Fiction
Tarian Merpati [5]

15 Jun 2012


<<<<  Cerita Sebelumnya

Pria itu begitu misterius. Sekejap ia menghampiriku, sekejap kemudian berpaling dariku.

Val menunduk. Selaput kaca tipis beriak di bola matanya.
“Siapa yang memutuskan hubungan itu? Aku atau dia?”

Val menggeleng, “Tiada seorang pun di antara kalian.”

“Jadi…?”

Val berdiri gelisah. Dengan canggung, dia berjalan ke jendela, lalu berbalik lagi ke arah ranjang. Bagiku, dia seperti bandul yang bergoyang, menyentuh masa kini dan masa lalu.

“Aku nggak bisa, Rey?”

“Mengapa? Kamu bilang, kamu mau membantu memulihkan ingatanku, ‘kan?”

“Maaf, aku nggak bisa. Maaf, Rey.”

Kembali, sosoknya buru-buru menghilang di balik pintu. Aku tahu, ada sesuatu yang ditutup rapat-rapat oleh setiap orang. Dan aku tahu, sesuatu itu adalah mimpi burukku.

From: reynanda To: Adrian Bagaspati
Subject : Apa kabar?

Adrian, kenangan tentangmu mulai tersingkap. Kau pasti mengetahui keadaanku kini. Tetaplah menghubungiku. Aku perlu mengenali kembali segala sesuatu tentang kita, agar aku menemukan diriku lagi. Seperti apakah kau kini? Samakah dengan sosokmu yang dulu kukenal? Aku mulai dapat mengingat tempat-tempat yang kita kunjungi: bakso Yanto, sekretariat himpunan, perpustakaan, dan jalan-jalan yang kita lalui ketika demonstrasi. Peristiwa-peristiwa lain berpendar-pendar, kadang-kadang samar kadang-kadang menghilang. Namun, ada satu yang tak pernah hilang, sebuah debar di sini apabila mengingatmu. Di mana kamu berada kini, Adri? Beri aku jawaban.

Rey.

Send. Send message into outbox? Yes. Send. Klik.

To: reynanda@mailworld.com From: Adrian Bagaspati
Subject : Re : Apa kabar?

Aku senang kau mulai mengingatku, Rey. Kenangan kita memang terlampau berharga untuk dilupakan. Semangatmu mengingatkanku pada Reyku yang dulu. Tetaplah begitu, Rey!
Kau ingin mengetahui di mana aku? Apakah ruang dan waktu masih memiliki makna bagimu, Rey? Aku lebih senang mengetahui bahwa aku selalu ada dalam hatimu. Aku selalu berdoa untukmu.

Adri.

Aku selalu ingat, ada sesuatu dalam diriku yang selalu menari. Aku suka menari sejak kecil. Bahkan, kata ibuku, sejak masih berupa janin. Aku yakin, seorang penari hidup dalam diriku. Penari dan pemusik. Karena aku begitu mencintai tari dan musik. Tarian tidak akan ada tanpa musik, dan keindahan musik ditampilkan secara nyata oleh tarian. Tari dan musik adalah hasrat purba, bagian dari kerinduan manusia untuk selaras dengan alam. Tetapi, tarian dan musik bukanlah profesi yang dapat dibaktikan kepada orang lain, tutur ibuku suatu kali. Tidak seperti dokter, insinyur, ahli hukum, atau pendidik. Tentu saja aku membantah. Tari dan musik, memberi jiwa dalam hidupku. Tentu saja kau boleh melakukannya, Ibu terus berkeras, tetapi profesimu sesungguhnya adalah insinyur, dokter, ahli hukum, politik, atau apa saja. Lagi pula, otakmu cerdas, tambahnya, sesuai untuk jurusan ilmu-limu pasti, katanya ketika itu.

Aku mencintai tari, musik, dan ibuku. Jadi, kuturuti usulnya untuk memilih jurusan teknik. Tentu saja, dengan mata sembap karena tangis semalam. Aku diajari untuk selalu mengambil jalan tengah. Maka, aku kuliah di jurusan teknik, sambil memberikan kursus piano dan menciptakan eksperimen tari untuk anak-anak. Semuanya bergulir begitu saja, hingga aku bertemu dengan Adrian. Dia memberi makna pada kegiatan kuliahku yang hampa. Dia mengajarkanku seni mencinta apa pun.

