
Foto: Dok. Museum MACAN
Setelah terpotong pandemi, kini museum MACAN kembali membuka pintunya sejak 26 Oktober 2021 dan Anda pun kembali berkesempatan menyaksikan pertunjukan seniman besar Melati Suryodarmo di Museum MACAN dalam pertunjukkan tunggalnya ‘Melati Suryodarmo: Why Let The Chicken Run?’ yang digelar hingga 14 November 2021.
Mungkin publik masih awam dengan nama Melati, namun dunia seni internasional telah mengenal sosok wanita kelahiran 12 juli 1952 ini sebagai seniman performance art besar yang telah menunjukkan karyanya di Eropa, Asia, bahkan Amerika Utara. Melati sendiri menjadi gambaran jelas bahwa ‘performance art’ itu berbeda dengan ‘performing arts’. Sepintas mirip, namun Melati menggaris jelas beda performance art sebagai sebuah pertunjukkan seni murni (fine art), yang berbeda dengan bentuk seni pertunjukan lainnya seperti bernyanyi, musik, tarian, pantomim, dan sebagainya.
Melati Suryodarmo selalu total dalam pertunjukannya. Tubuhnya bertindak selayaknya medium penyampaian pesan sarat makna, tak jarang seni membawanya kedalam fase kekosongan ragawi yang tentunya membawa pertunjukannya berada ke tingkatan yang berbeda. Durasi pertunjukan yang tak main-main panjangnya, membuat gerakan pengulangan yang Melati bawakan menarik pengunjung turut masuk kedalam kontemplasi batiniah yang dibawakannya. Hal ini tentunya tak lepas dari didikan Anzu Furukawa dan Marina Abramovic saat Melati menimba ilmu performance art di Hochschule für Bildende Künste (HfBK), Jerman.
Lihat saja dari karyanya yang paling ikonis, ‘Exergie – Butter Dance’ yang ditampilkannya sejak tahun 2000. Meski secara durasi ‘hanya’ 20 menit, namun karya ini tetap beresiko tinggi dan menuntut ketahanan fisik yang tidak sembarangan. Pada ‘Exergie – Butter Dance’, Melati akan menari diatas tumpukan mentega mengikuti dentuman irama drum, yang dilakukannya sembari mengenakan sepatu merah berhak tinggi. Seiring dengan mencairnya mentega tak jarang Melati terpeleset dan terjatuh ke atas tumpukan mentega, namun setiap kali tubuhnya terjatuh Melati akan kembali berdiri dan menari. Makna pertunjukannya pun dalam, menari di atas mentega menjadi kiasan manusia yang terus bekerja dan berkarya di tengah fluktuasi kehidupan yang tak jarang menarik seseorang ke titik terendahnya, namun kebulatan tekad lah yang membuatnya kembali berdiri dan berjuang.
Begitu pula dengan pertunjukkan ‘Transaction of Hollows’ yang menampilkan sosok Melati dalam setelan jas serba putih menembakkan 800 busur jawa satu per satu dalam ruangan persegi. Atmosfer serba putih yang membuat sosok Melati berdiri sendiri sembari melesatkan anak panah ke berbagai arah kembali mencuri hati penonton yang turut meleburkan diri dalam ruangan tersebut. Suara desingan busur yang melesat membelah udara dan dentumannya saat menembus dinding menciptakan nuansa meditatif yang membius.
Layaknya masyarakat tanpa arah tujuan, filosofi panah jawa mengajarkan pentingnya proses daripada hasil. Filosofi ini membuat semua hasil bidikan menjadi berarti, meski dengan segala distraksi kehidupan yang membuat busur menancap tanpa arahan jelas pada berbagai aspek yang ada. Pertunjukan ini berlangsung selama dua hari dengan total 8 jam, jadi tak heran bila luka terbalut perban pada jemari Melati tampak pada pertunjukan hari kedua.
Begitupun dengan ‘Ale Lino’ yang membuat Melati berdiri di atas bidang platform setinggi 2 meter dengan sebuah tongkat kayu sepanjang 4 meter yang menopang tubuhnya pada titik ulu hati (celiac plexus). Pada pertunjukan ‘Ale Lino’ yang berlangsung selama 3 jam, Melati memasuki fase kekosongan jiwa dan raga, menjadikan karya seninya sebuah pengorbanan tubuh sekaligus spiritual untuk mengenal dirinya sendiri, kekosongan di antara maskulinitas dan feminitas, duniawi dan kosmik, material dan tidak material. Pertunjukan ini disusunnya setelah menempuh perjalanan pengenalan diri dengan kaum Bissu, masyarakat dengan dua gender yang memiliki status sosial terhormat dan sakral di Bugis.
Pertunjukan performance art Melati Suryodarmo tak hanya sekadar durasi dan olah tubuh ataupun visual semata. Ada energi vibrasi jasmani dan spiritual di dalamnya yang memang mengharuskan penikmatnya untuk hadir langsung agar mampu memberi apresiasi yang setimpal atas apa yang disajikan sang seniman. Kontemplatif, sarat makna, penuh penghargaan akan konsep feminitas dan budaya, sebuah rangkaian karya seni yang teramat sayang untuk Anda lewatkan. (f)
Baca Juga
ArtJakarta 2019: Pesta Kritik Sosial dan Humaniora Seniman Asia
Seni Wayang Kulit, Kuliner, dan Mode, Rayakan 57 Tahun Hotel Indonesia
Ekspresi Emosi 4 Wanita Seniman di Pameran Ilustrasi Bertema Kintsugi
Topic
#PerformanceArt, #MelatiSuryodarmo




