
Foto :Dok. FLW
Melalui pemandangan indah Gunung Pusuk Buhit dan Danau Toba sepanjang perjalanan menyusuri Pulau Samosir, tibalah kami di Desa Hutaraja Lumbansuhisuhi, Pangururan, Pulau Samosir. Hari itu, di pertengahan April, menjadi istimewa karena Ibu Negara Iriana Joko Widodo dan rombongan istri Menteri Kabinet Kerja yang tergabung dalam OASE KK (Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja) melakukan kunjungan ke desa pusat penenun ulos di Pulau Samosir ini.
Puluhan perajin, salah satunya Linda yang sudah 30 tahun menenun, duduk berjajar di depan alat tenun yang biasa mereka gunakan sehari-hari untuk menenun Ulos. Sedangkan di belakang mereka, tampak jajaran rumah adat khas Pulau Samosir yang usianya sudah ratusan tahun. Rumah adat dengan atap dan ukiran khasnya tentu akan menarik mata siapapun yang melihatnya.
Ya, Desa Hutaraja Lumbansuhisuhi tak hanya menjadi tempat bagi puluhan perajin ulos, tapi juga cagar budaya untuk arsitektur tanah Batak. Maka, jika Anda berkunjung ke Pulau Samosir, luangkan waktu untuk berkunjung ke desa ini.

Foto : Dok. FLW
Bagi masyarakat Batak, ulos merupakan selendang tradisional suku Batak yang memiliki makna tersendiri. Ulos kaya akan motif yang masing-masing memiliki makna dan arti filosofis tersendiri, sekaligus menjadi simbol harga diri orang Batak. Ulos dari desa ini terkenal karena dikerjakan langsung oleh masyarakat desa dengan tangan dan alat tenun sederhana.
Menurut Linda, satu helai selendang ulos motif sederhana ukuran 1 meter, bisa dikerjakan dalam waktu tiga minggu. Semakin rumit dan besar kain yang dikerjakan, maka semakin panjang pula waktu yang mereka butuhkan.
Kemampuan menenun ulos para wanita Desa Hutaraja Lumbansuhisuhi diwariskan turun-temurun. Mereka pun mulai menenun ulos sejak usia muda. Tidak heran jika gaung desa perajin ulos ini dikenal mancanegara, bahkan beberapa dari para perajin sudah diundang ke berbagai negara untuk mempromosikan Ulos.
Di desa ini pula Ibu Iriana membeli sepasang selendang dan sarung tenun ulos senilai Rp2 juta. Selendang ulos tersebut, pada saat itu, langsung ia kenakan sebagai penutup kepala ala wanita Batak Samosir.
Berkunjung ke desa perajin ulos ini memang sayang jika melewatkan kesempatan untuk membeli sehelai ulos. Harga ulos yang ditawarkan pun sepadan dengan proses pengerjaannya, mulai dari Rp300 ribu untuk ulos kualitas standar benang sutra hingga kualitas premium yang harganya bisa mencapai Rp5 juta.

Foto: Dok. FLW
Selain kain ulos, pengunjung juga bisa melihat langsung keunikan rumah khas batak yang terbuat dari kayu. Rumah dengan atap segitiga yang melengkung dengan bagian runcing di kedua sisinya, ini berbentuk rumah panggung dari kayu. Bagian bawah, biasa digunakan sebagai tempat untuk menyimpan hewan ternak, seperti babi. Sedangkan bagian atasnya dijadikan sebagai tempat tinggal dengan beberapa bagian.
Yang menarik bagian dinding luar rumah adat Toba yang selalu dipenuhi ukiran gorga, yaitu ukiran khas Batak. Ornamen ini dipercaya masyarakat setempat mengandung unsur mistis, sebagai penolak bala. Umumnya ukiran berbentuk lukisan hewan, seperti cicak, ular ataupun kerbau.
Berencana berkunjung ke Danau Toba dan Pulau Samosir? Masukkan desa Hutaraja Lumbansuhisuhi dalam itinerary liburan Anda. (f)
Baca Juga:
Torang MT. Sitorus, Tak Ada Kata Lelah Untuk Memperkenalkan Ulos Batak Toba
Resep Lapet Khas Batak
6 Kuliner Medan Wajib Coba
Faunda Liswijayanti
Topic
#danautoba, #sumaterautara, #desatenun, #pulausamosir


