
Foto: Unsplash
Sejak pandemi berlangsung di Tanah air awal tahun lalu, kondisi saat ini tercatat sebagai puncak dari pandemi di Indonesia. Situasi yang genting, mendorong pemerintah di berbagai daerah zona merah COVID-19 untuk menarik rem darurat dengan memberlakukan lockdown, seperti yang dilakukan Jakarta dan Bandung sepekan terakhir ini.
Data per 21 Juni 2021 menyebutkan angka COVID-19 di Indonesia menembus 2.004.445 kasus, dengan angka kesembuhan mencapai 1.801.761 dan meninggal 54.956. Penambahan kasus harian tertinggi terjadi di Jakarta mencapai 5.014. Sedangkan Jawa Tengah berada di angka 3.252 kasus, diikuti Jawa Barat diangka 2.719 kasus harian.
Mengantisipasi penyebaran virus dan munculnya varian virus baru, pemerintah semakin gencar melakukan percepatan vaksinasi program vaksinasi nasional sebagai upaya melindungi masyarakat. Pemerintah Indonesia menargetkan pemberian vaksinasi kepada 181,5 juta penduduk atau 70 persen dari total populasi.
Kehadiran vaksin memang menjadi langkah pencegahan yang penting diambil untuk membentuk Herd Immunity. Namun perlu kita pahami bahwa tidak ada langkah pencegahan yang 100% efektif. Memadukan perlindungan dari dalam dan luar dengan penerapan protokol kesehatan menjadi upaya yang bisa kita lakukan bersama, untuk mengurangi risiko terpapar atau tertular virus.
Seperti dijelaskan oleh dr. Dirga Sakti Rambe M,sc, Sp,PD, Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan Vaksinolog, saat ini persentase penduduk Indonesia yang telah divaksin masih terbilang kecil dari total populasi Indonesia. Apalagi, saat ini kita dihadapkan pada ancaman berupa mutasi virus baru yang mulai ditemukan di tanah air serta angka kasus yang tinggi. Kewaspadaan perlu semakin ditingkatkan.
“Protokol kesehatan 5M menjadi proteksi majemuk yang wajib untuk kita terapkan bersama yaitu mulai dari Menggunakan Masker, Mencuci Tangan, Menjaga Jarak, Menghindari Kerumunan dan Mengurangi Mobilitas. Penggunaan masker terbukti sangat efektif dalam mencegah penularan,” ungkap dr. Dirga.
Namun, dr. Dirga mengingatkan bahwa efektivitas penggunaan masker juga bergantung pada jenis dan cara penggunaan masker. Masker medis terbukti masih paling efektif, jika digunakan dengan tepat.
“Saya menyarankan untuk mengganti masker maksimal 6 jam, atau ganti segera setelah masker sudah basah atau kotor,” tambah dr. Dirga dalam webinar yang diselenggarakan PT Tempo Scan Pacific Tbk melalui brand SOS Personal Hygiene yang mengajak masyarakat untuk #TetapWaspada, disiplin menerapkan protokol kesehatan dan kebersihan, untuk melindungi diri dan keluarga dari ancaman virus berbahaya dengan pemilihan produk personal hygiene seperti hand sanitizer, hand wash antibacterial dan masker medis, yang telah teruji secara klinis mampu membunuh kuman dan virus. (f)
Baca Juga:
Tren Kasus COVID-19 Pada Anak Meningkat, Ini Gejala yang Orang Tua Perlu Waspada
Survei Femina: 26% Wanita Minum Air Putih Kurang Dari 4 Gelas Sehari
Ini Alasan Kenapa Vaksinasi Flu Sangat Dianjurkan Selama Pandemi COVID-19
Faunda Liswijayanti
Topic
#covid19, #corona, #3M




