
Foto: Stocksnap.io
Baru-baru ini, kita dikejutkan oleh kejadian seorang mahasiswa yang bunuh diri dengan cara menggantung diri di kamar kosnya. Vinsensius Billy (22), mahasiswa Fakultas Ekonomi UI, ditemukan tewas di kamar kosnya di Kukusan, Beji, Depok pada 1 Juni lalu.
Banyak spekulasi yang berkembang atas meninggalnya mahasiswa semester delapan yang kini tengah menyusun skripsi. Ada yang berpendapat, Billy mengalami depresi karena nilainya anjlok, namun ada pula yang beranggapan bahwa Billy bunuh diri lantaran skripsinya ditolak. Berikut ini adalah 7 alasan kenapa seseorang bisa bunuh diri.
1/ Depresi
“Depresi merupakan gangguan yang terjadi pada mood (alam perasaan) seseorang, yang jika berlangsung terus-menerus akan mengakibatkan terganggunya fungsi psikososial,” ungkap dr. A. Kusumawardhani, SpKJ(K), psikiater dari RSCM Kencana yang biasa disapa dr. Agung. Depresi adalah kondisi ketidakberdayaan seseorang dalam mengontrol mood sedih atau tidak bahagia yang ia rasakan di dalam dirinya. Jika berkelanjutan, gangguan depresi tingkat berat bisa saja mengarahkan penderita untuk melakukan tindakan bunuh diri.
Menurut dr. Agung, seseorang yang mengalami depresi ditandai dengan timbulnya perasaan sedih yang berlebihan, merasa tidak bahagia, dan timbul rasa putus asa. Gangguan perasaan ini diikuti dengan perilaku yang berbeda dari biasanya. Aktivitas motorik menurun, lamban, malas beraktivitas, dan lebih senang mengurung diri di kamar, dibarengi isi pikiran yang cenderung dipenuhi hal-hal yang sifatnya pesimistis. Seperti tidak ada lagi gunanya hidup. Bahkan yang paling ekstrem, pemikiran tentang kematian.
Depresi bisa terjadi karena ada pemicu sehingga terjadi gangguan penyesuaian (adjustment disorder). Depresi seperti ini disebut gejala depresi. Biasanya timbul akibat adanya stressor, seperti masalah pekerjaan, kuliah, asmara, beban pekerjaan yang bertambah, pindah ke lingkungan yang baru, dan masalah kehidupan lainnya.
Adjustment disorder ini kemudian ditunjukkan dalam bentuk mood yang menurun drastis (sedih berlebihan atau merasa tidak diterima lingkungannya), timbul rasa cemas, serta keluhan sakit fisik (sakit kepala, sakit perut). Keluhan lainnya, misalnya, jika Anda mengalami susah tidur. Gejala depresi adalah akibat yang timbul karena adjustment disorder. Tapi, jika masalahnya tak kunjung selesai atau stressor-nya tak juga hilang, gejala depresi ini bisa saja berkepanjangan sehingga menyebabkan timbulnya distimia, yaitu neurotic depresi yang berkepanjangan selama minimal 2 tahun.
“Gejala depresi yang seperti ini muncul karena ada upaya dalam diri seseorang untuk beradaptasi dengan persoalan yang dihadapi. Jika ia bisa mengatasi masalahnya dan mampu beradaptasi, gejala depresi ini akan hilang,” jelas dr. Agung.
2/ Gangguan Depresi. Depresi yang bisa muncul kapan pun, tanpa harus ada stressor-nya. Secara biologis orang yang mengalami gangguan depresi memiliki gangguan pada otak, yaitu neurohormon mengalami penurunan akibat berkurangnya hormon serotonin. Tidak ada penyebab pasti mengapa seseorang mengalami penurunan hormon serotonin di otak.
“Seperti penyakit alergi, tidak ada yang tahu apa penyebab seseorang memiliki bakat alergi. Begitu pula dengan gangguan depresi. Belum ada sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa gangguan ini disebabkan oleh keturunan atau kromoson tertentu. Jadi memang penyakit ini tidak dapat dicegah atau dihidari,” ungkap dr. Agung.
Gangguan depresi ada tingkatannya, mulai dari ringan, sedang, dan berat. Pada gangguan depresi ringan, seseorang masih bisa cheerfull sesekali dan menjalani aktivitasnya dengan normal, tapi mood-nya mengarah pada rasa tidak bahagia.
Makin berat tingkat depresinya, maka mood-nya makin merasa tidak bahagia, punya rasa bersalah, dan tidak memiliki alternatif pemikiran. Pada penderita gangguan depresi berat, ia tidak lagi bisa bekerja, lebih senang mengurung diri, dan memicu pada tindakan bunuh diri.
3/ Psikosis. Menurut kamus bahasa Indonesia, psikosis berarti menderita kelainan jiwa yang disertai dengan disintegrasi kepribadian dan gangguan kontak dengan kenyataan. Menurut Alex Lickerman, dokter di Universitas Chicago, penderita psikosis lebih sulit terlihat dibanding depresi, padahal sebenarnya kondisi mereka lebih parah. Seperti halnya penderita skizofrenia yang mengaku mendengar suara-suara yang menyuruh mereka untuk bunuh diri, demikian juga penderita psikosis.
4/ Impulsif. Biasanya berkaitan dengan penyalahgunaan obat terlarang dan alkohol, sebagian orang menjadi cengeng dan karenanya muncul keinginan impulsif untuk mengakhiri hidup. Setelah mereka sadar dan tenang, biasanya keingin untuk bunuh diri itu menjadi hilang dengan sendirinya.
5/ Tertekan dan butuh pertolongan, tapi tidak tahu ke mana harus meminta pertolongan. Mereka sebetulnya tidak ingin bunuh diri, tetapi sebelumnya mereka memberi tanda bahwa mereka sedang ada masalah berat. Kadangkala, mereka tidak membayangkan apa yang akan terjadi ketika mereka menyakiti diri sendiri.
6/ Punya alasan filosofis untuk mengakhiri hidup. Keputusannya berdasarkan motivasi kuat, misalnya, karena sakit berat yang sudah menahun dan sudah tidak ada harapan lagi. Mereka adalah orang yang ingin punya kendali atas takdirnya dan ingin meringankan penderitaannya.
7/ Kesalahan Pola Asuh Orang Tua.
Di satu sisi, anak yang pernah mengalami kekerasan dan trauma di masa kecilnya, bisa berakibat pada depresi. Di sisi lain, orang tua yang terlalu sayang pada anak, juga bisa berakibat buruk dan berujung mencelakakan anak. Misalnya, sikap tidak pernah menghukum kesalahan anak, selalu menuruti kemauannya, dan tidak pernah membiarkan anak menghadapi kesulitan, juga bisa berakibat anak mudah mengalami depresi di kemudian hari. (f)


