Career
Mengapa Perusahaan Butuh Pemimpin Culture Makers?

15 May 2020


Foto: Shutterstock


Awal tahun ini Accenture - layanan profesional global - telah melakukan survei global yang diikuti oleh kurang lebih 1.700 senior executive dari 28 negara dengan tema Getting Equal 2020 : Closing The Gap - Culture Makers. Hasilnya, ketika bicara tentang budaya inklusif di tempat kerja, ada kesenjangan besar antara apa yang para pemimpin pikirkan sedang terjadi dan apa yang dikatakan karyawan terjadi di lapangan. Dan kesenjangan ini telah membuat budaya kesetaraan di lingkungan kerja berjalan stagnan. 

Untuk mendalami aspek kualitatif dari survei di Indonesia, Accenture Indonesia bersama Femina melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) untuk memahami poin-poin penting dalam survei dan menemukan berbagai fakta penunjang yang ‘khas Indonesia’. Acara FGD yang berlangsung pada awal Maret 2020 ini melibatkan 10 responden dari level HR Director dengan latar belakang perusahaan yang berbeda-beda seperti asuransi,
health care, FMCG, property consultant, delivery service, hotel, telekomunikasi, dan perbankan. Salah satu poin yang menjadi fokus utama FGD kali ini adalah pentingnya culture makers dalam perusahaan.

Hasil penelitian Getting to Equal 2020: Closing The Gap - Culture Makers menunjukkan bahwa progres kesetaraan di lingkungan kerja berjalan sangat lambat. Dari tiga tahun lalu, ketika Accenture memulai penelitian tentang inklusifitas dalam perusahaan, fakta di lapangan menunjukkan bahwa para karyawan tidak melihat adanya perkembangan terhadap usaha pemimpin dalam membangun lingkungan kerja yang lebih setara. Hasil tersebut bertolak belakang dengan pemikiran para pemimpin yang mengklaim bahwa ketidaksetaraan bukanlah lagi isu di lingkungan pekerjaan.

Padahal, untuk bisa menghadirkan perusahaan yang mengedepankan kesetaraan, gap antara pemimpin dan karyawan ini harus dipersempit. Temuan Accenture menunjukkan tentang pentingnya
culture makers, yaitu pemimpin yang memiliki komitmen kuat dalam menerapkan budaya inklusif dalam lingkungan pekerjaan mereka. 

Sayangnya, saat ini, pemimpin yang tergolong culture makers jumlahnya hanya segelintir orang saja. Hanya ada sekitar 6 persen dari total populasi pemimpin yang mampu mencapai standar ini. Menariknya, 9 persen wanita pemimpin adalah culture maker

Mengapa ada lebih banyak wanita yang menjadi culture maker, menurut Debby AlishintaManaging Director, Inclusion and Diversity Lead Accenture Indonesia karena wanita ingin ada lebih banyak keterlibatan sesamanya dalam karier. “Wanita itu lebih punya empati, sehingga kita lebih semangat untuk punya program yang inklusif dan make it happened,” nilai Debby. 

Sesungguhnya, untuk mendapatkan kesetaraan siapa pun bisa menjadi
culture makers, tak peduli apapun gendernya, yang penting sosok culture maker ini bisa membawa perubahan yang baik. Karena dari lingkungan kerja yang setara bukan hanya akan menguntungkan wanita, tapi juga semua pihak.

Survei global Accenture menemukan ada berbagai alasan bagaimana culture makers membawa banyak perubahan dalam perusahaan terutama untuk menutup gap antara pemimpin dan karyawan demi mendorong budaya inklusivitas yang lebih baik.

Pertama, pemimpin yang tergolong dalam culture makers disebut lebih selaras dengan tenaga kerja, dan mereka menyadari pentingnya faktor budaya seperti transparansi pembayaran, ketersediaan cuti keluarga dan kebebasan untuk menjadi kreatif dalam membantu karyawan untuk berkembang.

Kedua, mereka ini datang dari kelompok yang lebih seimbang gender, condong perempuan dan lebih muda atau berasal dari kalangan pemimpin millenial. Sehingga mereka jauh lebih terbuka untuk berbicara tentang berbagai masalah, termasuk kesetaraan gender dan pelecehan / diskriminasi seksual.

Ketiga, mereka menganggap diri mereka bertanggung jawab dalam membangun budaya inklusivitas. Mereka mengumumkan secara terbuka target untuk mencapai hal tersebut, misalnya memasukkan lebih banyak wanita ke dunia kerja.

Keempat, mereka menjadi orang yang sama baik di dalam maupun di luar pekerjaan. Sekitar 85% dari mereka percaya bahwa pemimpin senior yang berbicara secara terbuka tentang kesulitan dan tantangan pribadi adalah pemimpin yang lebih kuat.

Faktanya, culture makers mampu memimpin organisasinya tumbuh lebih dari dua kali lebih cepat. Sayangnya, belum banyak pemimpin yang memprioritaskan hal tersebut. FGD yang dilakukan femina dan Accenture menunjukkan fakta yang tidak jauh berbeda. Mayoritas perusahaan prioritasnya masih seputar profit dan awareness, pemimpin masih setengah-setengah berperan sebagai culture makers.

Kabar gembiranya, inisiatif untuk menciptakan lingkungan yang inklusif sudah terlihat di beberapa perusahaan. Seperti diungkap oleh VP Human Resources sebuah perusahaan telekomunikasi di Jakarta, untuk menciptakan lingkungan kerja yang fleksibel, perusahaannya memberlakukan kebijakan work from home (WFH) bagi karyawan yang tidak bisa datang ke kantor, misalnya karyawan wanita yang memiliki bayi. “Kita coba sebulan dulu, bisa manage atau tidak. Tapi, biasanya kita sudah siap-siap juga untuk mencari gantinya,” katanya. 

Hasil FGD memperlihatkan bahwa
talent, financial performance, inovasi dan brand quality masih menjadi empat besar prioritas pemimpin. “Perusahaan bisa bertahan karena inovasi dan kreativitas. Hal Ini harus dibangun dan dipertahankan agar perusahaan bisa survive,” ungkap Human Capital di sebuah perusahaan jasa pengantaran barang. 

Laksmi Toheri, Corporate Research PT Prana Dinamika Sejahtera, melihat dari FGD ini bahwa kondisi tersebut bukan karena perusahaan tidak memberi kesempatan yang sama, tetapi lebih pada ketersediaan sumber daya manusia yang memenuhi persyaratan keahlian yang dibutuhkan oleh sejumlah posisi di perusahaan. Tantangan semacam ini mengakibatkan perusahaan masih nampak cenderung memprioritaskan kebutuhan bisnis maupun branding. (f)


Baca Juga: 

Riset Accenture 2020 : Ada Kesenjangan Perspektif antara Pemimpin dan Karyawan tentang Kesetaraan di Tempat Kerja
Riset Accenture 2020 : Kesetaraan di Tempat Kerja Berjalan Lambat. Ini Penyebabnya
6 Cara Tepat Dukung Pemberdayaan Wanita



 


Faunda Liswijayanti


Topic

#culturemakers, #penelitianaccenture, #karier, #budayainklusi

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?