Pantai Lovina, September 1994Sesosok tubuh terempas dalam genangan berpasir. Pantai Bali Utara yang sesungguhnya berombak tenang seketika gempar. Para nelayan yang tadinya bergegas menarik perahunya untuk menjala ikan, menghentikan langkah. Remang subuh tidak menghalangi mata mereka yang awas, untuk mengetahui sosok tubuh yang tak dikenal itu.
Tubuh itu adalah tubuh seorang bocah berkulit cokelat. Seluruh wajah dan tubuhnya bersemu kebiru-biruan. Ada darah yang mengental di sudut bibir dan kakinya. Tampaknya tubuh mungil itu telah dihantam dengan semena-mena. Tubuh itu pasti telah menjadi mayat, jauh sebelum hantaman terakhir menghajarnya.
Para nelayan menggunakan sauhnya untuk mengangkat tubuh itu. Mengangkatnya dari genangan air. Wajah tanpa dosa itu perlahan-lahan dibersihkan dari lumpur dan pasir. Terdengar gumaman bersuara dengung. Nada-nada prihatin. Nada-nada marah. Nada-nada khawatir. Anak siapakah gerangan yang bernasib demikian malang? Mudah-mudahan bukan sanak saudara.
Kulkul (kentongan) seketika dipukul bertalu-talu. Bergelombang warga pesisir pantai berdatangan. Suara dan nada terus saja bergema tanpa putus-putusnya. Seperti tak habis-habisnya kata-kata untuk mempertanyakan. Barangkali karena pemandangan itu terlalu tak mengenakkan hati. Terlalu melukai jiwa. Terlalu menyedot rasa ingin tahu.
Saat tak putus-putusnya pertanyaan, dua orang pria berseragam polisi tergopoh-gopoh datang. Sejenak keduanya memeriksa mayat bocah itu.
“Kami harus membawanya ke rumah sakit untuk diotopsi,” kata salah satu polisi yang berkumis tebal kepada nelayan yang masih melongo.
Mereka masih tetap bergeming, ketika dua polisi itu perlahan mengangkut mayat itu dengan mobil pick up. Sebuah terpal digunakan untuk menutupi tubuh si bocah. Kerumunan baru bubar setelah mobil pick up itu membentuk sebuah titik di kejauhan. Terdengar suara denging tawon, saat para nelayan itu berjalan menuju perahunya masing-masing.
Tampak Siring, Januari 1994
Siang memanggang bumi, saat Lily tiba di kawasan wisata Candi Tebing Gunung Kawi, Gianyar. Lily mengirup napas dalam-dalam, merasakan aroma segar di paru-parunya. Aroma tanah terasa sangat nikmat. Barangkali semalam telah turun hujan ringan di tempat ini. Hampir dua pekan berada di Bali, Lily selalu melakukan ritual yang sama sebelum memulai liputannya.
Mengunjungi Candi Tebing Gunung Kawi membuat Lily merasa dibawa ke masa lalu. Candi yang dipahat di tebing-tebing itu terlihat begitu misterius dan angkuh. Lily sudah merasakan aromanya, ketika ia berjalan menuruni ratusan undakan menuju ke bagian dalam candi. Lily berjalan dengan langkah tenang, sambil menenteng kameranya. Senandung kecil terdengar dari bibir mungilnya. Turis-turis yang berwisata kelihatan cukup ramai. Dari yang berambut pirang sampai dengan yang berkulit kuning.
Liputan yang harus dilakukan Lily kali ini tergolong ringan, lebih seperti jalan-jalan. Sangat kontras dengan liputan rutinnya selama lima tahun terakhir. Selama lima tahun lamanya ia berkutat dengan liku-liku peristiwa politik di Jakarta. Selama itu, Lily hampir tidak pernah mengambil cuti tahunannya. Lily juga jarang sakit. Jadi, dialah yang paling sering muncul di kantor, bahkan saat libur. Redaktur koran Memoar, Mas Tony, sering geleng-geleng kepala melihat Lily.
Lily enggan pulang beberapa tahun ini. Terutama setelah putus dari Rafa, kekasihnya. Nama yang masih terlalu dalam tertancap di benak Lily. Rafa meninggalkannya demi sebuah cinta lain. Alasannya, karena Lily terlalu sibuk dengan dunianya sebagai wartawan.
“Aku bukan pacarmu, Ly. Koran itulah pacarmu,” kata Rafa.
Lily hanya ternganga dan kehilangan kata-kata saat itu. Benarkah ia telah begitu sibuk, sampai-sampai Rafa berkata begitu. Ah, sudahlah, barangkali itu hanya alasan Rafa untuk meninggalkannya. Lily mengembuskan napasnya kuat-kuat, berusaha membuang sakit hati yang masih tersisa di dadanya. Ia berusaha kembali memfokuskan diri pada liputannya.
Pekan lalu, tiba-tiba saja Mas Tony memanggilnya dan menyodorkan tiket pulang pergi Jakarta-Bali.
“Buat kamu, liputan di sana. Proyek promosi wisata, sekaligus jalan-jalan. Aku takut, suatu saat kamu digiring ke rumah sakit jiwa, kalau tidak pernah libur,” katanyanyengir. Lily cemberut.
