Jl. Asem Dua No.27, Jakarta Selatan
Selain munculnya habit memesan makanan secara online, pandemi juga mengubah makanan yang kita pesan.
Perlahan, kita bergeser ke sesuatu yang lebih sehat. Lebih banyak sayur, lebih banyak buah, hingga mengurangi protein hewani. Bermunculan mereka yang flexitarian dan vegan.
Bicara vegan food, pilihannya di aplikasi online pun kian beragam.
Dulu, ceritanya tak selalu sama.
Banyak dari mereka yang belajar menjadi vegan menyerah di tengah jalan. Alasannya, produsen vegan food masih terbatas dan harga makanannya tidak bisa dibilang murah bagi kocek kebanyakan. Menunya juga masih berkiblat ke barat.
Demand bermunculan, produsennya berkembang. Pengulik vegan food mulai pede berdagang rasa lokal. Cita rasa makanannya dekat di lidah orang Indonesia. Lebih lokal, lebih berbumbu. Tak hanya itu, vegan food dengan menu negara lain bermunculan.
Merayakan tren ini, minggu lalu diresmikan Mad Grass di area Cipete, Jakarta Selatan. Ini cloud kitchen serba vegan pertama di dunia, menyatukan produsen vegan food dengan semangat berkomunitas.
Ada juga tempat nongkrong-nya. Outdoor dan instagrammable.
Menu nabati di sini meliputi rasa Indonesia, Jepang, Western, hingga Peranakan. Ada burger, ramen, kopi, pizza hingga vegan gelato.
Brand lokalnya seperti 100 Wraps, Baona Party, Cincau Cuan, Green Inc, iVegan Pizza, Kinkitusya, Kyuri, Mad For Coffee, Nutsy Bowl, Orvia, Plantelicious, Prana On dan Sematjam.
Baik memesannya melalui GoFood, GrabFood, atau Traveloka Eats, konsumen akan dikirimkan semuanya dari satu titik. Irit ongkir.
Cloud kitchen ini juga platform layanan pesan-antar sendiri, di https://madgrass.id,. Mau pick up, delivery, atau dine-in, bebas!
Ada juga dapur khusus bagi chef yang ingin pop-up. Bisa langsung tes pasar ke pengunjung Mad Grass.
“Karena industri nabati masih lebih kecil dibanding industri makanan lainnya, upaya kolektif brand sangat penting untuk mempercepat pertumbuhan industri makanan nabati secara signifikan. Karenanya, kami menciptakan konsep yang memfasilitasi upaya inovatif beberapa merek," urai salah satu pendiri, Arvin Budhi Santoso.
Ia menggandeng Jakarta Vegan Guide (JVG), media dengan spirit komunitas yang kuat. Media ini besutan Chandra Revo dan Firmansyah Mastup.
Kedua pihak collab karena sama-sama ingin membereskan salah satu keresahan utama, bahwa vegan food dicap ‘mahal' dan itu-itu saja. Variasi ini diwujudkan oleh tahunan pengalaman JVG mengulas produsen vegan food di medianya.
Selain mendorong gaya hidup nabati, Mad Grass juga mendorong masyarakat untuk memilih kehidupan yang lebih ramah lingkungan. Karenanya, di sini ada Bulk Source, Rekosistem, dan ALAS Circular Packaging.
Tak perlu menunggu menjadi vegan untuk mengunjungi community hub yang menyenangkan ini. Dengan makanan yang enak-enak dan variatif, Anda bisa jadi ‘naksir’ mencoba pola makan plant-based. (f)
Foto: Dok.Mad Grass
Baca juga:
Berekplorasi di Dapur Saat Pandemi, Nicholas Saputra Pede Dengan Masakannya
Seberapa Pedasnya Buldak Sauce Varian Extreme? Fans Kfood Perlu Tahu
Trifitria Nuragustina


