<<< Cerita SebelumnyaSeorang Bocah Menghilang Misterius di Gunung Kawi.
Headline koran lokal itu menarik perhatian Lily. Baru kemarin ia berada di Gunung Kawi, dan hari ini ia baru mengetahui sebuah peristiwa besar terjadi di sana. Lily merasa telah menjelajahi seluruh kawasan itu kemarin, namun ia sama sekali tidak merasakan sesuatu yang janggal.
Lily mengamati dengan seksama wajah bocah yang dinyatakan hilang secara misterius itu. Seorang bocah laki-laki yang tampan dengan mata bulatnya. Alisnya tebal dan kulit yang berwarna cokelat tanah. Lily yakin, bila bocah itu telah tumbuh menjadi pria dewasa, ia pastilah pria yang sangat tampan dan gagah.
Lily merasa wajah bocah itu mengingatkannya pada wajah sese-orang yang dikenalnya. Namun, Lily tidak mampu mengingatnya.
Sebuah pesan pendek masuk ke handphone Lily.
‘Ly, sekalian kamu liput hilangnya seorang anak secara misterius di Gunung Kawi. Sepertinya menarik.’ SMS dari Mas Tony.
‘Tapi Mas, besok pagi saya sudah harus balik ke Jakarta.‘
Lily memencet tombol send di handphone-nya.
‘Tetap tinggal dulu. Proyek kamu sepertinya diperpanjang. Biro Bali kekurangan orang. Kamu mungkin agak lama di sana. Kamu tidak keberatan kan? Pos kamu di politik sementara diisi wartawan baru!’
Tinggal lebih lama di Bali? Ia tidak tahu harus gembira atau kesal dengan kebijakan ini. Di Jakarta ia punya banyak teman nongkrong, tapi ia juga tidak punya kekasih. Bosan juga di kota yang selalu berderap begitu cepat. Dua pekan di Bali, Lily merasakan ritme hidupnya berubah. Hari-hari berjalan lebih lambat dan ia bisa mengirup udara lebih pelan. Mungkin memang saatnya ia pindah kota. Saatnya ia mencari kekasih di kota baru.
Kekasih baru di Bali? Lily hanya terkekeh kecil dalam hati. Guyon dalam benak itu seketika surut saat ia ingat tugasnya meliput ke Gunung Kawi. Meliput bocah yang hilang misterius? Bulu kuduk Lily meremang. Setiap kali ke kawasan Candi Tebing itu, Lily merasa sebagian jiwanya tersedot. Ada rasa tak nyaman dan cemas yang seketika mengisi benaknya.
Dan, bocah itu…. Ya ampun…. Lily menepuk dahinya dengan keras, sampai ia sendiri merasa kesakitan. Lily ingat tentang bocah yang hilang itu. Bocah itulah yang hampir bertabrakan dengannya, ketika pertama kali meliput di Gunung Kawi. Bocah itulah yang berlarian dengan seorang bocah perempuan di belakangnya. Ya, betul. Lily memang masih dapat mengingat wajah bocah itu, karena wajah bocah itu hanya beberapa senti saja dari wajahnya.
Perasaan Lily terasa makin runyam. Namun, ia juga penasaran. Bagaimana mungkin bocah yang terlihat begitu gembira dan sehat menghilang begitu saja? Tawa riang kedua bocah itu bahkan masih menggema di telinganya.
Lily membaca ulang seluruh isi berita di koran lokal itu. Ia ingin mengerti betul duduk permasalahannya sebelum meliput ke sana.
I Wayan Raka (11 tahun) adalah anak yatim piatu yang tinggal di kawasan wisata Gunung Kawi. Ia bersama adik perempuannya, Ni Luh Made Naka (11 tahun), sehari-harinya bekerja sebagai pemahat kayu. Hasil pahatan mereka kemudian dijual kepada para wisatawan yang berkunjung ke Gunung Kawi. Sampai saat ini, polisi belum menemukan satu jejak pun tentang hilangnya Raka. Satu-satunya informasi yang diperoleh polisi adalah terakhir kali Raka bermain di salah satu pelataran Candi Tebing Gunung Kawi. Dan, di tempat tersebut tidak ditemukan satu pun bukti yang bisa menjadi petunjuk untuk mengetahui penyebab hilangnya Raka.
Ke Gunung Kawi lagi. Lily merasa, terlalu banyak kebetulan yang selalu memaksanya kembali. Bukannya tak suka tempat ini. Tapi, ya, itu, bawah sadar Lily berkata, kompleks candi ini menyimpan banyak rahasia. Entah apa.
