
Gold Label - Chardonnay.
Empat chef yang restorannya berbintang Michelin melakukan eksperimen ini dan menunjukkan bahwa mengidentifikasi rasa saus bisa menjadi tolak ukur perjodohan wine, bukan dari jenis proteinnya. Saus adalah bagian substansial dalam hidangan di Asia Tenggara.

Para chef ini adalah Manjunath Mural (Song of India - Singapura), Thitid 'Ton' Tassanakajohn (Le Du - Thailand, Lam Ming Kin (Longtail - Taiwan), dan He Hong Ping (Da San Yuan - Taiwan). Mereka membuat saus pelengkap setelah mencicipi Gold Label-Shiraz, Gold Label-Cabernet Sauvignon, dan Gold Label-Chardonnay.

Sam Stephens, brand ambassador Wolf Blass.
Hasil menunjukkan bahwa saus bisa terasa lebih pedas, lebih manis, atau gurih, tergantung pilihan wine yang dicoba-coba. Perbedaan pendapat terjadi antar jurnalis yang hadir, namun menunjukkan kesukaan tak perlu diseragamkan. Perjodohan wine bisa dipandang sebagai hal yang personal.
Tidak ada hitam dan putih untuk wine yang sempurna untuk hidangan tertentu, terlebih bagi makanan Indonesia yang tidak memiliki wine dalam tradisinya.

Pantollo Pamarrasan karya KAUM.
Marketing Manager SEA, Yodissen Mootoosamy dari Treasury Wine Estates, grup yang menaungi Wolf Blass, menyebut aksesibilitas yang membaik membuat wine kian mendekati lifestyle orang Jakarta. Wolf Blass sebagai wine Australia yang straightforward dan mudah dipahami dipandangnya sebagai jenis yang lebih menjanjikan untuk ditawarkan di pasaran seperti ini
“Konsumen akan dapat mengalami gaya pairing baru ini di restoran mitra berbintang Michelin, tidak hanya di Singapura, Thailand dan Taiwan, tetapi juga seluruh Asia Tenggara. Kami juga mendorong konsumen untuk mencocokkan wine Wolf Blass dengan makanan lokal sehari-hari," ujarnya. (f)
Foto: Dok. Wolf Blass - IndonesiaBaca juga:
Chef Tommaso Gonfiantini Luncurkan Menu Terbaru GIA Jakarta
First Crack Coffee: Racikan Kopi Masa Kini
Belanja Ikan di Muara Baru, Yuk!
Trifitria Nuragustina
Topic
#wolfblass




