Health & Diet
Sebagian Besar Batita di Bandung Konsumsi Makanan Ringan Buatan Pabrik yang Meningkatkan Risiko Menderita Stunting

19 Dec 2018


Dok. Charlein Gracia / Unsplash

 
Usia dini, khususnya di bawah usia 3 tahun, adalah usia emas pertumbuhan anak. Pada masa pertumbuhan ini, anak-anak perlu mendapatkan asupan makanan yang sehat dan gizi seimbang, serta bebas dari paparan makanan dengan kandungan gula, garam dan minyak berlebih.
 
Sayangnya, pemahaman tentang makan sehat bagi anak-anak usia dini ini belum benar-benar dimiliki oleh sejumlah ibu-ibu di daerah Bandung. Setidaknya hal tersebut dibuktikan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh organisasi Helen Keller International (HKI) yang bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Dinas Kesehatan Kota Bandung dalam proyek ARCH : Program Pemberian Makan untuk Bayi dan Anak Berbasis Bukti.
 
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap 595 ibu ditemukan fakta bahwa 81.6 % dari mereka sudah memberikan makanan ringan buatan pabrik. Sedangkan pemberian minuman berpemanis cenderung lebih rendah, yaitu 40%. Prevalensi dan frekuensinya meningkat seiring bertambahnya usia.
 
Adapun makanan ringan yang paling sering dikonsumsi oleh anak-anak usia 6-35 bulan ini adalah biskuit manis (56.8%), makanan ringan gurih atau asin seperti keripik (47.3%), permen, coklat atau agar-agar (33.7%), bolu manis (24.7%), es krim (7.9%), dan mi instan (7.9%).
 
Sementara jenis minuman berpemanis yang paling banyak dikonsumsi adalah susu berpemanis (33.3%), teh berpemanis (10.1%), jus dalam kemasan (3.4%), dan soda (0.4%).
 
“Padahal produk makanan ringan buatan pabrik ini umumnya tinggi kandungan gula, garam dan rendah zat gizi. Konsumsi yang tinggi selama periode pemberian makanan pendamping ASI menggeser ASI dan makanan yang lebih bergizi, serta meningkatkan risiko obesitas dan terjadinya penyakit degeneratif,” tutur dr. Dian N. Hadihardjono, Msc, Nutrition Program Manager HKI seraya memaparkan hasil penelitian tersebut.
 
Hal ini semakin diperburuk dengan rendahnya pemberian asupan makanan yang sehat dan cukup gizi kepada anak-anak usia dini. Yaitu sayuran berwarna kuning dan jingga (45.1%), sayuran berdaun hijau (20.6%), umbi-umbian (18.6%), ikan atau makanan laut lainnya (13.5%), buah berwarna kuning dan jingga (6.7%), sayuran lain (25.9%), dan buah-buahan lain (42.4%).
 
Ditambahkan oleh dr. Dian, diet makanan dan minuman tak sehat pada anak usia dini akan semakin meningkatkan risiko mereka menderita stunting. Stunting adalah bentuk gagalnya pertumbuhan yang dicirikan dengan tinggi badan anak lebih pendek dari anak seusianya.
 
Bahayanya, tak hanya pertumbuhan fisiknya saja yang terhambat, sayangnya kecerdasan anak pun pada akhirnya ikut tersendat. Karena memang, 80% kecerdasan anak terbangun pada 1.000 hari pertama kehidupan. Ironisnya, perkembangan kecerdasan yang gagal terbentuk tidak bisa diperbaiki.
 
Kembali diingatkan oleh dr. Dian untuk memberlakukan ASI eksklusif yang dibarengi diet makanan sehat dan asupan gizi yang cukup untuk anak-anak usia dini. Seperti slogan Isi Piringku yang dicetuskan oleh Kementerian Kesehatan RI sebagai panduan porsi makan seimbang, yaitu separuh isi piring berisi 2/3 sayuran, 1/3 buah, sementara separuhnya lagi diisi 2/3 karbohidrat dan 1/3 lauk pauk dengan protein hewani atau kacang-kacangan. (f)


Baca Juga :

Gerakan Cegah Stunting Di Jawa Barat, Jangan Lagi Ada Anak Kerdil
Masalah Kurang Gizi Bisa Terjadi Sejak Bayi Dalam Kandungan
Relasi Konsumsi Rokok dan Stunting Pada Anak

 

Citra Narada Putri


Topic

#kesehatan, #stunting, #diet, #anak