Foto: Dok. Pribadi
Pengantar:
Lola Amaria adalah seorang pemain film, produser dan sutradara. Ia memulai karienya dari dunia modeling dengan menjadi juara kategori busana nasional pada pemilihan Wajah femina 1997. Di penghujung tahun 2020 lalu, dua film pendek karyanya keluar hampir bersamaan secara digital yaitu Calon Pengantin dan Riuh. Meski pandemi memukul telah industri hiburan tanah air, namun Lola Amaria masih punya 1001 langkah untuk terus berkarya seperti tulisannya berikut ini.
*******
Saya belum lama pulang dari Moskow dan Kazan, Rusia menghadiri undangan pemutaran film LIMA saat pemerintah Indonesia mengumumkan kasus pertama COVID-19. Di awal Maret 2020 itu belum terbayang kesulitan demi kesulitan yang akan timbul akibat wabah ini. Apalagi sebelumnya pemerintah juga menyatakan bahwa masyarakat Indonesia tidak perlu khawatir. Saat itu business as usual, saya masih terus mempersiapkan pekerjaan dan agenda rutin lain seperti biasanya.
Namun masa tenang itu tidak lama. Pemerintah kemudian menerapkan PSBB. Selama beberapa minggu kehidupan di Jakarta seperti berhenti. Jalanan kosong melompong, kantor dan sekolah tutup, semua orang harus tinggal di rumah. Kita sibuk mencari masker, berbelanja kebutuhan pokok untuk stok, berjemur, minum vitamin dan jamu, apa saja yang dipercayai bisa meningkatkan imun tubuh.
Ekonomi macet. Pekerjaan dan agenda saya ikut berhenti total. PH dan restoran saya tutup bahkan sampai batas waktu yang belum ditentukan. Isi percakapan di WAG yang saya ikuti semakin membuat ketidakpastian. Pernah ada tudingan dari lembaga asing bahwa sebenarnya di Indonesia jumlah yang terinfeksi COVID-19 sudah mencapai angka jutaan. Berita berseliweran tanpa tahu mana yang benar. Mungkin pemerintah sama pusingnya dengan saya menghadapi berbagai berita tersebut.
Tak ada yang pasti kecuali satu hal: Tak ada pemasukan. Tabungan semakin menipis karena semuanya pengeluaran. Sebagai pekerja kreatif saya harus benar-benar bijak mengatur keuangan karena perubahan bukan ke arah yang lebih baik.
Lantas saya harus melakukan apa? Jawabannya belum tahu. Pokoknya mengisi waktu agar bermanfaat dan tidak bosan. Awalnya saya membuat masker kain untuk diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Beli mesin jahit dan bahan. Masker masih sangat sulit didapatkan saat itu. Tapi tidak berlangsung lama.
Dari WAG saya baca banyak teman-teman pekerja film yang mengalami kesulitan hidup. Mereka mengandalkan pendapatan harian saat syuting. Tapi syuting sudah berhenti dan mereka kehilangan pekerjaan dalam sekejap mata. Saya mengumpulkan bantuan, teman-teman seprofesi juga melakukan hal sama. Membuat workshop berbayar dan dananya dikumpulkan untuk diberikan pada pekerja lepas yang benar-benar sedang butuh bantuan. Pada titik ini saya merasa beruntung tinggal di Indonesia yang masyarakatnya memiliki sifat gotong royong, ringan tangan untuk tolong menolong agar tidak merasa sendiri. Apapun yang bisa dikerjakan untuk bertahan, meringankan dan saling menguatkan.
Agenda utama hanya satu yaitu bagaimana bertahan hidup. Saya tanya kabar teman-teman lain, situasinya sama. Selama di rumah dan tidak ke mana-mana, saya manfaatkan waktu dengan nonton film, membereskan rumah, dan memasak. Beberapa berhasil tapi ada juga yang gagal. Ketika mencoba resep-resep baru tersebut muncul ide untuk iseng membuat video tutorial memasak Lola’s Cooking. Pilihan menunya yang simpel agar bisa dipraktekkan siapapun yang menonton. Durasi video harus kurang dari 4 menit agar tidak bosan.
