
Foto: Fotosearch
Penelitian-penelitian terdahulu menunjukkan sindrom takotsubo, yang lebih banyak menyerang wanita ini, dapat disembuhkan, jika mendapatkan perawatan yang tepat dari dokter. Namun, penelitian terbaru dari tim Aberdeen University di Skotlandia yang dipimpin oleh dr. Dana Dawson menunjukkan fakta sebaliknya. Stres akibat perasaan kehilangan atau duka dalam wujud lain, menurut riset Aberdeen University yang dimuat dalam Journal of the American Society of Echocardiography, ternyata memengaruhi gerakan memompa pada jantung secara permanen.
Para peneliti Aberdeen University menemukan fakta itu dengan cara memeriksa fungsi jantung 52 pasien sindrom takotsubo menggunakan ultrasound dan cardiovascular magnetic resonance imaging (MRI).
Hasilnya, gerak otot yang memutar saat jantung berdetak terlihat lebih lambat, kekuatan gerakan meremas jantung juga melemah. Untuk jangka panjang, peneliti Aberdeen juga menemukan bekas luka halus yang menggantikan beberapa bagian otot jantung. Kondisi itu berdampak pada berkurangnya elastisitas jantung sehingga tidak dapat berkontraksi secara normal.
Lebih lanjut, melalui penelitian yang sama, Associate Medical Director British Heart Foundation, Prof. Metin Avkiran, mengatakan, jantung pasien sindrom takotsubo umumnya belum dapat berfungsi normal hingga empat bulan setelah serangan pertama. Bahkan, jika tidak mendapatkan perawatan yang tepat, penelitian ini juga membuktikan bahwa 3 persen hingga 17 persen pasien sindrom takotsubo meninggal lima tahun kemudian.
Penemuan serupa juga dinyatakan pakar kardiovaskular Deepak Bhatt, MD, MPH dalam artikel “Stress” Cardiomyopathy: A Different Kind of Heart Attack” yang dilansir di situs Harvard Health Publications. Jumlah kematian pasien sindrom takotsubo yang tercatat di rumah sakit ternyata hampir sama dengan jumlah kematian pasien penyakit jantung ‘biasa’.Menurut Deepak, hingga saat ini pengobatan yang diberikan kepada pasien sindrom takotsubo sering kali disamakan dengan pengobatan untuk mengatasi pelemahan otot jantung.
Aspirin (obat antiinflamasi nonsteroid untuk meredakan rasa sakit, demam, serta peradangan) dan statin (obat penurun kolesterol dalam darah untuk mengurangi risiko serangan jantung dan stroke) juga tak jarang diresepkan untuk pasien sindrom takotsubo.
Padahal, seharusnya bukan hanya itu. Sebab, serangan jantung sindrom takotsubo juga berkaitan erat dengan gangguan neurologis dan psikis dari penderitanya. Pada studi berjudul Psychological Distress and Personality Factors in Takotsubo Cardiomyopathy yang dilansir situs National Center for Biotechnology Information, pasien sindrom takotsubo pada umumnya memiliki tingkat stress lebih tinggi jika dilihat dari gejala depresi, kecemasan, dan karakter.
Melihat penjelasan tersebut, ada baiknya tidak menyepelekan rasa kehilangan orang. Jika memang mencurahkan perasaan kepada orang terdekat dan sahabat tidak bisa meredakan rasa sesak di dada, tak ada salahnya mencari pertolongan profesional, seperti psikolog atau psikiater.(f)
Baca juga:
- Takotsubo, Sindrom Patah Hati yang Serupa Serangan Jantung
- Lima Kunci Menjaga Kesehatan Jantung
- ni Bahaya Jika Anda Kekurangan Kalium yang Mengancam Otot Kaki Hingga Jantung!
Topic
#sindrompatahhati


