<<< Cerita SebelumnyaYa, segala sesuatu yang sudah berumur biasanya memang kurang menarik, karena dianggap kuno, ketinggalan zaman, dan membosankan. Semua hal. Tak hanya museum, manusia pun demikian. Lihatlah gadis-gadis sekarang! Mereka lebih menyukai pria-pria muda yang masih penuh energi. Sementara, pria-pria tua hanya menanti di pojokan, menunggu satu dari mereka yang tak kebagian pria muda, untuk memungutnya.
Dia pernah mendengar percakapan seperti itu di lift salah satu pusat perbelanjaan. Tiga orang remaja putri, tiga wajah belia dengan mata berbinar, tengah cekikikan, sambil menyedot minuman. Berbincang penuh semangat tentang seorang pengunjung berpe-rut gendut.
“Mau, Sis?” tanya salah satu dari mereka sambil melirik pengunjung berperut gendut yang turun dari lift.
Kedua temannya tertawa.
“Ih… nggaklah! Apa enaknya punya pacar tua? Bisa ikutan tua!”
“Iya… pokoknya enggak banget!”
Mendadak ia merasa sangat tua, sekalipun usianya baru 27 tahun. Hatinya mencelos dan refleks ia pun makin menepi ke sudut lift.
Lagi-lagi pikirannya melantur ke mana-mana. Setelah menyesap secangkir kopi instan untuk membuatnya terjaga, Nicholas pun segera melesat pergi. Saat tiba di lokasi, halaman museum sudah penuh manusia, tak ubahnya arena pasar malam. Ada dua unit mobil patroli, beberapa mobil milik stasiun radio lokal dan koran lokal serta satu mobil milik Unit Pengolah TKP dengan tulisan besar-besar berwarna kuning mencolok.
Beberapa petugas penyidik dibantu anjing pelacak sibuk mengendus ke sana kemari, mencari sesuatu yang bisa dijadikan barang bukti. Sebagian lagi sibuk membungkuk-bungkuk, mengoleskan bubuk sidik jari dan memotret di sana-sini. Lampu blitz dari kamera mereka bekerjapan bak kembang api.
“Pagi, Ndan!” Ipda Sunyoto dari kantor kepolisian setempat, menghampiri, memberi hormat sebelum menjabat tangannya hangat. Sang Ipda lebih senior dari segi usia dan masa kerja. Namun, karena dari sisi kepangkatan lebih tinggi Nicholas, maka mau tak mau dia harus memberikan hormat pada pria yang lebih cocok menjadi anaknya itu.
“Pagi, Pak. Apa yang hilang, Pak?”
“Dua buah patung. Lebih tepatnya, kepala patung, Ndan.”
“Siapa yang mengetahui peristiwa ini kali pertama?”
“Itu, Pak Yadi, Ndan. Dia tukang kebun di museum ini. Tadi pagi, saat hendak membersihkan halaman museum, dia melihat kedua patung di teras museum sudah tak berkepala lagi,” ujar Ipda Sunyoto, menjelaskan. Ia menggerakkan leher ke arah seorang pria yang berdiri dekat mobil patroli, ditemani dua petugas yang sibuk mencatat sesuatu di buku.
“Memangnya patung itu sengaja diletakkan di teras museum?” tanyanya, heran.
Betapa cerobohnya orang-orang ini memperlakukan artefak kuno! Nicholas membatin, kesal.
“Ya. Katanya, memang sejak dulu di situ dan tak pernah terjadi apa-apa.”
Nicholas manggut-manggut, tetap tak mengerti dengan jalan pikiran pengelola museum, yang meletakkan kedua artefak kuno di teras museum tanpa pengawasan dan pengamanan apa pun. Mereka tak bisa menghargai peninggalan kuno, menganggap bahwa benda serupa patung itu tak bakal menarik perhatian orang. Atau, mereka ini memang benar-benar tak mengetahui bahwa benda-benda kuno itu bisa menjadikan seseorang menjadi jutawan mendadak, bila menjualnya ke pasar dunia?
Dari dulu di situ dan tak pernah terjadi apa-apa.
Nicholas menggeleng, merasa geli dengan pola pikir kebanyakan orang, yang selalu menganggap kejahatan tak mungkin menimpa mereka. Padahal, kejahatan acap terjadi karena kelengahan para korban! Saat korban terlena, saat itulah penjahat akan beraksi. Karena itu, benar sekali petuah dari pujanggawan Ranggawarsita. Wong urip iku kudu tansah eling lan waspada. Artinya kurang lebih adalah orang harus senantiasa ingat dan waspada!
“Pagi, Komandan! Tumben turun ke TKP?” sebuah suara menyadarkan lamunannya.
Nicholas menoleh dan menemukan seraut wajah yang sudah tak asing lagi. Wanita itu lagi. Alexandra, reporter dari harian lokal yang cukup ternama, sekaligus dosennya di kelas hukum yang ia ikuti setiap malam. Makin hari ia makin cantik saja.
Hei, kenapa dia jadi begitu perhatian pada Alexandra? Apa, sih, keistimewaan seorang Alexandra? Toh, dia seperti wartawan kebanyakan yang sering ditemuinya di kantor polisi. Hobi mengendus ke sana kemari dan ribut bertanya ini-itu.
Tetapi… oh, tidak! Hati kecilnya yang lain membantah. Dia tak seperti kebanyakan wanita, Nicky! Dia cantik, cerdas, misterius dan telah membiusmu! Ya, rasanya sulit sekali percaya pada penglihatannya setiap malam di kelas hukum yang diikutinya. Di pagi hari, ia hanyalah seorang Alexandra yang tampil apa adanya. Hanya mengenakan celana jins, kemeja putih, dan sepatu kets.
Tapi… di malam hari? Dia menjelma menjadi sosok ibu dosen cantik yang memakai high heels, mengenakan setelan apik dan bicara berapi-api, menularkan ilmunya kepada para mahasiswa yang hanya melongo mengagumi sang dosen. Sungguh transformasi yang mengagumkan, seperti perubahan seorang upik abu yang kotor dan berjelaga menjadi Cinderella yang begitu bersinar.
“Sudah menemukan sesuatu?” tanya Nicholas, susah payah menghapus gambaran seorang dosen cantik dari kepalanya.
Sejak kapan dia jadi begitu perhatian pada Alexandra?
Alex mengangkat bahu tak acuh. “Tergantung dari sudut pandang mana pertanyaan itu. Kalau dari sudut pandang seorang reporter, kurasa apa yang kutemukan pagi ini sudah cukup layak disajikan kepada para pembaca. Tetapi, bila dari sudut pandang penyidik, yah...,” ia mengangkat bahu lagi.
Wajahnya menunjukkan ketidakpuasan. Tanpa menunggu kelanjutan kalimat itu pun, Nicholas sudah dapat meraba maksudnya.
“Sudah bicara dengan Pak Yadi?”
“Sudah. Kau mau aku melaporkan temuanku padamu? Maaf, tidak ada ketentuan hukum yang mengatur seorang reporter harus melaporkan temuannya di lapangan kepada penyidik, kecuali ada surat perintah yang memintaku bersaksi,” kata Alex, sambil tersenyum.
“Aku hanya bertanya, bukan menyuruhmu!” balas Nicholas, dengan nada lembut.
“Ya, sudah. Sebaiknya, kau tanyai Pak Yadi selagi ingatannya masih segar!”
Penulis: Astrid Prihatini WD