Enak saja redaktur satu itu menuduhnya akan gila. Tapi, tidak apa-apalah. Lily senang mendapat kesempatan ini. Dengan begitu ia bisa jalan-jalan gratis dengan liputan yang tergolong ringan. Lily hanya harus meliput sejumlah tempat wisata yang mulai berkembang, namun belum seramai tempat-tempat wisata yang sudah top. Ada sepuluh objek wisata yang harus ia liput, tersebar di berbagai kabupaten di Bali. Lily harus membuat tulisan ringan mengenai tempat-tempat wisata itu, ditambah foto-foto kawasan wisata tersebut. Gunung Kawi adalah tempat wisata terakhir yang harus ia liput.
Lily sedang melangkah perlahan menuruni anak tangga yang berkelok-kelok ke bawah, saat dari belakang terdengar suara orang berlari yang makin dekat. Dua langkah kaki yang saling berkejaran. Ketika menoleh, Lily terkesiap, seorang bocah laki-laki hampir saja menabraknya. Wajah bocah itu tinggal beberapa senti saja dari wajahnya. Lily merutuk dalam hati pada kenakalan bocah itu. Untunglah, bocah itu sigap melompat ke samping, kemudian meneruskan la-rinya. Jika tidak, pastinya Lily sudah jatuh berguling-guling.
Lily cepat-cepat menyingkir, karena beberapa saat setelah si bocah laki-laki, seorang bocah perempuan berlari kencang mengejarnya. Wajah si bocah perempuan tampak memerah dan terengah. Kedua bocah itu tentulah tinggal di kawasan ini. Jika tidak, tidak mungkin balapan lari di tangga seterjal ini. Lily meneruskan langkah, sambil terus merapatkan tubuhnya ke bagian pinggir. Ia khawatir ada gerombolan bocah lain yang berlarian di sana.
“Bagus, Ly, fotomu asyik-asyik. Tapi, kayaknya masih ada yang kurang?” kata Mas Noch, redakturnya, lewat telepon.
“Yang mana Mas?”
“Ada beberapa gambar bagus yang kamu dapat dari Gunung Kawi. Tapi, beberapa di antaranya buram, karena kameranya bergerak. Kamu bisa ambil ulang?”
“Bukankah masih banyak foto yang lain, dari objek wisata lain, masih belum cukup?”
“Aku suka sekali beberapa foto itu. Foto itu akan jadi foto utama di halaman depan koran akhir pekan. Masih ada waktu, kamu bisa ambil ulang?”
“Bisa, Mas. Besok pagi saya ke sana lagi.”
Keesokan harinya, Lily hanya membawa satu ransel kecil ke Candi Tebing Gunung Kawi. Maklum, hanya beberapa foto yang ia perlukan untuk memenuhi permintaan Mas Noch. Dengan bersiul, Lily mengamati kawasan itu. Indah dan nyaman. Juga seperti mengandung aroma magis. Pahatan-pahatan yang demikian tua masih terpatri di tebing-tebing. Pahatan yang kabarnya dibuat pada abad 11 Masehi. Ratusan tahun menjadi saksi sejarah peradaban manusia.
Lily masih bersiul, saat kameranya menjepret beberapa bagian di kawasan candi tebing itu. Lily berpikir untuk mengambil gambar lebih banyak dari yang diminta redakturnya. Menarik juga buat koleksi pribadi.
Ia bergegas memacu mobilnya ke kantor, ingin segera menyelesaikan tugas Mas Noch, agar bisa segera menyelesaikan seluruh tulisannya tentang semua kawasan wisata. Sambil menyelesaikan tulisannya, Lily meneliti satu per satu foto hasil jepretannya. Puas ia akan hasil jepretannya kali ini. Mas Noch pasti memujinya kali ini.
Di foto kelima belas, Lily mengamati foto sungai Pakerisan yang tampak agak seram. Sungai Pakerisan adalah sungai yang membelah Candi Tebing Gunung Kawi menjadi dua bagian, yaitu gugusan candi bagian barat dan candi bagian timur. Batu-batu besar bergelimpangan begitu saja sepanjang sungai. Air sungai terpaksa mengalah harus meliuk-liuk di antara batu-batu besar itu. Pohon beringin yang rimbun, berebut menjuntaikan sulurnya ke sungai membuat sungai makin gelap, walaupun di siang hari. Belum lagi rumpun pohon pisang yang tumbuh di sepanjang sungai.
Di tengah suasana seramnya, ada foto seorang bocah berjongkok di pinggir sungai. Tangannya memegang benda kecil berbentuk memanjang. Rambutnya dikucir dua dan diikat tinggi. Lily menekan tombol zoom di keyboard komputernya. Bocah itu ternyata seorang gadis kecil berkulit cokelat. Kacamata mungil bertengger di matanya. Lily tidak bisa melihat lebih jelas lagi, karena bocah itu terlalu jauh dari fokus kameranya. Siapa bocah itu, Lily merasa pernah melihatnya. Tapi, ia betul-betul lupa di mana.
Penulis: Ni Komang Ariani


