
Foto: Dok. Aftech
Peran perempuan Indonesia di dunia teknologi digital kini semakin kuat. Hal itu terbukti, salah satunya lewat kontribusi perempuan dalam dunia teknologi finansial atau fintech baik itu menjadi pelaku maupun pengguna jasa.
Bukan tidak mungkin, kedepannya partisipasi perempuan dalam dunia teknologi akan memperkecil ketimpangan teknologi, pembagunan, sekaligus meningkatkan pemerataan pembagunan wilayah.
Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Anak Perempuan dan Pemuda, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Femmy Eka Kartika Putri mengatakan jika memanfaatkan teknologi dengan tepat, perempuan dapat berperan dalam peningkatan perekonomian Indonesia.
“Perempuan di Indonesia memilki peran penting dan signifikan untuk berkontribusi secara langsung dalam mengembangkan potensi dan inovasi keuangan digital yang inklusi,” ungkapnya secara virtual pada acara Women in Fintech: Widening Financial Access and Promoting Wider Innovation for Stronger Indonesia yang berlangsung secara daring pada awal Desember 2021.
Femmy menyebutkan, berdasarkan hasil sensus tahun 2020, dari 270,20 juta jiwa penduduk Indonesia, 70,72 persennya berusia produktif yaitu 15-64 tahun. Dengan pengelompokan: usia 8-23 tahun sejumlah 27,94 persen, milenial usia 24-39 tahun sejumlah 25,87 persen, dan generasi X berusia 40-55 tahun sejumlah 21,88 persen. Menurut Femmy, berdasarkan data tersebut, dari sisi demografi yang dimiliki bangsa Indonesia saat ini ada peluang yang besar untuk memajukan bangsa. Apalagi, Indonesia punya potensi SDM yang besar dengan jumlah penduduk nomor empat terbesar di dunia.
“Ini adalah kondisi langka yang dilami oleh suatu bangsa. Oleh karena itu kita harus benar-benar memanfaatkan bonus demografi ini. Contohnya dengan menanamkan berbagai literasi pada anak sedini mungkin, termasuk juga litarsi keuangan,” tambah Femmy.
Tak hanya itu, di masa pandemi COVID-19 melanda, perempuan juga punya bagian penting untuk pemulihan perekonomian. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM 2021, jumlah UMKM di Indonesia ada 63,9 juta unit, dan 37 juta unit atau 60 persen dikelola oleh perempuan. Saat ini UMKM perempuan punya kontribusi Produk domestik bruto (PDB) 9,1 persen, dan 5 persen pada eksport.
Womens World Banking 2020 menyebutkan lebih dari 3 juta perempuan bekerja di sektor eknomi digital dan penjulan online. Angka itu menunjukkan bahwa perempuan terbukti mampu beradaptasi pada era digital. Hal ini menunjukkan ada potensi besar bagi perempuan dalam pemanfaatan finansial teknologi atau fintech, memudahkan masyarakat terutama dalam mengakses layanan keuangan yang berbasis teknologi keuangan. Dengan begitu, pemaham akan fintech dapat mempermudah perempuan memenuhi kebutuhan kapanpun dimanapun.
Komposisi penduduk di Indonesia nyaris seimbang antara perempuan sekitar 133,5 juta jiwa dan laki-laki 136,7 juta jiwa. Hal ini menunjukan bahwa SDM laki-laki dan perempuan punya potensi yang sama dan kesempatan yang sama untuk diberdayakan setara. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana menyiapkan SDM unggul dan mampu menghadapi tantangan. “Harapannya saat ini adanya kerjasama antara regulator dari penyelenggara fintech dalam meningkatkan pemberdayaan perempuan Indonesia dalam industri fintech itu sendiri,” Kata Femmy.
Sementara itu, Eni Widiyawati, Asisten Deputi Pengarusutamaan Gender Bidang Ekonomi, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mengatakan potensi perempuan dalam pemulihan ekonomi nasional sangat besar. Sumbangan dan kontrubusi dari usaha yang dikelola perempuan meningkat selama pandemi.
