
Dok:
Orang tua mana di dunia ini yang tidak menyayangi anaknya dengan tulus. Itu saya percaya betul. Tapi, ekspresi seorang ibu dalam menyayangi anaknya bisa berbeda-beda. Seperti pengalaman yang saya temukan di dalam pekerjaan saya sekarang di sebuah tempat bimbingan belajar (bimbel).
Kebanyakan, orang tua yang datang ke bimbel tempat saya bekerja adalah untuk berdiskusi dengan kami dengan topik standar, misalnya tentang pemilihan mata pelajaran les yang diminati, waktu belajar, pilihan tutor, nilai ulangan sekolah, dan semua yang menyangkut bimbingan belajar.
Namun, Ibu Indri, sebutlah begitu --salah satu orang tua murid di bimbel ini yang bernama Desha-- memang berbeda. Ia justru banyak menceritakan tentang putrinya, dari A sampai Z. Ibu Indri selalu datang paling awal menjemput anaknya, si Desha, dibandingkan orang tua yang lain. Dan, pada saat itulah obrolan panjang lebar tentang putri kecilnya terjadi.
Awalnya pertemuan kami biasa saja. Pembicaraan kami seadanya dan seperlunya. Tapi, entah kapan mulainya, saya tiba-tiba merasa pembicaraan orang tua siswa yang satu ini makin hari terdengar makin dibuat-buat. “Itu, anak saya, si Desha, juara satu di kelasnya. Padahal, saingannya puluhan, loh. Itulah anak saya, Miss,“ katanya, suatu kali.
“Keturunan suami saya memang pintar-pintar semua. Dulu, katanya, mertua saya yang laki-laki pernah lompat kelas saking pintarnya. Suami saya juga pintar sekali,” lanjutnya, penuh semangat.
Saya mengangguk-angguk, meskipun dalam hati berkata, “Nih ibu pamer amat.”
“Jadi, darah pintar itu sebenarnya menurun kepada si Desha,” lanjutnya, masih dengan penuh semangat.
“Desha juga pintar menyanyi, loh. Ia juara satu vokal solo seminggu lalu. Si Desha juga tampil di depan wali kota, loh, Miss. Wali kota!” Ia seolah sengaja memberi penekanan pada kata wali kota itu.
“Suaranya pasti bagus,” jawab saya seantusias mungkin.
Kemudian mulai muncul orang tua siswa yang lain, yang akan menjemput anak-anak mereka. Dan, Ibu Indri sepertinya meninggikan volume suaranya. Mungkin supaya semua orang bisa mendengar dengan jelas.
“Ya, dong, Miss. Bahkan, anak saya itu mau diajak rekaman dan buat videoklip. Karena jadwal menyanyi ada, saya jadi takut nilainya anjlok. Makanya, saya leskan di bimbingan belajar ini. Biar dia tetap bertahan, juara kelas dan juga juara menyanyi.”
Besok harinya, ketika datang kembali untuk menjemput, Ibu Indri kembali bersemangat menceritakan topik favoritnya.
“Sangat jarang kan anak sekarang pintar di kelas dan pintar mengolah bakatnya juga. Putri saya itu, ya, begitu. Dua-duanya dia bisa. Pintar di kelas dan pintar nyanyi.”
Orang tua yang lain tampak sibuk memainkan handphone, tapi saya yakin seratus persen mereka cuma pura-pura, agar tidak diajak ngobrol. Ha… ha… ha….
“Anak saya itu kan suaranya merdu sekali, Miss. Banyak dipuji guru-gurunya. Dipuji pejabat kalau selesai tampil. Dia juga disayang temen-temennya. Ya, itu tadi. Kalo pintar, pasti disenengin kan, Miss? Nanti Miss akan saya kasih video rekaman anak saya itu, deh. Biar Miss bisa nonton.”
Suatu kali saya pernah pura-pura menelepon ketika melihatnya datang. “Oh, ya. Ya. Ya. Apa? Kemarin? Oh, baju kuning itu. Kenapa?”
Diam-diam saya meliriknya dan dia tampak agak kecewa, karena saya tidak bisa diajak ngobrol seperti biasa. Para tutor tampak menahan tawa. Tapi, tidak mungkin kan selamanya saya harus pura-pura menelepon seseorang. Diam-diam kami punya sebutan untuknya, yaitu Si Ibu Pamer Anak.
Sampai datang masa liburan sekolah, saya pun liburan pulang kampung. Saya berpapasan dengan para tetangga.
“Wah, anak kota akhirnya pulang juga…,” kata mereka.
“Kamu kerja di bimbingan belajar yang terkenal itu, ‘kan?” mereka bertanya antusias.
Saya terkejut. Rasanya tidak satu pun orang di kampung orang tua saya ini ada yang tahu tempat saya bekerja.
“Dari mana Ibu tahu?”
“Ya, mama kamu cerita. Tiap hari mama kamu cerita tentang kamu. Cerita tentang gaji kamu, nilai kamu, cara kerja, disayang dosen, kos-kosan mewah, disayang atasan kerja, pokoknya semualah,” kata si ibu tetangga, sambil senyum-senyum.
Hati saya mencelus tiba-tiba. Saya membayangkan wajah Mama bersemangat menceritakan tentang diri saya, sama persis seperti Ibu Indri pamer tentang anaknya dan sempat membuat saya jengkel dan bosan. Dan, jangan-jangan, para tetangga sudah memberi julukan tertentu kepada Mama. Astaga! (f)
*********
Ramajani Sinaga - Banda Aceh
Kirimkan Gado-Gado Anda maksimal tulisan sepanjang tiga halaman folio, ketik 2 spasi.
Nama tokoh dan tempat kejadian boleh fiktif.
Kirim melalui e-mail: kontak.femina@pranagroup.id, Subject: Gado-Gado
Kirimkan Gado-Gado Anda maksimal tulisan sepanjang tiga halaman folio, ketik 2 spasi.
Nama tokoh dan tempat kejadian boleh fiktif.
Kirim melalui e-mail: kontak.femina@pranagroup.id, Subject: Gado-Gado
Baca Juga:
Gado-gado: Sadel Bantal
Gado-gado: Divisi SDM
Gado-gado : Behel
Topic
#gadogado


