Fiction
Gado-gado : Behel

27 Jan 2019

ilustrasi: tania.
 
Ini adalah cerita mengenai teman dekatku, Santi.. Cerita ini seperti cerita komedi, bisa juga cerita yang paling memprihatinkan. Santi dan pengalaman pertamanya menggunakan behel atau pagar gigi, begitu aku menyebutnya. Sudah lama sekali Santi ingin menggunakan behel, sampai akhirnya Tante Rumi, mamanya, menyetujui permintaan anak semata wayangnya itu.
 
Tepatnya seminggu yang lalu Santi resmi menggunakan behel barunya, dengan karet pink mengelilinginya. Ia meminta pendapatku tentang behelnya. Ini memang kebiasaannya. Santi selalu meminta pendapatku tentang penampilannya sebelum diperlihatkan kepada publik.
 
“Bagus enggak, Sal?” tanya Santi, sambil memperlihatkan behelnya.
 
Humm, bagus, kok,jawabku, mengacungkan jempol.
 
Mendengar pujian itu, ia langsung bangga sambil terus-menerus menyunggingkan senyum lebar. Mengisyaratkan kepada dunia bahwa ia senang sekali dengan penampilan barunya itu.
 
Sejujurnya, keinginan menggunakan behel seperti Santi juga sudah lama ada di benakku. Namun, aku belum benar-benar siap menahan kesabaran untuk tidak makan semua makanan kesukaanku. Itu adalah risiko yang berat bagiku. Sedangkan Santi, ia sungguh sabar dan berhati-hati dengan behelnya itu.
 
Bahkan, sampai-sampai rela memberikan bakwan udang buatan mamanya yang terkenal lezat kepadaku. Ia juga kerap memberikan bekalnya kepadaku. Dengan alasan, tidak bisa makan karena si behel. Hebat!
 
Dua bulan berlalu, Santi masih setia dengan prinsipnya, yaitu hanya makan makanan yang lembek, seperti bubur ayam dan sejenisnya. Walau sudah agak lama menggunakan behel, ia tetap takut ada kejadian tak terduga menimpa behelnya, jika ia nekat makan makanan yang keras. Aku kagum… sampai suatu malam….
 
*video call* “SALSAAAA…,” teriak heboh Santi, sesaat setelah terhubung denganku.
 
“Apaan, sih, San. Berisik tau,” jawabku sewot.
 
“Lihat, nih…,” kata Santi, seraya menunjuk ke arah behelnya.
 
Haaa!! Tempelan pagermu, eh… karet behelmu, ke mana, San?” tanyaku kaget.
 
Enggak tauumungkin ketelan, Sal,” kata Santi, wajahnya memucat.
 
Lah, kok, bisa ketelan?” tanyaku keheranan.
 
"Hmm, sebenarnya, aku makan 5 bakwan udang di warung depan. Kepengen, Sal,” bisiknya, takut-takut.
 
Hahaha… aku susah payah menahan tawa. Santiii… ada-ada saja!
 
“Jadi gimana, dong?” tanya Santi, putus asa.

“Besok kita ke dokter, deh, aku temenin. Oke? Sekarang tidur dulu,” usulku.
 
Santi pun mengakhiri video call kami. Esoknya, aku dan Santi bergegas menemui dokter langganan Santi. Santi begitu gugup sampai keringat dingin terus-menerus. Sambil menunggu giliran, Santi komat-kamit membaca doa. Ini betulan, Santi memang sangat gugup. Mungkin campur aduk antara membayangkan karet-karet itu di perutnya atau dimarahi dokternya. Entahlah.
 
Tibalah giliran Santi masuk ke ruang dokter. Aku mengekor dari belakang. Setelah menjelaskan keluhan beserta penyebab insiden itu, dokter pun mulai memeriksa. Pertama-tama dokter melakukan rontgen, lalu bertanya apakah perut Santi terasa sakit. Ia menggeleng. Saat dokter menekan perutnya dan bertanya hal yang sama, Santi juga menggeleng. Akhirnya dokter menyarankan agar Santi makan makanan yang banyak serat, seperti sayur dan buah-buahan. Ia juga diberi obat untuk mengantisipasi terjadinya luka pada lambung Santi.
 
Seminggu berlalu. Santi kembali memeriksakan karet behel yang ada di lambungnya. Setelah dirontgen kedua kalinya, dokter mengatakan bahwa lambung Santi sudah bersih, tidak ada tanda-tanda karet behel yang tertinggal akibat insiden lima bakwan jagung itu. Lega tentu saja. Untuk sementara Santi kembali pada makanan yang lembut-lembut saja.
 
***
Salsabila Diana Putri
 
Kirimkan Gado-Gado Anda maksimal tulisan sepanjang tiga halaman folio, ketik 2 spasi.
Nama tokoh dan tempat kejadian boleh fiktif.
Kirim melalui e-mail: kontak@femina.co.id atau pos, tuliskan di kiri atas amplop: Gado-Gado
 



Topic

#fiksi, #gadogado