“Pademi ini membuat beberapa perusahaan tutup dan ada 29 juta PHK, ketika suami tidak lagi bekerja, perempuan yang hadir sebagai istri memulai usaha kecil atau kerja membantu suami. Inilah yang membuat lahirnya UMKM yang dikelola perempuan,” papar Eni pada acara yang sama.
Namun, menurut Eni ada banyak hambatan atau permasalah mendasar yang dialami perempuan pengusaha, yaitu menjalankan peran ganda. “Karena berperan ganda dimana menjadi ibu dan juga menjadi pengusaha, akibatnya perempuan tak punya waktu mengadopsi teknologi. Sehingga akses teknologi digital itu lamban dipelajari, yang pada akhirnya akan memperlembar kesenjangan gender,” tandasnya.
Di sisi lain, Petty S. Fatimah, Editor in Chief & Chief Community Officer Femina mengatakan terjadi perubahan yang nyata pada kegiatan wanita berwirausaha di era pandemi. Perubahan tersebut mengarah pada tren yang positif dimana banyak perempuan pemilik bisnis makin menyadari pentingnya memanfaatkan teknologi digital sebagai kunci sukses usaha yang sedang dirintis.
“Karena ketika pandemi selama dua tahun ini menjadi tolok ukur perusahaan dan UMKM mana yang bisa bertahan dan yang mana bisa berjalan. Dalam hal ini, konsep digitalisi yang paling umum adalah untuk pemasaran, pembayaran atau penambahan modal. Dan tiga topik tersebut, wanita memiliki tingkat adaptasi yang berbeda-beda,” katanya.
Mengenai bagaimana pelaku usaha perempuan mengadopsi digitalisasi, Petty mengambil contoh pada kegiatan Wanita Wirausaha Femina yang dilakukan selama masa pandemi yang mendapat respon positif dari sisi jumlah peserta yang ikut. Mereka antusias untuk mengikuti berbagai pelatihan tentang digital marketing, bahkan tidak sedikit yang sudah mengadopsi digital untuk akselerasi kemampuan di tahun 2020.
Namun, menurut Petty, tidak bisa dipungkiri, kemampuan digital wanita wirausaha masih tertinggal dibandingkan wanita karier. “Wanita wirasusaha sudah mengadopsi teknologi digital, namun belum sempurna. Ini adalah PR untuk kita semua bagaimana caranya agar mereka dapat mengampilkasikannya, misalnya soal pembayaran digital dan melindungi data pribadi mereka saat menggunakan teknologi digital,” jelas Petty.
Irena Aldanituti, Direktur Business & Marketing, PT Finnet Indonesia juga beranggapan jika peran perempuan punya tantangan tersendiri di era digital ini. Padahal, perempuan dampaknya sangat besar apabila terlibat dalam teknologi. “Perempuan yang berperan dalam teknologi berperan pada perkembangan ekonomi yang berkelanjutan, itu karena perempuan membangun hubungan baik dengan aktifitas teknologi lainnya untuk menghadapi era digital kedepannya,” kata wanita yang kerap disapa Alda tersebut.
Alda juga memberikan kiat agar perempuan memilki karakter yang kuat saat saat berperan di industrai teknologi. Kiat tersebut adalah dengan menanamkan pikiran positif dan percaya pada diri jika sudah menjadi perempuan tangguh dan punya kemampuan yang lebih.
Melengkapi hal tersebut, Linda Wirawan, Komisaris PT Artha Dana Teknologi Indonesia mengatakan karakter yang harus dimiliki perempuan yang ingin berkontribusi di industri digital, terutama keuangan, yaitu pentingnya untuk diberikan kesempatan. “Misalnya ada perempuan yang punya kesempatan, berilah kesempatan tersebut sehingga dia punya percaya diri mampu berdiri di sana. Apalagi, saat fintech pertama kali berdiri banyak yang beranggapan perempuan tidak cocok dengan dunia ini. Jadi opportunity itu terbuka lebar jika ada kesempatan,” tutup Linda. (f)
Baca Juga:
Lompatan Karier Tessa Wijaya Demi Majukan Infrastruktur Digital Indonesia
Wanita Paling Rentan Terjerat Pinjaman Online Ilegal
Teknologi Mudahkan Milenial Berinvestasi
Topic
fintech, teknologi