Lily melihat banyak orang berkerumun di rumah mungil di tengah persawahan itu. Mereka berpakaian adat Bali. Memakai selempang kain batik di kepala, kain kotak-kotak hitam putih di kaki. Semua pria. Sebagian memanggul gamelan dan bersiap-siap di de-pan rumah. Sebagian lain membawa kentongan atau obor. Hari telah beranjak senja. Mereka sepertinya sedang bersiap-siap berjalan dalam kelompok, namun seperti sedang menunggu sesuatu yang belum siap di dalam rumah.
Lily memasuki rumah dengan ragu. Di dalam rumah rupanya juga penuh. Para wanita berkumpul di sini dengan berbagai rangkaian janur di tangan. Dupa mengepul memberi aroma magis. Lily melihat seorang wanita tua, dengan mata bengkak, duduk terenyak di salah satu balai-balai.
“Anak itu begitu baik. Ke mana dia!” Hanya itu kata yang keluar dari mulut wanita tua itu, yang ternyata adalah neneknya.
“Adiknya sampai menangis terus. Dua anak kembar itu memang susah dipisahkan. Sampai sekarang Luh Nake, belum mau makan. Dadong (saya) jadi khawatir sekali.”
Wanita tua itu terus bercerita tentang kedua cucunya, sambil sesekali mengusap air mata. Lily hanya mengangguk-angguk, sambil sesekali menyambung pertanyaan. Raka menghilang di sore hari, mungkin beberapa jam saja setelah hampir bertabrakan dengan Lily.
Sudah dua hari berturut-turut pencarian dilakukan oleh masyarakat Banjar Penake untuk berusaha menemukan Raka. Masyarakat memukulkan gong dan kentongan untuk mengusir makhluk halus, yang mungkin menyembunyikan Raka. Namun, hasilnya nihil. Anak itu seperti hilang tertelan kabut perbukitan yang turun di sore hari.
Lily melihat bocah berkucir itu berjongkok di pinggir sungai. Sungai dengan bebatuan yang membelah gugusan candi menjadi dua bagian. Gambar itu sepertinya tidak asing. Bocah itu seperti pernah dilihatnya dalam posisi yang sama sebelumnya.
Lily bergerak mendekat, melangkahkan sepatunya, menginjak rerumputan yang basah. Hantaman sepatu Lily ke tanah dan rerum-putan yang terpaksa menyibak, membuat bocah itu cepat mengetahui kehadirannya. Naka menoleh, memandang Lily sejenak, kemudian kembali khusyuk dengan aktivitas sebelumnya. Lily tahu akan sulit mengajak Naka bicara. Ia sekilas telah melihat sembapnya mata anak itu.
Dengan hati-hati Lily menyapa, mencoba mengajak anak itu bicara. Dugaan Lily meleset. Dengan lelehan air di matanya, anak itu menjawab setiap pertanyaan yang Lily ajukan. Dengan suara sengau ia ceritakan tentang Raka. Bagaimana anak itu hilang sore itu.
“Siang itu, saat tiang (saya) dan Bli Raka saling mengejar, kami sedang menuju ke pelataran candi dengan lima gugusan. Bli Raka mengolok-olok tiang ditaksir seorang teman sekolah. Tiang gemas dan mengejarnya. Kami bermain-main sebentar di pelataran itu, sampai tiang lihat, sudah jam dua siang. Tiang harus membantu Dadong (nenek), karena hari itu adalah Kajeng Kliwon. Tiang harus membantunya membuat sesajen. Tiang mengajak Bli Raka pulang, namun dia menolak. Dia masih ingin main di situ dengan membawa serulingnya. Dia juga membawa sepotong kayu yang sudah dipahat sebagian.
“Tiang sudah memperingatkannya, Kak Lily. Hari itu Kajeng Kliwon. Jangan main di sembarang tempat, apalagi hari sudah makin sore. Sore adalah waktunya remang-remang, saat kekuatan hitam mencari mangsa. Tapi, Bli Raka berkeras. Siang itu, tiang lihat suasana ramai. Rombongan turis ada di banyak tempat. Beberapa turis laki-laki berambut pirang sedang berada di pelataran tempat Bli Raka memahat. Mereka sedang berteduh dan bercakap-cakap.
“Tiang sangat kaget, bagaimana Bli Raka bisa hilang, padahal Gunung Kawi dari dulu sangat aman. Tidak pernah ada penjahat yang berkeliaran. Apakah betul Bli Raka disembunyikan makhluk halus? Tiang harus segera menemukannya, Kak. Karena itu tiap hari tiang membuat surat untuknya, yang tiang hanyutkan melalui Sungai Pakerisan. Semoga Bli Raka membacanya agar segera bisa menemukan jalan pulang.”
