Career
Mencari Keseimbangan Karier bagi Wanita di Industri Teknologi, Mungkinkah?

22 Jul 2017


Foto: NJL
 
Sejauh apa karier wanita di industri teknologi? Menjawab ini, Kamis (20/7) malam lalu, diskusi interaktif seru #wondertech menghadirkan lima wanita Indonesia yang sukses meniti usaha dan karier di bidang teknologi.

Mereka adalah Shinta Kamdani (CEO Sintesa Group), Noni Purnomo (Direktur Blue Bird group), Hanifah Ambadar (Pendiri &CEO Female Daily), Sati Rasuanto (MD Endeavour Indonesia), Sri Widowati (Head of Facebook Indonesia). 

Isu work-life balance yang terkait erat dengan peran ganda wanita di wilayah profesional dan domestik ini masih menjadi sorotan utama. Akrobat peran, waktu, dan tenaga wanita untuk menyeimbangkan dua peran ini membuat tidak sedikit wanita yang patah arang di tengah perjalanan mengejar karier.
 
Hasil survei yang dilakukan oleh #wondertech mengungkap beberapa temuan menarik terkait hal di atas. Meskipun 85% dari wanita tidak merasakan adanya bias gender terhadap kesempatan berkarier di dunia teknologi, tapi sebanyak 33% tetap merasa bahwa peningkatan karier lebih mudah terjadi pada kolega pria.
 
Isu di atas kemudian mendorong kebijakan jam kerja fleksibel, yang memungkinkan wanita untuk bisa mengelola keseimbangan di wilayah profesional dan domestik. Seperti yang juga tercermin dari hasil survei yang dilakukan secara langsung di tengah acara diskusi #wondertech terhadap sekitar 150-an peserta yang hadir.

Flexible working arrangements berada di urutan ke-2 (22%), sebagai salah satu elemen yang mendorong lebih banyak wanita untuk berkiprah di dunia profesi teknologi.
 
Tidak sedikit wanita bekerja yang merasa melakukan banyak pengorbanan saat ingin mengejar pencapaian karier. Dan hal ini berlaku untuk semua jenis profesi, terutama bagi mereka yang berada di jenjang manajerial menengah ke atas. Dalam perjalanan karier dan rumah tangganya, Shinta Kamdani mengakui hal ini.
 
“Kita melakukan pengorbanan setiap hari. Apalagi saat dihadapkan pada banyak ekspektasi, termasuk dari lingkungan dan orang-orang di sekitar kita. Bagaimanapun, kita tidak boleh egois, dengan hanya memenuhi ekspektasi kita sendiri,” ungkap Shinta, ibu dari empat anak ini.
 
Ucapannya ini tidak dilatari oleh semangat superwoman, tapi lebih kepada manajemen diri yang lebih baik. Menurutnya, ekspektasi-ekspektasi tersebut bisa diformulasikan dalam sebuah perencanaan yang selaras antara wilayah personal dan profesional. Menurutnya, rencana ini akan membantu kita untuk melihat segala sesuatu dalam perspektif yang sesuai porsinya.
 
Peran jejaring pendukung dari lingkungan terdekat, seperti keluarga dan lingkungan kantor tentunya sangat dibutuhkan.

“Kita butuh pasangan yang mendukung karier kita. Suami saya melakukannya dengan mengambil peran dalam pengasuhan anak dan tidak risih melakukan pekerjaan domestik. Pembagian peran ini meringankan saya dalam menjalankan bisnis yang menuntut tenaga, fokus, dan waktu,” ungkap Hani, bangga terhadap peran serta suaminya.
 
Sementara itu, sebagai orang tua tunggal, Sati merasa bahwa akan ada banyak pengorbanan. Namun, ia merasa dirinya menjadi pribadi yang lebih baik saat ia bekerja. (f)

Baca juga: 
Menjadi Superwoman... Bisa!
Work Life Balance Ala Pria
Curhat dan Perasaan Berharga Bisa Membantu Anda Keluar dari Stres


Naomi Jayalaksana


Topic

#wanitakarier

 

polling
Resolusi 2019

Prioritas yang ingin dicapai tahun iniSudah masuk tahun 2019, nih. Tentu sudah ada rencana dan resolusi yang ingin Anda capai.