Beberapa hasil masakan saya kirim ke teman-teman untuk dicoba dan yang cocok dipasarkan secara online. Dari situlah kemudian saya pelan-pelan belajar bagaimana berbisnis online mengikuti orang-orang lain yang sudah melakukannya lebih dulu. WAG-WAG saya penuh dengan penawaran. Saya pun menemukan jalan keluar untuk karyawan restoran saya. Alhamdulillah.
PH saya harus bertahan. Walau sulit saya berusaha agar karyawan tetap bisa mendapatkan gaji seperti biasanya. Di trimester akhir tahun 2020, saya mendapatkan tawaran untuk membuat dua film pendek sekaligus. Karyawan saya selamat.
Foto: Dok. Pribadi
Namun wabah tetap wabah. Walaupun sudah menandatangani kontrak, membuat film dalam kondisi wabah sangatlah sulit. Banyak aturan baru yang harus dijalani sebelum syuting bisa dijalankan. Satu film dibuat di luar Jakarta karena saat itu Jakarta masih PSBB. Satu lagi di Jakarta setelah pemerintah melonggarkan PSBB.
Ijin dan penerapan prokes membuat semuanya berlangsung lambat. Tes kesehatan, antigen swab, dan karantina untuk semua kru dan pemain harus dilakukan. Itu pun tetap harus bersiap-siap dengan kemungkinan terburuk, misalnya syuting harus ditunda. Tapi kami coba saja melewati semua kesulitan ini. Total kru termasuk para aktor yang bekerja untuk dua film ini sebanyak 50 orang. Di penghujung tahun 2020, kedua film pendek kami keluar hampir bersamaan secara digital yaitu Calon Pengantin dan Riuh.
Film Calon Pengantin bercerita tentang pentingnya kesadaran kita untuk memilih hidup sehat, memahami HIV/AIDS dan bagaimana hidup berdampingan dengan mereka yang ODHA. Saya sebagai produser menggandeng sutradara Salahuddin Siregar dan para aktor muda Tatiana Akman, Revaldo juga Agra Piliang untuk bergabung.
Sementara Film Riuh adalah sebuah ajakan agar selektif memilah informasi media sosial, terutama terkait vaksin COVID-19. Ini film pendek yang bisa berefek panjang dalam keseharian hidup kita. Disini saya bekerja sekaligus sebagai sutradara dan produser. Selain Putri Ayudya, junior saya di Wajah Femina, saya bekerja dengan Ken Zuraida, Maryam Supraba dan Ruth Marini.
Dokter-dokter di sosmed bilang kesehatan mental juga harus dijaga selama wabah. Buatlah hati agar selalu senang. Mudah diucapkan, butuh usaha untuk mencapainya karena perasaan sedang berada dalam situasi yang ‘tidak normal’ memang sulit hilang dari benak. Saya dan teman-teman di kantor berkebun dan memelihara ikan cupang.
Kadang-kadang kami bersepeda bersama mengelilingi kota Jakarta. Setelah melihat sana sini, kami menggagas untuk secara rutin menanam pohon. Bahkan kami sudah mendirikan foundation untuk kegiatan ini. Mudah-mudahan nantinya bisa berguna untuk masyarakat dan lingkungan. Pandemi memang membuat kami sangat kesulitan tapi ternyata tidak bisa membendung kreatvitas. Semoga keadaan segera membaik. (f)
Baca Juga:
Liffi Wongso (Ilustrator): Pandemi Menantang Kewarasan Wanita
Yuni Jie (Desainer Interior) : Selamat Kembali ke Rumah
Topic
#wanitafemina, #wanitabicarapandemi, #film