Surat? Lily mengerti dan sekaligus ingat. Salah satu gambar Naka kemarin terekam kameranya. Anak itu rupanya sedang menghanyutkan salah satu surat yang ditujukan kepada Raka. Lily bisa melihat cekung lingkar mata Naka. Sepotong perasaan Lily ikut hanyut dalam duka Naka. Namun, Lily tidak hendak menghibur-nya. Anak itu pasti sudah mendengar segudang kata-kata bijak. Lily yakin itu tidak banyak manfaatnya.
Lily yang merasakan perutnya mulai keroncongan, mengajak Naka makan, sekaligus berkeliling dengan mobilnya. Lily tidak menyangka anak itu langsung mengiyakan, saat ia menambahi dengan embel-embel, sambil berusaha menemukan Raka. Mereka pun berkeliling sekitar kawasan Kecamatan Tampak Siring. Naka banyak bercerita tentang masa-masa menyenangkan yang ia alami bersama Raka. Ba-gaimana Raka menjadi kakak yang selalu melindungi saat kedua-nya menjadi sebatang kara. Kepelikan telah banyak dialami Naka di usianya yang masih sangat kecil. Baru sebelas tahun. Naka belum lagi menamatkan sekolah dasarnya.
I Wayan Raka selalu meniup serulingnya dan memperdengar-kan suara merdunya ke telinga Luh Naka. Ia gemar bercerita dengan suara yang terdengar serak. Naka selalu menganggap Raka adalah idolanya. Bila punya kekasih kelak, ia ingin dia seperti Raka. Yang membelai kepalanya bila malam tiba. Yang pagi-pagi telah membangunkannya dengan sepotong pisang goreng, walaupun Na-ka tidak tahu apakah Raka telah mengambil bagiannya. Bersama Raka, Naka tidak pernah kelaparan. Walaupun saat orang tuanya masih hidup, mereka sudah miskin. Apalagi, tangan-tangan kecil itu sekarang harus menjadi tulang punggung hidup mereka. Mereka menjual pahatan-pahatan yang mereka hasilkan untuk bisa terus bersekolah.
Naka ingat betul, saat kedua orang tuanya meninggal. Meme-Bapa (bapak-ibu) terlindas truk, sepulang berjualan pahatan di Denpasar. Sepekan lamanya, ia dan Raka seperti orang linglung. Mereka tak tahu harus berbuat apa. Malam-malam dilalui Naka sambil menahan lapar. Hanya cerita Rakalah yang membuatnya tertidur. Bila Naka tak juga kunjung bisa terlelap, Raka mulai meniup serulingnya. Alunannya yang mengambang di udara mengantar Naka terlelap. Suara seruling yang panjang dan lirih selalu membuat Naka mudah diantar ke alam mimpinya. Naka selalu merasa seruling itu bercerita, cerita yang tidak sama setiap malamnya. Cerita yang membuat Naka hanyut tiap mendengarnya.
Suatu kali, Naka ingin melihat wajah kakaknya yang sedang meniup seruling. Naka duduk di pangkuan Raka dan memandangnya dari bawah dagu. Naka merasa Raka sangat tampan dengan dagu cokelat dan hidungnya yang panjang. Ia setampan pangeran, putra mahkota para raja. Namun, di pipi cokelat itu ada dua tetes air mengalir yang berebut mencapai ujung bibir Raka.
Saat Naka menanyainya, Raka hanya bergegas mengusapnya dan mengatakan hanya menikmati suara seruling itu.
“Seruling ini bagi Bli adalah Meme-Bapa yang menyanyikan gending untuk menidurkan kita berdua. Agar tertidur pulas dan mimpi indah.” Begitu jawab Bli Raka saat itu.
Saat yang paling disukai Naka adalah bila Raka mengajaknya bermain di pelataran gugusan lima candi di Gunung Kawi. Mereka tak pernah bosan bermain di sana. Di sanalah Raka selalu bercerita tentang kisah raja-raja yang memimpin Bali di masa lalu. Tentang keluarga kerajaan dari Dinasti Warmadewa yang dimakamkan di sana. Raka akan bercerita tentang sebuah puri yang kini didiami putra ketiga Raja Udayana, Anak Wungsu. Puri dengan ratusan dayang-dayang, ribuan prajurit yang menjaga kerajaan dari ancaman musuh.
Naka kadangkala melongok ke dalam deretan candi makam keluarga kerajaan itu. Ia ingin mengintip, sungguhkah Raja dan para dayang-dayangnya berdiam di sana. Sekali waktu ia ingin bermain ke sana. Raka menanggapi keinginan Naka hanya dengan tersenyum.
Penulis: Ni Komang Ariani


