Fashion Trend
Torang MT. Sitorus, Tak Ada Kata Lelah Untuk Memperkenalkan Ulos Batak Toba

15 Mar 2018

 

Foto: Gayuh
 

Sebagian besar masyarakat Indonesia secara adat memiliki ikatan yang erat dengan selembar kain. Ibaratnya, selembar kain selalu ada di setiap titik-titik terpenting dalam kehidupan seseorang, dari lahir, menikah, hingga meninggal dunia.
 
Demikian juga bagi suku Batak, yang memiliki kain ulos. Kain tenun tradisional suka Batak Toba ini menjadi hal penting dalam setiap upacara adat, dan juga dipakai sehari-hari. Karena itu, jenis ulos pun berbeda-beda, disesuaikan dengan kebutuhan upacaranya.
 
Namun, bukan cerita baru, bahwa kekayaan budaya ini juga mulai rawan punah karena tak banyak generasi muda yang menguasai tekniknya. Beruntung ada Torang MT. Sitorus, pemilik Sumatera Loom Gallery, yang sejak 20 tahun lalu sudah bergiat melestarikan kekayaan budaya sukunya.
 
 

Di antara 3.000 koleksi ulos, ada yang berusia lebih dari 100 tahun.
Foto: Gayuh
 
 
Pada awal Maret lalu, femina berkunjung ke museum mini milik Torang – begitu pria 38 tahun ini biasa dipanggil- yang menyimpan 3000 lebih lembar ulos Batak Toba. Museum mini ini terletak di sebuah rumah yang asri di Jl. Sultan Hasanuddin No 28 Kota Medan. Ruangan-ruangan rumah ini menjadi ruang pamer yang mengagumkan, dari ulos yang sudah berusia lebih dari 100 tahun hingga selembar selendang hasil karya anak-anak muda di Porsea yang menjadi binaannya.
 
“Museum mini ini sebagai bentuk kecintaan saya terhadap tenun, sekaligus menjalankan amanat almarhumah mama,” ujar Torang.
 
Sejak kecil, Torang memang dikelilingi kain ulos adat. Papanya adalah seorang tokoh adat di marganya, sedang mamanya adalah seorang ‘bidan manten’ yang terbiasa mengurusi upacara adat pernikahan, bahkan juga kematian. “Kedua orang tua saya otomatis memiliki banyak koleksi ulos untuk upacara adat yang dipelihara dengan sanga baik oleh mama,” ujar Torang.
 
 

Salah satu ulos karya anak-anak muda binaan Torang.
Foto: Gayuh
 
 
Sejak kecil, hari-hari Torang makin dekat dengan kain karena kemudian orang tuanya membuka sanggar pembuatan tenun. Setiap liburan dia dan kelima saudaranya yang lain juga diajak keliling Toba untuk berburu kain. “Tapi di umur 19 tahun saya berontak, dan ‘lari’ ke Bali,” katanya, mengenang.
 
Namun, justru di Bali setelah melihat berbagai museum –termasuk Museum Kain milik Obin- matanya terbuka, betapa rumahnya di Porsea menyimpan kekayaan yang tak ternilai. Ia pun pulang, dan mulai menjalankan sanggar tenun milik orang tuanya. Torang juga giat memperkenalkan ulos Batak Toba lewat berbagai acara fashion maupun seminar di Indonesia juga mancanegara.
 
“Indonesia ini sebenarnya besar, tapi terus terang, pecinta kain masih berpusat di Jakarta. Di Medan saja misalnya, belum banyak orang Batak yang mengapresiasi kain ulos dengan baik. Jadi, bila ditanya pencapaian saya, saya sudah sangat bahagia bila kini kian banyak orang Batak yang mengenakan ulos untuk busana pengantin, karena sebelumnya mereka lebih memilih mengenakan songket,” ujar Torang yang sedang bersiap mengikuti ajang Indonesia Fashion Week.
 
 

Toran juga sudah menulis buku tentang ulos.
Foto: Gayuh
 
 
Satu hal yang lain, Torang juga ingin menegaskan, bahwa mencintai kain, bukan berarti menempatkan kain di menara gading yang tidak bisa disentuh, apalagi dipotong menjadi baju. “Kalau untuk kain yang langka memang, tapi kan ada kain-kain berkualitas medium yang bisa dipotong dijadikan baju atau aplikasi baju. Dengan demikian, maka akan makin banyak yang bisa menggunakan kain,” katanya.
 
Meski museum mini sudah ia wujudkan, namun ia masih memendam cita-cita untuk memiliki museum yang sesungguhnya. Karena itu, ia terus mengumpulkan berbagai benda adat yang akan mengisi museumnya kelak. Hal lain yang membuatnya bangga, ia berhasil membina kelompok-kelopok anak muda di daearah Toba yang mau menjadi perajin ulos dengan cara tradisional, yaitu dipintal dari benang kapas dengan pewarnaan alami. (f)


Baca Juga:
Inspirasi Gaya Wastra Tradisional yang Stylish dari Pemenang Lomba Perancang Mode 2017
Mau Nikmati Hidangan Batak Karo? Kenali 7 Bumbu Ini!
 

   


Yoseptin Pratiwi


Topic

#ulos, #batak, #kainnusantara, #kainadat

 

polling
Resolusi 2019

Prioritas yang ingin dicapai tahun iniSudah masuk tahun 2019, nih. Tentu sudah ada rencana dan resolusi yang ingin Anda capai.