Health & Diet
Menjaga Kualitas Hidup Orang dengan Skleroderma (ODS)

7 Jan 2018


Foto: Pixabay

Skleroderma berasal dari kata scleros yang berarti keras dan derma berarti kulit. Menurut penelitian, secara statistik wanita yang menderita skleroderma lebih banyak dibanding pria, dengan perbandingan 3:1. Skleroderma dapat ditemukan pada tiap kelompok usia, dari bayi sampai orang tua, tapi paling sering padausia 25-55 tahun. Belum ada data mengenai angka kejadiannya di Indonesia . Penyebab pasti skleroderma masih belum diketahui, diduga faktor jenis kelamin, ras, dan latar belakang etnis, dapat memengaruhi risiko.
 
Merupakan penyakit kronis, tidak menular, tidak menyebabkan infeksi, tidak bersifat kanker atau ganas, dan biasanya bukan karena keturunan. Meski tidak diwariskan/diturunkan secara langsung, diperkirakan faktor riwayat penyakit reumatik pada keluarga meningkatkan risiko. Pada ODS, proses autoimun dan kerusakan pembuluh darah yang dialami menimbulkan produksi kolagen berlebihan. Kolagen adalah protein utama dari jaringan ikat tubuh, seperti benang yang mengikat sel-sel menjadi satu.
 
Kolagen ditemukan pada kulit, persendian, tendon, dan bagian-bagian dari organ internal. Ketika roduksi kolagen berlebihan, terjadi penebalan dan pengerasan di daerah yang terkena, yang pada akhirnya akan mengganggu fungsi normal dari bagian-bagian tubuh tersebut.
 
Gejala skleroderma sangat bervariasi pada tiap individu. Efek skleroderma sangat bervariasi, dari sangat ringan sampai mengancam kehidupan. Beratnya penyakit tergantung pada bagian tubuh yang terkena dan sejauh mana bagian tubuh tersebut terpengaruh. Pada beberapa kasus, skleroderma menyerang kulit dalam beberapa tahun, kemudian menyebar ke organ internal.
 
Diagnosis yang cepat, tepat, dan pengobatan oleh dokter spesialis yang tepat akan meminimalkan gejala-gejala skleroderma dan mengurangi kerusakan yang irreversible/tidak bisa disembuhkan. Penanganan skleroderma tergantung keterlibatan organ yang terkena. Pengobatan utama menggunakan ’immunosuppressive’ untuk menanggulangi agresivitas penyakit.
 
Beberapa obat yang dapat digunakan yaitu methotrexate, siklofosfamid, azathioprine, mikofenolat mofetil, siklosporin, serta obat agen biologik seperti rituximab, basiliximab, atau dengan transplantasi stem sel (masih dalam penelitian). Pada pasien skleroderma, pengendalian stres fisik maupun psikis sangat membantu pengobatan. Rokok sebaiknya dihindari oleh ODS, baik sebagai perokok pasif apalagi aktif.
 
Di masyarakat awam, sering timbul kesalahpahaman mengenai skleroderma. Di awal sakit, timbulnya bintik-bintik putih di kulit sering disalahpahami dengan panu dan sejenisnya, kemudian lingkungan akan menghindarinya karena takut tertular. Skleroderma tidak menular,dan bukan penyakit kutukan. Alhasil, banyak dari penderita yang belum tercerahkan ini mencari pengobatan yang kurang tepat. Deteksi dini, kesadaran masyarakat akan penyakit skleroderma, penerimaan terhadap pasien skleroderma, serta terapi yang tepat akan membantu ODS untuk bisa kembali sehat dan remisi lebih cepat.(f)


Baca juga:
Perjuangan Patricia Ayu Menepis Keterbatasan Akibat Penyakit Autoimun yang Dialami
Jangan Kucilkan Penderita Autoimun, Ini Alasannya
Waspadai Autoimun yang Banyak Menyerang Wanita dan Anak!


Konsultasi: dr. Rakhma Yanti Helmi SpPD, Divisi Reumatologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, RSUP Dr. Karyadi, Semarang
 


Topic

#skleroderma

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?