Health & Diet
Masalah Kurang Gizi Bisa Terjadi Sejak Bayi Dalam Kandungan

1 Nov 2018


Foto: Fotosearch

Data yang dirilis WHO tersebut menjadi bukti bahwa gizi buruk ternyata masih menjadi masalah klasik di negeri ini. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 juga menunjukkan bahwa 37,2 persen balita  mengalami stunting, dengan angka tertinggi di Nusa Tenggara Timur (50%), dan bervariasi dari yang terendah di Kepulauan Riau, DI Yogyakarta, dan DKI Jakarta (30%).
 
Menurut Prof. dr. Endang Laksminingsih, MPH., Dr. PH, dari Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, masalah kurang gizi sudah dimulai sejak seorang bayi masih dalam kandungan. Kekurangan gizi dalam kandungan dapat membuat pertumbuhan anak terhambat sehingga ada dua indicator yang digunakan untuk mengategorikan apakah anak tersebut mengalami kekurangan gizi.

Pertama, berat badan lahir (BBLH) kurang dari 2.500 gram. Kedua, panjang badan lahir (PBLH) kurang dari 49 sentimeter. Lalu, apa penyebab seorang bayi kekurangan gizi sejak dalam kandungan? “Penyebab pertama, sebelum memasuki kehamilan, kondisi tubuh ibunya kurus,” ujar Prof. Endang. Tubuh yang kurus bisa menjadi indikasi bahwa si ibu tidak memiliki cadangan gizi yang cukup bagi anak yang dikandungnya.
 
“Bayi dalam kandungan mengonsumsi zat- zat makanan yang sudah ada di tubuh ibunya, bukan dari zat makanan yang baru dimakan si ibu,” Prof. Endang menjelaskan. Dengan demikian, saat memasuki kehamilan, nutrisi seorang wanita memang harus tercukupi.
 
Faktor kedua adalah anemia. “Seorang wanita yang mengalami anemia berisiko memiliki anak yang lahir dengan berat badan dan panjang badan yang kurang,” kata Prof. Endang.
 
Anemia menjadi persoalan, karena data Riskesdas 2013 menunjukkan, ada 22,7 persen wanita usia subur (18-45 tahun) yang mengalami anemia. Sementara, ada 30,7 persen wanita hamil di Indonesia yang mengalami anemia. Anemia adalah kondisi ketika seseorang kekurangan kadar haemoglobin (hb) dalam darahnya. Padahal, hb diperlukan untuk mengangkut oksigen ke seluruh tubuh, untuk pembentukan sel-sel otot dan sel-sel otak.

Sementara, ketika kita hamil, oksigen tersebut tidak hanya dibutuhkan oleh tubuh si ibu, tapi juga untuk si bayi. Jadi, bila asupan oksigennya terganggu, perkembangan dan pertumbuhan  janin terganggu, tubuh jadi kurang sigap, kemampuan otak pun jadi tidak kinclong.
 
“Yang mungkin kurang disadari adalah selama di dalam kandungan, seorang bayi juga sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan organ-organ penting dalam tubuh. Berat badan lahir dan panjang badan itu hanya yang kelihatan, sementara yang tidak kelihatan adalah pembentukan organ-organ tubuh, apakah bisa berkembang maksimal?” urai Prof. Endang.
 
Apabila pertumbuhan organ-organ tubuh tidak maksimal, maka, saat ia tumbuh dewasa akan terlihat bahwa organ tubuhnya tidak berfungsi sehingga ia rentan terkena penyakit-penyakit tidak menular, seperti diabetes, stroke, dan serangan jantung. “Karena itu, selain menurunkan kemampuan kognitif otaknya, masalah kurang gizi ini juga meningkatkan potensi terjadinya penyakit-penyakit tidak menular di usia dewasa,” kata Prof. Endang, menegaskan. (f)

Baca Juga:

Gula Darah Terlalu Tinggi Atau Terlalu Rendah Sama-sama Berbahaya
Lakukan 5 Langkah ini, Agar Terbebas dari Stres
Ini Tanda-tanda Anda Terancam Stroke

Yoseptin Pratiwi


Topic

#stunting, #kesehatanibudananak, #giziburuk

 

polling
Pertimbangan Dalam Memilih Kartu Kredit

Belakangan ini bank makin kreatif dan gencar dalam meluncurkan kartu kredit. Mereka pun bersaing memberikan berbagai fasilitas untuk menggaet pengguna baru.