
Foto: Pixabay.com
Merebaknya endemik virus Korona yang bermula dari daratan Cina turut mempengaruhi sentimen pasar. Terlebih, badan kesehatan dunia PBB, WHO, pada akhir Januari lalu, akhirnya menyatakan darurat internasional terkait wabah virus korona yang juga disebut sebagai 2019-nCov ini. Kasus kesehatan dunia ini pun menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup negatif hingga di akhir perdagangan bursa pada Januari 2020.
Peralihan tahun memang selalu menjadi momen yang menarik bagi investor dan pengamat pasar modal. Sentimen window dressing di akhir tahun 2019 dan January Effect setidaknya mampu membuat investor lebih menaruh perhatian ekstra terhadap kinerja emiten-emiten unggulan, khususnya di saham-saham perusahaan blue chips. Ditambah lagi munculnya virus Korona di China.
Di tengah sejumlah isu eksternal yang berkembang di skala global dan regional, khususnya di kawasan Asia, Eropa dan kawasan Asia Tenggara ini, Ricky Rachmatulloh, Managing Director Bareksa Prioritas, meminta agar investor lebih menaruh perhatian dan peka dalam melihat dan menentukan langkah di market.
“Investor bisa tetap stay invested di market namun dengan lebih sensitif dalam mengambil keputusan untuk menentukan alokasi asetnya. Alasannya, saat ini kami juga melihat beberapa korporasi global sudah merilis laporan keuangannya yang terlihat rata-rata sesuai ekspektasi,” tutur Ricky seperti disampaikan dalam rilis yang dikirim kepada femina.
Dilansir dari Bloomberg, dari perusahaan-perusahaan S&P 500 yang telah merilis laporan keuangannya sejauh ini, sekitar 67% perusahaan tersebut telah membukukan laba yang lebih baik dari perkiraan.
Selain itu, dari dalam negeri, kinerja Rupiah terpantau menguat dengan kenaikan signifikan sejak awal tahun. Dua alasan tersebut bisa menjadi alasan kuat bagi investor untuk tetap optimis dan tidak melakukan aksi cut-loss kendati isu regional tengah menunjukkan gejala siaga.
Ricky menyarankan agar investor memilih untuk bertahan di market namun mengambil opsi yang lebih terukur, yakni di produk-produk Reksa Dana Pasar Uang yang dapat digunakan sebagai ‘tempat parkir’ sementara sambal secara bertahap mengambil momentum masuk ke pasar saham atau obligasi jangka menengah dan panjang.
Dalam lingkup transaksi reksa dana, technical correction IHSG dapat dimanfaatkan dengan aksi profit taking atau realokasi aset Reksa Dana Saham ke Pasar Uang atau Pendapatan Tetap. Adapun untuk produk reksa dana lainnya, Ricky juga merekomendasikan produk-produk dengan jangkauan investasi ke pasar global. Ricky menyebutkan, untuk investor yang memiliki aset dalam bentuk Dollar Amerika, saat ini investor dapat memilih reksa dana dengan denominasi USD yang memiliki fokus exposure ke pasar saham Amerika Serikat dan Asia Pasifik. (f)
Baca Juga:
Ini Yang Terjadi Pada Otak dan Tubuh Saat Pusing Memikirkan Uang
Tip Cerdas Investasi Ala Ucita Pohan
Ilmu Berutang Agar Tak Terjerat Pinjol Ilegal
Faunda Liswijayanti
Topic
#corona, #saham, #pasarsaham, #tipinvestasi, #viruskorona, #investasi


