Foto: Dok. Generali
Asupan makanan, olahraga, tidur, dan stres merupakan hal yang saling memengaruhi satu sama lain untuk menjaga tubuh tetap sehat. Tidak hanya stres yang membuat seseorang sulit tidur, namun asupan makanan yang tidak sehat juga bisa menjadi penyebabnya. Sebaliknya kurang tidur mampu meningkatkan stres dan mendorong seseorang makan makanan yang tidak sehat.
Selain itu, kurang tidur menyebabkan tubuh tidak bisa beristirahat dan memperbaiki diri yang nantinya akan mengganggu program diet dan pola olahraga. Tidur yang cukup akan membantu metabolisme tubuh dalam mencerna nutrisi dan memaksimalkan kualitas olahraga, begitu pula sebaliknya, semakin baik asupan makanan dan olahraga maka pola tidur juga akan lebih teratur.
Di sisi lain, penelitian menyatakan bahwa pola tidur dan stres berlebihan mampu meningkatkan risiko mengidap penyakit kanker, kardiovaskular, gastrointestinal, dan diabetes. Selain sakit secara fisik, stres yang tidak terkelola juga mampu menyebabkan keletihan mental dan gangguan secara psikologi seperti mudah tersinggung, kehilangan nafsu makan serta libido, dan bahkan stres berlebihan bisa merusak otak seperti berkurangnya ingatan dan menyusutnya volume otak.
Dikutip dari www.health.com, berdasarkan penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Neurology, Neurosurgery, & Psychiatry (2020) kepada 51 orang paruh baya dan lanjut usia di Amerika Utara, Eropa, dan Asia Timur selama tahun 2009-2018 menunjukkan bahwa masalah tidur meningkatkan risiko terkena demensia hingga 30%.
Wei Xu, MD, PhD, profesor neurologi di Universitas Qingdao, Cina yang merupakan penulis dalam penelitian ini mengatakan bahwa masalah tidur seperti insomnia, kurang tidur atau tidur lebih lama dari durasi yang seharusnya dapat menyebabkan peradangan di otak yang pada akhirnya dapat menyebabkan demensia.
“Masalah tidur juga dapat menyebabkan atrofi (penyusutan) area-area penting otak, seperti hippocampus yang mengatur motivasi, emosi, pembelajaran, dan memori,” katanya.
Mengingat pentingnya manajemen tidur dan stres, maka PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia (Generali Indonesia) menghadirkan DNA Journal Sleep and Stress, layanan gratis tes DNA bagi nasabah dengan pembelian premi tertentu. Fitur Sleep and Stress ini akan membantu nasabah mengenali profil tidur, tingkat ketahanan dan toleransi terhadap stres serta potensi gangguan tidur sesuai dengan DNA masing-masing.
Rangkaian Generali DNA Journal juga akan memberikan kesempatan bagi nasabah untuk mendapatkan konsultasi gratis dengan para ahli, baik dokter, nutrisionist, atau fitness coach, yang akan membantu menginterpretasikan hasil analisa dan mendiskusikan alternatif solusi terbaik untuk hidup yang lebih sehat. Laporan hasil analisis DNA ini akan dikirimkan dalam bentuk jurnal kesehatan digital yang bersifat personal dan rahasia.
“Stres terkadang tidak disadari dan kita juga kurang memperhatikan kualitas tidur, padahal kedua hal ini bisa memberikan pengaruh besar terhadap kesehatan fisik dan mental seseorang,” kata Edy Tuhirman, Chief Executive Offier Generali Indonesia dalam acara peluncuran DNA Journal Sleep and Stress, di Jakarta beberapa waktu lalu.
Dari hasil analisa, nasabah bisa mendapatkan ragam informasi baru tentang keunikan genetik mereka dan membantu mereka memiliki lifestyle dan behavior baru yang cocok dengan karakteristik DNA. Sehingga nasabah lebih mengenal diri mereka dan mengurangi resiko sakit. (f)
Baca Juga:
Herbal dan Makanan Peningkat Imunitas Dari Berbagai Negara
Galau Berkepanjangan Berisiko Alzheimer di Usia Lanjut
6 Jamu Favorit Orang Indonesia
Topic
#