Kurasa aku mencintainya dengan ruang yang lapang dalam hatiku, bukan dengan gairah yang membara. Kami saling mencintai secara dewasa. Kami saling mengerti, memberi dan menjaga. Mungkin tubuh wanita terlalu keramat baginya, sehingga dia jarang menyentuh dan membelaiku. Dia mencintai tubuh yang perawan, dan menghargainya. Mungkin juga dia terlalu sibuk, dengan serentetan urusan kuliah, rapat, advokasi, dan demonstrasi.

Sampai di situ, dan aku tak ingat apa-apa. Semuanya terhapus oleh sebuah trauma. Trauma yang memisahkan aku dan dia, trauma yang tak kukenali.

From: Reynanda To: Restati Widodo
Subject: Tentang Adrian

Hai, Ma! Rey baik-baik saja. Rey malah sedang takjub saat ini. Mama percaya nggak, Rey dapat mengenali Adrian kembali! Ingatan itu datang begitu saja. Rey jadi ingat saat jalan-jalan, pergi ke beberapa tempat, dan beberapa tempat di kampus (Rey baru mampu mengingat beberapa bagian, belum semuanya). Betapa bahagianya menyadari bahwa Rey pernah menjadi seorang kekasih,. Rey jadi merasa sangat berharga!

Karena kami pernah begitu dekat, Mama pasti mengenalnya (masa Mama jadi ikutan lupa?). Apa saja yang Mama ingat tentang Rey? Bagi cerita, ya, Ma…. Agar debar di dada ini bertahan lebih lama.

Sayang, Adrian membuat Rey bingung. Dia masih menghubungi Rey hingga kini, memberi semangat dan dukungan. Tetapi, ketika bertemu di Amsterdam kemarin, dia seperti tidak mengenali Rey. Rey nggak mengerti.
Mama pasti tahu, mengapa Rey berpisah dengannya. Rey tunggu jawaban Mama.

Rey

From: Restati Widodo To : Reynanda
Subject : Re : Tentang Adrian

Syukurlah, ingatanmu berangsur-angsur pulih. Tentang Adrian, bagaimana Mama bisa mengingat satu nama di antara begitu banyak teman laki-lakimu, Rey? Yah… Adrian, Mama memang beberapa kali bertemu dengannya (bukankah dia jarang ‘jalan’ bersamamu?). Tetapi, kalau bertemu dengannya di sana, hmm… Mama rasa tidak mungkin, Rey. Tidak mungkin. Mama yakin itu. Mungkin kau salah ingat?

Mama

Salah ingat? Yah, memang mudah sekali menuduhku salah ingat. Mengapa bahkan Mama menyembunyikan dia dariku?

“Kurasa mamamu benar, Rey,” suara Valerie tiba-tiba terdengar di belakangku. Aku berpaling. Valerie, masih berpakaian jubah mandi, dengan wangi bunga dan buah tropis meruap dari rambutnya yang basah. Hairdryer di tangannya siap dinyalakan. Entah berapa lama dia berdiri di sana.

“Apanya yang benar?”

“Bahwa kau tidak mungkin bertemu Adrian di sini.”

“Mengapa Mama bisa begitu yakin?”

Valerie mengangkat bahunya, “Kau tahu, perasaan seorang ibu sangat peka.”

From : Reynanda To : Adrian Bagaspati
Subject : Re: Apa kabar?

Adrian, tiba-tiba aku teringat sebuah rumah bercat hijau muda. Pekarangannya asri dengan aneka bunga bogenvil merah, kuning, dan jingga. Sebuah bangku taman kayu dengan hiasan ukiran besi hitam terletak di sudut, di samping kolam kecil dengan air terjun yang gemercik pelan. Kita pernah duduk-duduk di bangku itu suatu sore. Bukan hanya kita berdua. Ada beberapa orang lagi… tapi aku tak ingat wajah-wajah mereka. Lalu pohon palem berbatang merah. Ya, palem merah, berdiri di sudut yang lain. Ingatkah kau, Adri? Entah mengapa, aku merasa rumah itu begitu istimewa.

