<< cerita sebelumnyaVivi memberanikan diri berkunjung ke apartemen Tiyo. Dengan perasaan malu, benci, muak, ia menyerahkan kegadisan yang selama ini dijaganya utuh kepada produser tua itu. Tanpa merasakan kenikmatan apa pun, Vivi mengikuti semua petunjuk yang diarahkan Tiyo, yang tidak memedulikan rintihan kesakitan dan isak tangis Vivi. Tangannya bergerilya dengan liar. Vivi hanya bisa pasrah.
“Pak Tiyo, saya perlu kejelasan. Saya tidak mau pengorbanan ini tidak ada timbal baliknya!”
“Maksudnya?”
“Anda jangan pura-pura bodoh. Saya mau melakukan ini secara kontrak selama 6 bulan. Selebihnya, saya tidak mau!” ancam Vivi. Rencana ini memang sudah dipikirnya matang-matang, meski harus ditebus dengan harga mahal.
Selama seminggu ia sudah merancang jerat apa yang pantas untuk Tiyo. Kalau ia hanya akan mendapat peran utama, dengan menjadi istri simpanan Tiyo, tentunya kerugian ada pada dirinya. Untuk itu, ia sudah menyiapkan selembar kertas kontrak bermeterai.
“Tidak masalah. Semua bisa diatur!” suara Tiyo meledek.
“Selama saya jadi istri simpanan Anda, saya tidak mau tinggal serumah. Hanya sesekali saja boleh bertemu!” lanjut Vivi.
“Seminggu 3 kali?”
“Saya tidak bisa memastikan. Yang pasti, saya tidak mau hubungan ini sampai tercium wartawan dan orang lain. Dan, yang terakhir, saya minta bagian setengah dari harta Anda untuk jadi milik saya. Bagaimana?” tantang Vivi, sambil menatap Tiyo tajam.
Tiyo yang sedang dimabuk cinta hanya mengangguk. Semua yang dikatakan Vivi tidak ada yang dibantahnya.
“Baik, itu berarti Anda menyetujui kesepakatkan di antara kita. Sekarang, Anda harus menandatangani surat ini!” Vivi pun mengajukan surat yang telah diketiknya rapi.
“Mengapa harus seresmi ini, sih?”
“Saya tidak mau Anda mengelak dari kenyataan. Jangan lupa, surat ini sah!”
Vivi senang, karena Tiyo mau menandatangani surat itu, tanpa protes.
Produser tua yang sedang kasmaran itu benar-benar memenuhi janjinya. Tanpa pikir panjang, ia memberikan setengah harta miliknya untuk Vivi. Ia juga memberikan peran utama pada Vivi. Pengorbanan Vivi tidak sia-sia. Ia berhasil menjadi artis papan atas dan mendapat kontrak eksklusif dari sebuah rumah produksi terkenal.
Dulu, ia tinggal di kontrakan kecil dan sumpek. Sekarang, ia mampu membeli rumah di kawasan elite Jakarta. Ia pun tak perlu berdesakan lagi di bus umum untuk mengikuti casting dari satu rumah produksi ke rumah produksi lain. Kini, ia sudah memiliki mobil keluaran terbaru yang nyaman.
Selama setengah tahun, tidak ada satu orang pun yang mencium hubungan gelapnya dengan Tiyo. Vivi benar-benar menutup rapat rahasia dirinya. Setiap hari ia menghitung, kapan perjanjiannya akan berakhir. Belenggu itu sangat menyiksa.
Ketika perjanjian itu berakhir, ia begitu bahagia. Batinnya berulang kali berontak. Sempat ada sesal di hatinya. Mengapa ia bisa merendahkan dirinya demi sebuah cita-cita menjadi artis terkenal? Ia benar-benar malu menatap dirinya sendiri. Untuk itu, semua rahasia dirinya ia tutup rapat. Tidak ada yang tahu, termasuk ibunya dan wartawan.
Satu lagi rahasia diri, yang tidak diketahui siapa pun, termasuk Tiyo: ia pernah melahirkan anak. Saat perjanjian menjadi istri simpanan Tiyo berakhir, Vivi sedang hamil 3 bulan. Ia sengaja merahasiakan kehamilannya itu. Karena, jika Tiyo tahu, perjanjian bisa batal. Untuk menyembunyikan kehamilannya, Vivi terpaksa berbohong pada ibunya. Ia mengatakan ada syuting di luar kota selama berbulan-bulan.
Untunglah, semua rencana yang telah dirancangnya rapi, berjalan dengan baik. Vivi melahirkan bayi perempuannya di negara tetangga, Singapura. Tidak ada seorang pun yang tahu, termasuk pers. Vivi lalu membawa bidadari kecilnya, Thalia, kembali ke Indonesia. Tanpa proses yang menyulitkan, Vivi menitipkan Thalia kecil di sebuah panti asuhan.
