
Foto: Shutterstock
Sebuah survei yang dilakukan pada anak dan remaja di Amerika Serikat menunjukkan adanya asupan yang kurang untuk beberapa zat mikro, termasuk di dalamnya adalah vitamin C. Lima puluh persen dari anak-anak usia 6-11 tahun disebut memiliki asupan vitamin C kurang dari 66 mg/hari dan kelompok usia 12-19 tahun memiliki asupan 61 mg/hari, meskipun rata-rata asupan adalah sekitar 90 - 100 mg/hari. Namun ini masih dirasakan kurang.
Jika merujuk pada rentan kebutuhan vitamin C, anak usia 4 - 8 tahun membutuhkan asupan vitamin C antara 45 - 650 mg/hari, anak usia 9 - 13 tahun sekitar 50 - 1200 mg/hari, sedangkan anak usia 14 - 18 tahun kebutuhannya sekitar 90 - 1800 mg/hari.
Menurut dr. Kanya Ayu Paramastri, Sp.A, dokter spesialis anak, orang tua perlu memperhatikan dengan baik asupan gizi anak, termasuk pemenuhan kebutuhan akan vitamin C karena hal tersebut bisa mempengaruhi pertumbuhan anak dan pembentukan imunitas tubuhnya. Apalagi di masa pandemi seperti saat ini, imunitas tubuh anak yang kuat menjadi kebutuhan yang kian mendesak.
Vitamin C merupakan salah satu zat gizi mikro esensial yang berpengaruh pada imunitas tubuh anak, berfungsi menyokong sistem kekebalan melalui peningkatan aktivitas fungsi sel darah putih dan produksi antibodi. Vitamin C juga merupakan salah satu antioksidan utama yang dapat mencegah dan memperbaiki kerusakan DNA.
Kekurangan atau defisiensi vitamin C bisa menimbulkan gejala penyakit skorbut, dimana anak jadi mudah merasa lelah dan lemah sepanjang waktu, kehilangan nafsu makan, mudah tersinggung dan uring-uringan.
Selain itu, anak juga semakin rentan terhadap infeksi, seperti batuk pilek, terhambatnya pembentukan kolagen yang menyebabkan gangguan pertumbuhan, dan penyembuhan luka yang lambat.
“Tantangan terhadap daya tahan tubuh anak bisa dialami saat menjalani puasa Ramadan. Sebab, konsumsi asupan anak terbatasi sementara intensitas aktivitas nyaris sama dengan hari-hari biasa. Tanpa diimbangi asupan bergizi yang mengandung mikronutrien mencukupi, daya tahan tubuh dapat terpengaruh sehingga anak berisiko batal puasa, bahkan bisa jatuh sakit. Guna mengantisipasi gangguan kecukupan asupan selama berpuasa, selain protein, karbohidrat kompleks dan buah, anak juga membutuhkan tambahan suplementasi, terutama vitamin C sebagai zat gizi mikro yang esensial bagi anak-anak,” ungkap dr Kanya, dalam webinar peluncuran kampanye digital #RedoxonKids Kunyah Kunyah Ayo Jelajah pada Senin (4/4/2022).
Sejalan dengan itu, dr. Riana Nirmala Wijaya, Medical Lead Bayer Consumer Health mengatakan sistem kekebalan tubuh memainkan peran penting dalam perkembangan otak dan fungsi otak anak-anak. Kekurangan nutrisi, salah satunya zat gizi mikro esensial seperti vitamin C, bisa menyebabkan konsekuensi berupa kerentanan terhadap infeksi, bahkan mengurangi Intelligence Quotients atau IQ di kemudian hari.
“Ingat, tubuh tidak mampu memproduksi vitamin C tetapi memperolehnya lewat asupan dari luar. Karenanya, selain mengonsumsi makanan bernutrisi, ketercukupan vitamin C pada anak perlu didukung dengan suplementasi yang tepat,” papar dr. Riana.
Ia pun menambahkan bahwa dari sisi keamanan, vitamin C bersifat mudah larut dalam air dan tidak disimpan oleh tubuh. Artinya, jika konsumsinya melebihi kebutuhan tubuh, vitamin C akan dibuang melalui air seni. (f)
Baca Juga:
Jangan Ragu Berjemur di Pagi Hari, Bisa Perbaiki Mood
Masih Musim Hujan, Waspada Kasus DBD pada Anak
5 Kondisi Anak Tidak Bisa Diberi Vaksin COVID-19
Faunda Liswijayanti
Topic
#vitaminc, #kesehatananak, #ramadan, #imunitas, #pertumbuhananak


