Career
Riset Accenture 2020 : Kesetaraan di Tempat Kerja Berjalan Lambat. Ini Penyebabnya

20 Apr 2020



Dok. Pexels




Sebuah kebanggaan tersendiri ketika para pemimpin di berbagai belahan dunia mengatakan bahwa perusahaan mereka mendukung kesetaraan di tempat kerja. Namun nyatanya, fakta justru berkata lain! 

Temuan terbaru Accenture - layanan profesional global - dalam riset bertajuk Getting to Equal 2020, progres kesetaraan tak semulus kelihatannya. Kemajuan dalam meraih kesetaraan di lingkungan pekerjaan berjalan lambat. 

Hasil penelitian yang dilakukan di 28 negara, termasuk Indonesia, dengan 51 eksekutif dan 1.049 karyawan ini menunjukkan hasil yang tak seindah yang terdengar di permukaan. Progres kesetaraan di lingkungan kerja berjalan sangat lambat.

Lebih detail, penelitian ini menunjukkan bahwa pada tiga tahun terakhir, para karyawan tidak melihat adanya perkembangan pada usaha pemimpin dalam membangun lingkungan kerja yang lebih setara. Terjadinya penurunan skor yang menunjukkan ketidakpuasan karyawan terhadap lingkungan kerja yang setara di kantor.

Penelitian Getting to Equal 2020 ini pun mengeksplorasi mengapa masih ada kesenjangan yang signifikan dalam mencapai kesetaraan di tempat kerja, meskipun kesadaran dan komitmen dari para pemimpin organisasi terus tumbuh.

Menurut
Debby Alishinta, Managing Director, Inclusion and Diversity Lead Accenture Indonesia, dari hasil penelitian ini diketahui bahwa salah satu penyebab progres kesetaraan berjalan lambat adalah karena para pemimpin tidak menempatkan budaya inklusif sebagai prioritas kerja mereka.

Bukannya diutamakan, budaya yang inklusif bahkan tidak masuk dalam daftar lima prioritas teratas para pemimpin. Lebih rinci, budaya inklusif berada di prioritas ketujuh rata-rata pemimpin, setelah brand/kualitas (80 persen), performa finansial (72 persen), inovasi (66 persen), ekspansi (60 persen), talenta (42 persen), dan keberagaman (34 persen). Sementara, di posisi terakhir, setelah budaya, adalah lingkungan (22 persen).

“Padahal, berdasarkan temuan ini mayoritas karyawan maupun pemimpin percaya bahwa budaya inklusif itu penting untuk menerapkan kesetaraan. Tapi, di satu sisi, hal ini tidak diprioritaskan,” papar Debby.

Padahal, masih menurut survey ini, sekitar 88 persen karyawan perempuan dan 86 persen karyawan laki-laki percaya bahwa budaya yang inklusif sangat penting membantu mereka berkembang di tempat kerja.

Sebenarnya, sejalan juga dengan apa yang dipercayai oleh 86 persen pemimpin yang mengaku bahwa budaya atau lingkungan pekerjaan yang inklusif sangat vital terhadap kesuksesan sebuah bisnis. Namun sayangnya, hanya 30 persen pemimpin saja yang mengidentifikasi budaya inklusif sebagai prioritas kerja mereka. 

Lebih lanjut Debby mengatakan, penerapan budaya inklusif di lingkungan kerja itu harus datang dari para pemimpin. “Saya percaya, harus
top-down approach. Para pemimpin harus bisa komitmen mewujudkan budaya tersebut, karena bagaimanapun yang bawah bukanlah pembuat keputusan,” tambahnya. (f)



BACA JUGA :

Pentingnya Partisipasi Wanita di Bidang STEM
Ini Cara Dorong Inklusi Dalam Institusi
Menjadi Pemimpin yang Down to Earth


 


 


Topic

#Kesetaraan, #Accenture

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?