
Dok.Shutterstock
Satai Rembiga adalah satai sapi yang pedas-manis, khas Lombok. Digunakan daging sapi dari Nusa Tenggara Barat, wilayah yang menjagokan produksi ternak sapinya. Kondisi geografis dari savana-savana memberi ruang leluasa untuk sapi hidup berkeliaran bebas.
Daging yang dihasilkan lunak, sebagian dipengaruhi pemberian pakan daun lamtoro, alias petai cina, yang menjadi sumber protein yang baik.
Sejarahnya, keahlian membuat satai hadir dari tangan kerabat Raja Pejanggik yang tinggal di Desa Rembiga, Selaparang. Kerajaan Pejanggik eksis di abad ke-14 hingga ke-17. Desa ‘Rembiga’ diserap dari kata ‘rembug’, diasosiasikan dengan istana sebagai tempat berkumpulnya para kalangan kerajaan.
Keahlian bikin satai diturunkan antar generasi dan akhirnya menjadi makanan rakyat.
Rumah Makan Putera Lombok menyampaikan cerita yang sama. Di sini, satai ini dibuat menggunakan terasi lombok yang khas, cabai lokal yang diistilahkan sebie, dan tentunya daging sapi lokal.
Lombok mengenal teknik pengasapan cabai, yang terkenal digunakan pada Ayam Taliwang. Dalam Satai Rembiga, digunakan versi nonasap, yakni sebie beleq. Menurut Chef Chandra Gunawan dari RM Putera Lombok (Jabodetabek) dan Roemah Langko (Lombok), cara mengasapkannya mirip cara membuat cerutu. Cabai-cabai Lombok ditanam di daerah pegunungan karena membutuhkan lahan yang luas. Pemasak Lombok di Jakarta biasanya tetap mengirim cabai ini ke dapurnya agar makanannya lebih autentik.
Saat disajikan, tekstur daging Satai Rembiga cukup empuk, karena biasanya didiamkan dahulu dengan daun pepaya sebagai pelembut alami daging.
Aroma satainya juga harum karena dibakar menggunakan batok kelapa. Di Lombok yang kaya pohon kelapa, ini cara lokal memanfaatkan batok kelapa yang tak terpakai lagi. (f)
Baca juga:
Accha: Kepincut Masakan India
Usai Renovasi, BEAU Bakery Hadir Kembali dengan Andalan Sourdough Pizza
Sisterfields Bakery dan Sibling Espresso Hadir di Jakarta
Trifitria Nuragustina