Rey

From : Adrian Bagaspati To: Reynanda
Subject : Re: apa kabar?

Rey, rumahmu yang bercat hijau di daerah pluit itu. Aku juga mengingatnya. Di rumah itu pertama kali aku kau perkenalkan dengan Mama, seorang wanita cerdas yang hangat dan ramah. Kenangan indah di sore itu, pasti ketika aku memberimu selarik puisi, untuk pertama kali. Kau ingat? Kau menyediakan rumahmu sore itu untuk rapat evaluasi badan eksekutif, sebuah rumah yang tenang, lapang, dan ramah. Aku datang mendahului yang lain, agar bisa memberimu puisi itu. Kau hanya menunduk, dan begitu tersipu-sipu. Namun, aku tahu, kau sangat bahagia. Masihkah kau simpan puisi itu di hatimu?

Adri

Aku hanya menyimpan sedikit debar di antara kolam ikan dan palem merah itu, tetapi aku tak ingat lagi puisi itu. Maafkan aku, Adri.

“Val, tolong ceritakan padaku tentang rumah kami di Pluit itu.”

Val berpaling, tersentak kaget, hingga buku di tangannya terjatuh. ”Mengapa?”

“Hanya ingin tahu saja.”

“Kamu mulai mengingatnya?”

“Ya. Aku teringat kertas dinding di kamarku yang bermotif kerang dan ombak bergulung-gulung. Kau tahu, aku sangat menyukai pantai. Pada malam hari, gulungan ombak itu serasa hidup dan menari. Indah sekali, disinari lampu kamar yang hijau redup. Kau tahu, pohon mangga di dekat beranda belakang? Aku sering duduk di antara dahan-dahannya, lalu membaca buku hingga tertidur.”

“Hei, ingatanmu semakin jeli saja.”

“Ya. Aku berusaha setiap hari, mengingat-ingat apa saja. Bantulah aku mendapatkan semua kenangan itu, Val, please…!”

Val termangu, matanya berkelana menjelajah setiap ruang kosong. Tatapannya tampak bingung.

“Ehm, entahlah Rey. Rasanya aku tak ingat sesuatu pun. Kami jarang pulang ke Jakarta, ‘kan?”

“Jangan bohong! Rumah baru kami di Bintaro memang belum pernah kau kunjungi, tetapi rumah kami di Pluit selalu kau kunjungi setiap kali ke Jakarta, ‘kan? Aku yakin kau ingat sesuatu.”

“Ehm… aku hanya ingat halamannya yang rindang, dan taman-tamannya yang terawat. Kami selalu mengidamkan punya rumah berhalaman luas, bukan apartemen seperti di sini. Lalu… apa lagi, ya?”

“Cuma itu? Apakah kamu tidak ingat ayunan kayu di taman belakang, sofa bambu yang empuk di beranda belakang tempat tidur-tiduran di siang hari? Sebenarnya aku lebih suka kamarku di rumah Pluit. Rumah baru di Bintaro itu… hmm, aku tidak tahu, mengapa Papa menjual rumah itu dan pindah ke Bintaro.”

Aku hanya seperti melakukan perjalanan jauh ke sebuah tempat yang asing. Dan ketika aku pulang, Papa dan Mama mengantarku ke rumah baru di Bintaro itu.

“Sudahlah, jangan terlalu sentimental. Bukankah kata Greg, kamu harus terus berlatih?”

Suara Val terdengar semakin sayup, karena telah berganti suara angin. Angin membelai mataku yang terpejam, dan melimpahiku dengan cahaya. Hmmm… aku melihat rumah asri bercat hijau itu, beranda belakangnya berlantai keramik bermotif kayu. Di sekelilingnya bertabur batu-batu apung putih dan abu-abu. Beringin putih berdiri angkuh di dekat ayunan, berkat sentuhan tangan dingin Mama. Biasanya, denting jernih piano terdengar hingga ke taman ini. Piano itu, berdiri di samping tangga. Ada sedikit ruangan di bawah tangga itu dulu, yang sempurna untuk bersembunyi. Tentu saja sebelum Papa membuat lemari untuk buku-bukunya.




Penulis: Sofie Dewayani
(Pemenang Penghargaan Sayembara Cerber Femina 2002)




 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?