebaran 2021. Mobilisasi saat ini masih menjadi salah satu faktor yang menyebabkan peningkatan angka kasus COVID-19 di Indonesia. Ada beberapa pertimbangan yang membuat pemerintah memberlakukan larangan mudik lebaran tahun ini, berikut paparannya untuk Anda ketahui:
1/ Belajar dari pengalaman libur panjang sebelumnya
Angka kenaikan kasus COVID-19 ini memang tidak langsung terlihat saat mobilisasi atau saat libur panjang berlangsung, namun ada jeda selama 10-14 hari. Dampak ini akan terasa selama minimal 3 pekan ke depan setelah masa libur panjang usai. Beberapa kasus sebelumnya yang bisa menjadi pelajaran berharga untuk kita:
- Libur Idul Fitri 2020 (22-25 Mei 2020) kenaikan kasus mencapai 68-93 %
- Libur Kemerdekaan RI (17, 22-23 Agustus 2020) kenaikan kasus mencapai 58-119 %
- Libur Maulid Nabi (28 Oktober – 1 November 2020) kenaikan kasus mencapai 37-95 %
- Libur Natal & Tahun Baru (24 Desember 2020 – 3 Januari 2021) kenaikan kasus mencapai 37 -78 %
2/ Menjaga kesehatan lansia
Walau pemerintah sudah mengeluarkan larangan mudik lebaran dan mengimbau warga untuk tetap berada di rumah, banyak warga yang tetap bersikeras untuk pulang kampung demi bertemu orang tua mereka. Tidak sedikit yang tidak mengerti bahwa pelarangan yang dilakukan pemerintah ini adalah salahs atu tujuan utamanya adalah untuk menjaga para orang tua yang berada di kampung halaman, mencegah mereka terpapar oleh virus yang di bawa anak-anaknya dari daerah pandemi.
Perlu disadari bersama bahwa penduduk usia lanjut lebih berisiko terpapar COVID-19 dengan risiko kematian berkali lipat dibandingkan usia muda. Belum lagi jika orang tua di kampung memiliki penyakit komorbid yang dapat meningkatkan lagi angka risiko terpapar dan kematiannya.
Sampai saat ini, data menunjukkan bahwa kasus positif COVID-19 yang tinggi berada di daerah perkotaan. Sangat memungkinkan orang kota membawa virus ini ke kampung halaman yang tujuannya adalah bertemu dengan orang tua atau sanak keluarga yang dituakan.
3/ Lonjakan kasus dan potensi varian baru di negara lain
Negara India saat ini sedang menghadapai kenaikan kasus positif COVID-19 tertinggi di dunia. Dalam tempo 24 jam, ada 346.786 kasus positif COVID-19 di India dan 2.624 pasien virus corona yang meninggal. Para ahli mengatakan kejadian mengerikan ini dapat ditelusuri melalui dua faktor, yakni mutasi yang sangat ganas dari virus asli dan lemahnya kontrol pemerintah dalam hal pembatasan kegiatan yang menyebabkan kerumuman guna memperlambat penyebaran infeksi. Kegiatan yang dimaksud adalah upacara Kumbh Mela di utara kota Haridwar yang dikunjungi oleh 5 juta peziarah Hindu yang datang dari berbagai daerah di India. Sebagian besar yang datang ke acara itu tidak mengenakan masker dan mengabaikan protokol kesehatan.
4/ Mencegah Penyebar Super (Super Spreader)
Penyebar super atau super spreader adalah orang yang postif COVID-19 dan menularkan ke lebih dari tiga orang lainnya. Kebanyakan dari mereka tidak menyadari bahwa dirinya sudah terinfeksi COVID-19 dan menyebarkan virus ke orang lain di sekitarnya. Penyebaran super ini biasanya terjadi saat banyak orang berkumpul. Karena itu, selain larangan mudik lebaran, pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk tidak mendatangi tempat wisata dan tempat-tempat yang bisa menyebabkan orang dalam jumlah banyak berkumpul. (f)
Baca juga:
Pemerintah Tetapkan Larangan Mudik Lebaran, Masyarakat Pilih Curi Start
Pemerintah Tetapkan Larangan Mudik Lebaran, Masyarakat Pilih Curi Start
Selalu Waspada, Ini Cara Identifikasi Alat Test Swab Baru
Topic
#lebaran, #mudik2021, #ramadan, #satgascovid-19