Awalnya, ia sempat berpikir untuk melakukan aborsi. Namun, niat itu dibatalkan. Ia takut, dosanya akan makin berat, jika ia melakukan pembunuhan terhadap janin yang dikandungnya.
Sekarang, Vivi merasa kehidupannya begitu hampa. Ia tersisih dari ingar bingar dunia hiburan yang telah membesarkan namanya. Begitu cepat! Rasanya, baru kemarin namanya terukir indah di media cetak sebagai artis paling favorit.
Sekarang, ia merasa begitu terpojok. Semua media, baik cetak maupun elektronik, menyorot sisi kelam kehidupan keluarganya. Namun, ia tidak bisa mengelak. Semua yang diungkapkan media, benar adanya. Ia memang anak seorang pembunuh. Hidup ini seperti roda pedati. Kadang-kadang di atas, namun tak jarang juga berada di bawah. Dan, saat ini Vivi sedang berada di landasan terbawah. Entah kapan ia bisa memutarnya kembali untuk bisa sampai ke atas. Hanya waktu dan situasilah yang dapat mengubahnya.
“Hai, Sayang, apa kabar? Kapan pulang ke Indonesia?” suara Vivi terdengar bahagia sekali, ketika menerima telepon dari kekasihnya, Troy.
“Sabar, dong! Mungkin bulan depan aku pulang. Bagaimana, Mama sehat?” tanya Troy, menanyakan keadaan Henny.
“Hmm, sehat,” Vivi berdusta.
“Kok, jawabnya ragu, sih? Ada yang disembunyikan, ya?” tanya Troy.
“Ah, tidak. Semua baik-baik saja. Honey, jangan lupa bawakan cokelat, ya,” ujar Vivi, mengalihkan pembicaraan. Ia tidak mau hubungannya yang sedang tidak harmonis dengan ibunya terbaca oleh Troy.
Walaupun selama ini Troy belum mengenal Henny secara langsung, hanya melalui telepon, hubungan mereka sudah cukup akrab. Setiap kali menelepon, Troy menyempatkan diri untuk bicara dengan Henny.
Awalnya, Henny kurang setuju pada hubungan Vivi dan Troy.
“Apakah tidak ada pria lain selain dia, Vi?”
“Kenapa Ma?”
“Mama khawatir, kamu hanya dipermainkan. Apalagi, jarak kalian berjauhan sehingga jarang bertemu!”
“Mama tidak usah khawatir. Saya yakin, Troy memiliki pribadi yang baik. Sepertinya, ia tidak seburuk yang Mama bayangkan,” bela Vivi.
“Dari mana kamu tahu?”
“Dari e-mail yang ia kirim. Selain cara berbicaranya santun, tidak ada rayuan gombal.”
“Ya, semoga saja ia memang baik,” kata Henny, berharap.
Kisah asmara Vivi dan Troy sudah berjalan hampir setahun. Yang mengetahuinya hanya Henny. Pada Troy, Vivi tidak memperkenalkan diri sebagai artis. Ia mengaku, dirinya adalah seorang mahasiswi S-2. Lagi pula, ia yakin, dirinya hanya dikenal di Indonesia. Di negeri Kincir Angin sana, siapalah yang mengenal Vivi Natali. Mereka berkenalan melalui sebuah klub sahabat pena di internet.
“Mama mana, Vi?”
“Hmm, Mama....,” Vivi kebingungan hendak menjawab apa.
”Kenapa bingung? Sebenarnya, ada apa? Sejak tadi, setiap kali aku bertanya tentang Mama, pasti kamu kebingungan. Sedang bertengkar, ya?”
“Enggak, kok! Hubungan kami baik-baik saja. Hanya, Mama sedang kurang enak badan. Sekarang sedang tidur. Atau, mau aku bangunkan?” Vivi mengarang cerita bohong. Harapannya, Troy tidak meminta untuk berbicara dengan ibunya.
“Tidak usah. Sampaikan saja salamku pada beliau. Semoga cepat sembuh. Sudah 3 kali aku berkunjung, tapi tidak pernah bertemu. Mudah-mudahan bulan depan aku bisa bertemu Mama,” kata Troy.
Setelah saling mengucapkan salam perpisahan, tiba-tiba Vivi merasa dadanya sesak. Tangisan penyesalan atas sikap kasar yang dilakukannya selama ini pada sang bunda kembali teringat. Bagaimana bisa ia mendiamkan ibunya berhari-hari?
“Ma, saya minta maaf atas sikap kasar saya kemarin. Ma, saya kangen. Tapi, di mana Mama sekarang? Di mana?” ucapnya, pelan.
Oh, Tuhan, bantu aku menemukan Mama. Lindungi Mama. Jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi pada dirinya. Tuhan, ampuni aku yang telah berdosa padanya. Izinkan aku bertemu dengannya!
Penulis : Dennise


