Ucita Pohan dan Yanti Parapat, Direktur AXA Financial Indonesia / Foto: NORABagi Ucita Pohan, influencer, penampilan menjadi modal utama yang membuatnya harus banyak mengeluarka uang. Selain itu, untuk keperluan pekerjaan juga, ia kerap sering naik taksi menuju berbagai tempat. “Kalau saya mau menjadi MC misalnya, saya harus naik taksi supaya penampilan tetap rapi,” katanya.
Atas saran seorang teman, ia mulai menghitung pengeluaran transportasi yang ia lakukan dengan taksi. “Setelah dihitung, ternyata pengeluaran transportasi saya sebenarnya bisa dipakai untuk mencicil mobil,” kata Ucita sudah mulai investasi sejak usia 22 tahun ini.
Sejak itu, Ucita mulai lakukan perencanaan keuangan. “Saya menghubungi teman yang bekerja di bank. Dia membantu saya membuat reksa dana untuk DP mobil dan ia selalu mengingatkan untuk menyetor tiap bulan,” jelas wanita berusia 33 tahun ini.
Karena Ucita rajin setorkan uang, kurang dari satu tahun ia sudah bisa membeli mobil. “Dari situ saya sadar bahwa ketika uang dikelola dengan baik dan benar, dijadikan tujuan, kita bisa mencapai apapun yang kita inginkan dari pendapatan yang kita terima berapapun itu. Tinggal bagaimana kita mengaturnya,” ujar Ucita.
Sebagai dasar pengelolaan keungan, Yanti Parapat, Direktur AXA Financial Indonesia memaparkan cara tepat mengelola keuangan. "Formulanya adalah S, I, dan P. S berarti “saving”, I berarti “investment”, dan P adalah “premi proteksi”. Ada perbandingan di antara ketiga komponen tersebut, 50 persen untuk saving, 30 persen untuk investasi, dan 20 persen untuk premi proteksi, " jelasnya.
Saving dimaknai sebagai kebutuhan hidup sehari-hari. Saving di sini berarti 50 persen uang adalah untuk dihabiskan, untuk dinikmati. Sementara 30 persen dikeluarkan untuk instrumen investasi. “Misalnya sebagian di deposito, sebagian di reksa dana. 30 persen ini kalau dihitung sudah bisa hasilkan income buat kita,” jelasnya.
Terakhir, jangan lupa sisihkan 20 persen untuk premi proteksi. “Proteksi ini kan ada biayanya. Jadi serahkan saja. Dengan memberikan biaya ini kepada ahlinya, kita dapat mengelola risiko untuk sesuatu yang tak bisa kita kontrol,” kata Yanti.
Ucita dan Yanti bicara dalam salah satu master class bertema Know You Can: Maximum Investment. Selain konferensi, Indonesia Women’s Forum 2019 memang menghadirkan berbagai master class menarik yang bisa diikuti.
Master class yang dihadiri oleh lebih dari 60 peserta ini berlangsung seru dan interaktif. Salah seorang peserta, Indah Putri merasa terinspirasi dengan master class ini, apalagi dengan perkembangan ekonomi digital yang mendorong masyarakat menjadi konsumtif.
“Kelas semacam ini bagus karena kita diajarkan untuk lebih disiplin dan bisa mengelola keuangan supaya tak terjebak utang yang konsumtif,” ujar Indah. (f)
Prima Sabrina
Editor: Nuri Fajriati
Baca Juga:
Membebaskan Kekuatan Tanpa Batas
Pola Asuh Untuk Maksimalkan Potensi dan Kecerdasan Generasi Alpha
Pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan Bagi Tumbuh Kembang Anak Generasi Alpha
Atas saran seorang teman, ia mulai menghitung pengeluaran transportasi yang ia lakukan dengan taksi. “Setelah dihitung, ternyata pengeluaran transportasi saya sebenarnya bisa dipakai untuk mencicil mobil,” kata Ucita sudah mulai investasi sejak usia 22 tahun ini.
Sejak itu, Ucita mulai lakukan perencanaan keuangan. “Saya menghubungi teman yang bekerja di bank. Dia membantu saya membuat reksa dana untuk DP mobil dan ia selalu mengingatkan untuk menyetor tiap bulan,” jelas wanita berusia 33 tahun ini.
Karena Ucita rajin setorkan uang, kurang dari satu tahun ia sudah bisa membeli mobil. “Dari situ saya sadar bahwa ketika uang dikelola dengan baik dan benar, dijadikan tujuan, kita bisa mencapai apapun yang kita inginkan dari pendapatan yang kita terima berapapun itu. Tinggal bagaimana kita mengaturnya,” ujar Ucita.
Sebagai dasar pengelolaan keungan, Yanti Parapat, Direktur AXA Financial Indonesia memaparkan cara tepat mengelola keuangan. "Formulanya adalah S, I, dan P. S berarti “saving”, I berarti “investment”, dan P adalah “premi proteksi”. Ada perbandingan di antara ketiga komponen tersebut, 50 persen untuk saving, 30 persen untuk investasi, dan 20 persen untuk premi proteksi, " jelasnya.
Saving dimaknai sebagai kebutuhan hidup sehari-hari. Saving di sini berarti 50 persen uang adalah untuk dihabiskan, untuk dinikmati. Sementara 30 persen dikeluarkan untuk instrumen investasi. “Misalnya sebagian di deposito, sebagian di reksa dana. 30 persen ini kalau dihitung sudah bisa hasilkan income buat kita,” jelasnya.
Terakhir, jangan lupa sisihkan 20 persen untuk premi proteksi. “Proteksi ini kan ada biayanya. Jadi serahkan saja. Dengan memberikan biaya ini kepada ahlinya, kita dapat mengelola risiko untuk sesuatu yang tak bisa kita kontrol,” kata Yanti.
Ucita dan Yanti bicara dalam salah satu master class bertema Know You Can: Maximum Investment. Selain konferensi, Indonesia Women’s Forum 2019 memang menghadirkan berbagai master class menarik yang bisa diikuti.
Master class yang dihadiri oleh lebih dari 60 peserta ini berlangsung seru dan interaktif. Salah seorang peserta, Indah Putri merasa terinspirasi dengan master class ini, apalagi dengan perkembangan ekonomi digital yang mendorong masyarakat menjadi konsumtif.
“Kelas semacam ini bagus karena kita diajarkan untuk lebih disiplin dan bisa mengelola keuangan supaya tak terjebak utang yang konsumtif,” ujar Indah. (f)
Prima Sabrina
Editor: Nuri Fajriati
Baca Juga:
Membebaskan Kekuatan Tanpa Batas
Pola Asuh Untuk Maksimalkan Potensi dan Kecerdasan Generasi Alpha
Pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan Bagi Tumbuh Kembang Anak Generasi Alpha
Topic
#iwf, #iwf2019, #IWF19, #IndonesianWomensForum2019, #indonesianwomensforum, #AXAFinancial


