Food Trend
Mencoba Garam dan Beras Kelas Gourmet dari Bali

21 Sep 2017

Restoran, komunitas, hingga individual penggiat pangan lokal telah menjadi tempat kita untuk bertanya dan merasakan bahan-bahan unggulan yang terpendam, tak tersentuh.
 
Restoran Kaum dari PTT Family, telah memasuki area bisnis kuliner dengan spesialiasi ini di Jakarta, Bali, dan Hong Kong.
 
Pemikiran bertahun-tahun memang dibutuhkan para pendiri untuk memantapkan konsepnya. Kini, Kaum dikenal sebagai penyaji hidangan Indonesia yang bergerak secara modern dan masuk ke garda terdepan dalam hal cita rasa. Semua ini diiringi dining vibe yang disukai kalangan muda. Hal yang nampaknya tak sulit ditangani grup sebesar PTT Family yang berpengalaman menelurkan tempat-tempat bersantap masa kini.
 
Di Hari Petani Nasional yang jatuh 24 September 2017 ini, Kaum memandangnya sebagai momentum untuk mengajak publik mengenali orang-orang yang terus bekerja keras menyediakan hasil pangan yang berkualitas dengan cara yang sudah terasah waktu.
 
Dalam menjalankan konsep menu yang bekerja erat dengan petani, kaum membangun sistem supply chain tersendiri yang tergolong baru. Tiada distributor besar di balik usaha-usaha kelas rakyat ini. Sebuah tantangan di tengah industri food and beverage yang perlu bergerak cepat dan efisien.
 
Brand Director, Lisa Virgiano, harus menyelami riset dan mencari petani-petani ini hingga ke pelosok, dan berjibaku dengan ketetapan jadwal produksi dan memahami transaksi konvensional. Tantangan yang justru bisa dirasakan sebagai seni bekerja bagi penggelut dengan passion tinggi.

Tugasnya nyaris selalu termasuk pada langkah meyakinkan mereka yang sudah putus asa karena tak menemukan tempatnya di tengah persaingan industri. Banyak dari mereka terancam kehilangan penerus karena generasi selanjutnya yang lebih memilih berkutat di bisnis perkotaan.
 
Untuk menghormati Hari Petani Nasional, Kaum berbagi cerita kepada femina tentang Pak Gede Sweden, seorang petani yang menyediakan beras tradisional Jatiluwih untuk Kaum Bali.

Ada pula Pak Nengah Suanda, petani yang menghasilkan garam laut Amed. Garam ini sehari-harinya dipakai untuk membumbui setiap hidangan di Kaum Jakarta dan Kaum Bali.
 

Beras Tradisional di Kaum Bali
Pak Sweden adalah petani modern yang memanen beras di Jatiluwih dengan cara tradisional yang menyeluruh.

Jatiluwih sendiri adalah sebuah desa di daerah perbukitan di Bali barat yang diangkat sebagai situs warisan Unesco, berkat sawah-sawah bersejarah yang mempertahankan sistem irigasi dari abad ke-9.
 
Selain dari sistem irigasi air alami ini, Pak Sweden dan rekan-rekannya menanam padi dengan 15 langkah tradisional tanpa bantuan bahan kimia.
 
Produk yang dihasilkan adalah beras yang lembut dan sumber protein dan kaya isoflavon.
 

Garam laut Amed di Kaum Jakarta dan Bali
Di sebelah timur laut sawah hijau Jatiluwih, penghasil pangan Bali yang berdedikasi lainnya sedang bekerja keras untuk mengolah garam laut.
 
Pak Suanda adalah salah satu dari 32 pengrajin yang tersisa yang masih menghasilkan bumbu yang luar biasa ini.
 
Walaupun garam merupakan bahan yang penting yang bisa ditemukan di setiap dapur di seluruh dunia, tidak semua garam dibuat dengan cara yang sama. Garam Amed diambil dari laut dan diproses dengan cara yang alami menggunakan batang pohon kelapa tua, menghasilkan rasa murni tanpa aftertaste pahit yang biasanya muncul dari proses penguapan menggunakan terpal.
 
Garam laut Amed telah meraih sertifikasi Geographical Indication.



Salah satu restoran yang juga berada di grup PTT Family, Attarine, juga memperingati Hari Tani Nasional dengan menggelar Sunday Cookout with Sayurbox, berkolaborasi dengan Sayurbox, sebuah platform online yang menjual bahan segar lokal berkualitas.

Sesi ini dijual ke publik dan menampilkan sayuran musiman yang terbaik dalam segi cita rasa dan tekstur. Tertarik mencoba?
 

Trifitria Nuragustina